Seri 1: Purnama Pertama

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Rumah Sewa yang Suny

Suara ketukan sepatu pantofel milik Arkan menggema di sepanjang koridor lantai dua rumah petak itu. Udara malam terasa pengap, bercampur dengan aroma debu tebal dan sisa cat dinding yang belum sepenuhnya kering. Di tangan kanannya, sebuah koper kain berwarna hitam legam berukuran sedang terasa berat, menyeret sebelah bahunya yang sudah pegal sejak perjalanan kereta malam tadi.

"Nomor empat belas... Ah, ini dia," gumam Arkan pelan, napasnya sedikit terengah-engah setelah menaiki tangga kayu yang berderit di setiap injakan.

Ia merogoh saku celananya, mencari anak kunci kuningan berukuran kecil yang menggantung di ujung gantungan plastik merah. Setelah memutar anak kunci itu dua kali ke arah kiri, terdengar bunyi klik yang nyaring di tengah kesunyian malam. Pintu kayu berukuran sempit itu terbuka, menampakkan ruangan berukuran sekitar tiga kali empat meter yang akan menjadi tempat perlindungannya selama merantau di kota besar ini.

Arkan melangkah masuk, lalu menekan saklar lampu di dekat kusen pintu.

Bohlam kuning berwatt kecil langsung berpijar redup, memancarkan cahaya kekuningan yang membuat sudut-sudut ruangan tampak temaram.

Ia meletakkan kopernya di lantai semen plesteran yang dingin. Tidak ada keramik lantai yang mewah, hanya hamparan semen abu-abu yang disapu bersih, meski di beberapa sudut masih tertinggal butiran pasir halus. Di tengah ruangan, sebuah kasur busa tipis berbalut kain motif bunga-bunga kusam tergelar begitu saja tanpa alas ranjang. Di sampingnya, sebuah meja kayu kecil berkaki tiga berdiri pincang dengan ganjalan potongan kardus bekas di salah satu kakinya.

"Akhirnya sampai juga," bisik Arkan pada dirinya sendiri, mencoba mengusir rasa penat yang merayap di rongga dadanya.

Ia menarik napas panjang, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tipis tersebut. Suara decitan per kasur yang memprotes berat badannya langsung memenuhi ruangan sunyi itu. Arkan menatap langit-langit kamar yang dihiasi noda kecokelatan akibat rembesan air hujan dari atap lantai atas. Sunyi malam di kota ini terasa begitu asing, jauh berbeda dengan suasana kampung halamannya yang selalu diramaikan oleh suara jangkrik, deru angin malam, dan sesekali gonggongan anjing tetangga.

Di sini, suara yang terdengar hanyalah deru kendaraan bermotor dari kejauhan yang melintas di jalan raya utama, serta suara tetesan air keran dari kamar mandi bersama di ujung koridor.

Tok... tok... tok.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan namun tegas terdengar dari arah pintu kamar sebelah. Arkan yang tadinya memejamkan mata langsung tersentak bangun. Ia menoleh ke arah pintu kayu kamarnya dengan kening berkerut.

"Siapa malam-malam begini?" gumamnya penasaran.

Arkan bangkit dari kasurnya, berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara, lalu membuka pintu selebar setengah badan. Di luar, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut hampir memutih seluruhnya. Pria itu mengenakan kaos oblong putih kumal dan celana pendek kain kotak-kotak. Di tangannya, ia memegang sebuah gelas plastik berisi air putih hangat yang mengepulkan uap tipis.

"Kamu penghuni baru kamar nomor empat belas itu, ya?" tanya pria paruh baya tersebut dengan suara serak, namun bernada ramah.

"Ah, benar, Pak. Saya Arkan baru datang tadi malam... eh, maksudnya sore tadi naik kereta," jawab Arkan cepat, sedikit salah tingkah karena merasa canggung.

"Panggil saja Pak Broto. Saya tinggal di kamar ujung, nomor sembilan," ujar pria itu sambil tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi yang mulai tanggal. "Biasanya anak-anak muda yang baru datang dari kampung kaget sama suasana malam di sini. Sunyi, tapi kadang banyak suara-suara aneh kalau sudah lewat pukul dua belas malam. Makanya, ini saya bawakan air hangat biar tenggorokanmu tidak kering."

