Seri 1: Purnama Pertama

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Perjalanan Menuju Dunia Asing

Bus antarkota yang ditumpangi Arkan mengerang tua, mendengking setiap kali pedal rem diinjak oleh pengemudi yang tampak kelelahan. Udara di dalam kabin terasa pengap, bercampur antara aroma minyak angin, keringat puluhan penumpang, dan bau khas jok kulit sintetis yang telah pecah-pecah dimakan usia. Di luar jendela, lanskap pedesaan perlahan-lahan lenyap, digantikan oleh deretan bangunan beton yang semakin padat dan langit kelabu yang tertutup debu kota metropolitan.

Arkan merapatkan jaket denimnya yang sudah mulai pudar warna aslinya. Jari-jarinya menggenggam erat tali ransel kanvas lusuh yang terletak di pangkuannya. Di dalam ransel itu, tersimpan seluruh sisa tabungannya, sebuah ijazah SMA berbalut plastik transparan, dan sebuah amplop cokelat berisi surat rekomendasi dari pamannya—satu-satunya tiket harapan untuk mengubah nasib keluarga di kampung.

"Sebentar lagi kita masuk terminal utama, Dek. Mau turun di mana?" tanya kondektur bus sambil mencolek bahu Arkan dengan gulungan tiket kertas.

Arkan mengerjap, mencoba mengusir rasa penat yang merambati tengkuknya setelah perjalanan dua belas jam penuh. "Terminal Rajabasa, Pak. Apakah masih jauh?"

"Sepuluh menit lagi kalau jalanan tidak macet. Siapkan barang-barangmu, jangan sampai ada yang tertinggal," jawab kondektur itu ramah sebelum kembali berjalan menyusuri lorong bus yang sempit, menagih ongkos dari penumpang lain.

Jantung Arkan berdegup lebih kencang. Ia menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Kota ini menyambutnya bukan dengan senyuman, melainkan dengan kepulan asap hitam dari knalpot truk kontainer dan deru suara klakson yang bersahutan. Ini adalah dunia baru, sebuah dimensi asing yang selama ini hanya ia saksikan melalui layar televisi tabung di ruang tamu rumahnya yang beralaskan tanah.

Apakah aku mampu bertahan di sini? Pertanyaan itu berkelebat di benaknya, menghadirkan rasa nyeri yang asing di dada. Namun, bayangan wajah ibunya yang tersenyum tegar di ambang pintu rumah saat ia berangkat tadi pagi langsung melenyapkan keraguan tersebut. Ia tidak punya pilihan selain maju.

Bus akhirnya tersendat-sendat memasuki kawasan terminal yang hiruk-pikuk. Ratusan manusia lalu-lalang seperti semut yang terganggusarang nya. Ada suara teriakan calo tiket, suara musik dangdut dari warung pinggir jalan yang memekakkan telinga, dan bau debu jalanan yang menyengat hidung.

Arkan melangkah turun dari bus. Kakinya sempat gemetar ketika pertama kali menjejakkan telapak kaki di atas aspal terminal yang panas menyengat. Ransel di punggungnya terasa berkali-kali lipat lebih berat.

"Cari ojek, Mas? Tujuan mana?" seorang pria paruh baya berjaket kulit sintetis lusuh tiba-tiba menghadang jalannya, menawarkan jasa dengan senyuman yang menyisakan gigi kecoklatan.

"Tidak, terima kasih, Pak. Saya cari angkutan umum saja," jawab Arkan sopan, berusaha menghindari tatapan menyelidik dari pria tersebut.

"Angkutan umum susah siang-siang begini, Mas. Mari sayaantar, dijamin murah dan cepat," paksa pria itu sambil meraih tali ransel Arkan.

Arkan menarik kembali tasnya dengan sigap. "Tidak usah, sungguh. Saya mau cari halte di depan sana."

Melihat ketegasan di mata pemuda itu, sang calo mendengus kesal lalu berlalu mencari mangsa lain. Arkan menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat melonjak. Ia melangkah keluar dari area terminal, menembus terik matahari yang membakar kulit kepala, bersiap menghadapi labirin raksasa bernama kota besar.

❖ ❖ ❖

Langkah Arkan terhenti di trotoar beton yang retak. Di hadapannya membentang jalan raya empat jalur yang dipadati kendaraan bermotor tanpa henti. Asap knalpot mengepul pekat, membuat matanya perih. Ia merasa begitu kecil, bagaikan sebutir pasir di tengah pantai yang luas. Alamat yang tertera di secarik kertas robek di saku celananya terasa semakin abstrak. Ia harus mencapai kawasan industri di ujung timur kota sebelum sore menjelang, tetapi ia bahkan tidak tahu harus naik angkutan nomor berapa.

"Bingung ya, Mas?" sebuah suara lembut namun tegas menyapa dari sampingnya.

Arkan menoleh. Seorang perempuan muda seusianya, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan membawa tas selempang kain, berdiri sambil tersenyum ramah. Di tangannya tergenggam segelas es teh plastik yang masih berembun.

"Ah, iya. Maaf, saya sedang mencari alamat pabrik tekstil di Jalan Diponegoro. Apakah mbak tahu jalur angkutannya?" tanya Arkan, merasa lega karena ada seseorang yang sudi diajak bicara di tengah ketidakpastian ini.

"Jalan Diponegoro? Wah, kalau dari sini kamu harus naik angkot warna hijau dua kali sambung. Turun di perempatan lampu merah, lalu ganti yang warna biru," jelas perempuan itu sambil menunjuk ke arah seberang jalan. "Kamu baru pertama kali ke kota ini ya? Kelihatan dari cara kamu memegang tas."

Arkan tersenyum kikuk, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Kelihatan sekali ya? Iya, saya baru turun dari bus dari kampung."

"Namaku Maya," ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan. "Jangan terlalu tegang begitu. Kota ini memang kejam buat pendatang yang penakut, tapi kalau kamu tahu celahnya, kota ini cukup ramah."

Arkan menyambut uluran tangan itu singkat. "Arkan."

"Nah, Arkan, dengar saranku. Jangan pernah terlihat bingung terlalu lama di pinggir jalan raya seperti ini. Banyak preman terminal atau calo yang suka memanfaatkan pendatang baru yang linglung," tutur Maya memperingatkan dengan nada serius.

Sebelum Arkan sempat menjawab, suara klakson bus kota yang melintas membuyarkan konsentrasi mereka. Debu jalanan berterbangan, menampar wajah Arkan. Jepitan kenyataan mulai mencekik lehernya; ia sadar bahwa bertahan hidup di sini bukan hanya soal kerja keras, melainkan soal kewaspadaan yang tidak boleh kendur sedetik pun.

Lihat selengkapnya