Seri 1: Purnama Pertama

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Peluit Kapal Keberangkatan

Matahari sore baru saja merayap turun di balik cakrawala Pelabuhan Panjang, memantulkan bias jingga kemerahan di atas permukaan air laut yang tenang namun menyimpan gelora di bawahnya. Aroma khas air asin, bau belerang dari cerobong pabrik sekitar, bercampur dengan debu batu bara dan keringat ratusan manusia berjejal di dermaga. Suara bising mesin truk kontainer, teriakan para kuli bongkar muat, dan lolongan peluit panjang kapal penumpang berukuran raksasa saling bersahutan memecah udara, menciptakan simfoni kekacauan yang tak berkesudahan.

Di tengah kerumunan padat manusia yang saling berdesakan, membawa kardus-kardus besar, koper tua berserabut, dan karung-karung goni berisi impian masa depan, berdiri dua sosok manusia yang terisolasi dalam keheningan batin mereka sendiri. Aris berdiri terpaku, jemarinya menggenggam erat tali ransel kanvasnya yang telah usang di bagian sudut. Di depannya, Retno menunduk, menatap ujung sepatu kainnya yang telah berdebu, seolah ada rahasia besar di sana yang enggan ia bagi dengan dunia luar.

"Kau benar-benar harus pergi hari ini, Aris?" Suara Retno bergetar tipis, hampir-hampir tertelan oleh deru mesin diesel kapal yang sedang melakukan pemanasan akhir. Angin laut mendadak terasa begitu dingin menerpa tengkuk mereka, membawa serta rasa kehilangan yang telah lama menggelayut di awan pikiran keduanya.

Aris mengangkat wajahnya, menatap garis rahang Retno yang menegang. Ada genangan air mata yang mati-matian ditahan di balik kelopak mata perempuan itu. "Retno, kita sudah membahas ini berulang kali. Tidak ada lagi sisa pilihan bagi kita di tanah ini. Pekerjaan di pabrik sudah gulung tikar, tanah garapan orang tuaku sudah berpindah tangan untuk melunasi utang pengobatan, dan kesempatan di ibu kota sana adalah satu-satunya pelita yang tersisa untuk kita hidup layak."

"Tapi rasanya terlalu cepat... atau mungkin aku yang terlalu pengecut untuk menerima kenyataan bahwa jarak akan segera memisahkan kita sejauh ribuan mil," balas Retno lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mengangkat kepalanya, menatap manik mata Aris yang menyiratkan kepedihan yang sama mendalamnya. "Bagaimana jika di sana kau menemukan kehidupan baru? Bagaimana jika kau melupakanku di antara hiruk-pikuk kota besar yang kejam itu?"

Aris menggeleng pelan, tangannya terulur untuk menggenggam jemari Retno yang terasa dingin. "Dengarkan aku, Retno. Lihat mataku. Aku tidak akan pernah melupakan tempat di mana hatiku tertinggal. Aku pergi demi kita, demi sebuah kepastian yang selama ini hanya menjadi angan-angan kosong saat kita duduk berdua di bawah teras rumah bambu itu."

"Kepastian sering kali dibayar dengan harga yang terlalu mahal, Aris. Terkadang, harga itu adalah kebersamaan kita sendiri," bisik Retno, air mata akhirnya lolos menetes membasahi pipinya yang tirus.

"Jangan bicara begitu. Waktu kita tidak banyak. Sebentar lagi gerbang boarding akan ditutup, dan aku harus naik ke atas dek sebelum titian besi itu ditarik," ucap Aris dengan nada memohon, mencoba menepis keraguan yang kian mencengkeram dadanya sendiri.

Suasana di sekitar mereka seolah berhenti bergerak. Para penumpang lain yang lalu-lalang membawa barang bawaan tampak seperti bayangan buram yang lewat begitu saja. Bagi Aris dan Retno, dunia kini menyempit menjadi sepetak ruang kecil di atas lantai semen dermaga yang kasar, dibatasi oleh waktu yang terus mendesak lewat detak jam tangan yang berputar semakin cepat.

"Aku takut, Aris," aku Retno jujur, suaranya nyaris berbisik di antara deru angin pantai. "Aku takut kesepian di kota kecil ini tanpamu. Setiap sudut jalan di sini akan mengingatkanku padamu. Pada tawa kita, pada pertengkaran kecil kita, pada mimpi-mimpi sore yang kita bangun bersama."

"Aku juga takut, Retno," balas Aris dengan suara parau. "Tetapi ketakutan terbesar dalam hidupku adalah melihatmu terus menderita di sini, hidup dalam ketidakpastian tanpa ujung. Aku ingin kelak, ketika aku kembali, aku bisa berdiri tegak di hadapan keluargamu tanpa rasa malu."

Retno tersenyum pahit, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Keluargamu dan keluargaku sudah menyerah pada keadaan, Aris. Hanya kita berdua yang masih mencoba melawan arus. Tapi mampukah kita bertahan melawan jarak?"

"Kita harus mampu," tegas Aris. "Jarak hanyalah angka di atas peta. Selama niat kita lurus, laut selat sunda ini tidak akan mampu menghapus apa yang sudah kita ukir di dalam hati."

❖ ❖ ❖

Suara pengeras suara pelabuhan tiba-tiba berdengking nyaring, memanggil para penumpang kapal tujuan Jakarta untuk segera memasuki area pemeriksaan tiket terakhir. Suara robotik itu memecah keheningan emosional yang sempat merayap di antara Aris dan Retno. Jantung Aris berdetak lebih kencang, seirama dengan langkah kaki para penumpang lain yang mulai bergerak mendesak ke arah pintu gerbang besi bercat hijau pudar.

"Mereka sudah memanggil," ujar Aris pelan, tatapannya beralih dari wajah Retno ke arah antrean panjang di depan sana.

Retno mengangguk pelan, namun cengkeraman tangannya pada lengan jaket Aris justru semakin mengerat, seolah menolak taktik waktu yang memaksa mereka untuk berpisah. "Sebentar lagi... berikan aku waktu beberapa detik lagi untuk mengingat lekuk wajahmu, Aris."

Lihat selengkapnya