Arkan menerima gelas plastik itu dengan kedua tangan. Telapak tangannya langsung merasakan kehangatan yang menjalar. "Wah, terima kasih banyak, Pak Broto. Repot-repot malam begini."

"Tidak apa-apa. Sesama perantau harus saling jaga. Oh ya, jangan terlalu malam kalau mau keluar lorong depan. Warung kopi Bu Siti sudah tutup sejak jam sepuluh tadi," pesan Pak Broto sambil menepuk pelan bahu Arkan.

"Baik, Pak. Terima kasih sekali lagi infonya."

"Sama-sama. Selamat beristirahat, Arkan."

Pak Broto berbalik badan, lalu melangkah pelan meninggalkan koridor yang hanya diterangi oleh satu lampu bohlam kuning di dekat tangga. Arkan menutup kembali pintunya, menguncinya rapat-rapat dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya di balik daun pintu kayu tersebut. Kehangatan air di dalam gelas plastik itu seolah menjadi satu-satunya hal yang terasa nyata di tempat asing ini.

Ia berjalan kembali ke dekat meja kayu, meletakkan gelas itu dengan hati-hati, lalu membuka ransel hitamnya untuk mengeluarkan beberapa lembar pakaian dan sebuah bingkai foto berukuran kecil bergambar ibunya di kampung.

"Ibu, Arkan sudah sampai di kosan," ucap Arkan pelan sambil mengusap kaca bingkai foto tersebut menggunakan ibu jarinya.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang melelahkan bagi Arkan. Pagi hingga sore hari dihabiskannya untuk berjalan kaki menyusuri trotoar kota yang panas, mendatangi satu kantor ke kantor lainnya untuk memasukkan berkas lamaran pekerjaan. Sepatu pantofelnya yang baru dibeli tiga hari sebelum keberangkatan kini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keausan di bagian sol bawahnya.

Namun, yang paling menguji ketahanan mental Arkan bukanlah lelahnya fisik saat mencari kerja, melainkan kesunyian yang menyergap setiap kali ia kembali ke rumah sewa itu menjelang magrib.

Cklek.

Arkan mendorong pintu kamar nomor empat belas dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menenteng sebungkus nasi bungkus berlapis kertas cokelat dari warung sebelah. Bau minyak sayur dan sambal terasi langsung tercium begitu ia melangkah masuk ke dalam kamar yang pengap.

Ia meletakkan bungkus nasi di atas meja kayu berkaki tiga, lalu melepas kemeja kerjanya yang basah oleh keringat. Udara di dalam kamar terasa terperangkap, membuat dadanya terasa sesak. Arkan lantas berjalan menuju jendela kecil berjeruji besi yang menghadap langsung ke tembok tinggi milik rumah tetangga sebelah.

Ia mendorong kaca nako jendela itu selebar mungkin, berharap ada angin malam yang masuk untuk mendinginkan suhu kamar. Namun, yang masuk justru aroma lembap tanah basah dan suara bisikan-bisikan samar dari lantai bawah.

"Arkan..."

Sebuah suara lirih tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian kamar.

Arkan langsung menoleh ke arah sudut ruangan dekat pintu kamar mandi dalam. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada gulungan kabel rol listrik dan sebuah ember plastik kosong berwarna hijau terang.

"Ah, perasaan saya saja mungkin. Terlalu banyak pikiran karena seharian ditolak perusahaan percetakan itu," gumam Arkan, mencoba menepis rasa bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang.

Ia kembali ke meja kayu, membuka bungkusan nasi, lalu mulai menyuap makan malamnya dalam diam. Di tengah suapan ketiga, ia mendengar suara ketukan dari dinding sebelah kamarnya. Ketukan itu berirama ritmis: tiga kali ketukan cepat, dua kali ketukan lambat.

Arkan menghentikan kunyahannya. Ia meletakkan sendok plastiknya ke atas piring kertas.

Tok... tok... tok... tok... tok.

Lihat selengkapnya