Udara Palembang pada sore hari berembus hangat, membawa aroma uap air dari Sungai Musi yang luas dan bergemercik tenang di bawah naungan Jembatan Ampera. Samaira berdiri di beranda lantai dua rumah kayunya yang menghadap langsung ke arah sungai. Di tangannya, sehelai syal wol berwarna biru tua dengan rajutan yang sedikit longgar di bagian ujungnya digenggam erat. Syal itu bukan sekadar pelindung dari angin malam; benda itu adalah sisa-sisa terakhir dari keberadaan Arkan di dunia ini—sebuah jangkar kenangan yang menahan Samaira agar tidak hanyut dalam kepedihan yang teramat sangat.
"Sam, apa kau tidak ingin turun? Bibi menyiapkan segelas teh hangat dan gulo punci kesukaanmu," suara lembut Nenek Halimah terdengar dari balik pintu kayu berukir. Nenek Halimah adalah orang tua yang merawat Samaira sejak ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Palembang setelah kepergian Arkan.
Samaira menoleh perlahan, menyembunyikan genangan air mata di sudut matanya. "Sebentar lagi, Bi. Samaira masih ingin menikmati angin sore di sini."
"Jangan terlalu lama melamun, Nak. Angin sungai tidak baik untuk kesehatanmu jika kau terus-menerus mengenakan kesedihan itu sebagai pakaian sehari-harimu," nasihat Nenek Halimah penuh kelembutan sebelum langkah kakinya perlahan menjauh, membiarkan Samaira kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Kenangan tentang Arkan berputar kembali di kepala Samaira bagaikan sebuah film lama yang diputar tanpa henti. Pertemuan pertama mereka di sebuah kedai kopi kecil di Bandung, gelak tawa Arkan ketika secangkir kopi tumpah di atas kemeja putihnya, hingga janji-janji sederhana yang mereka buat di bawah naungan senja. Arkan adalah pria yang penuh dengan kejutan, tetapi juga menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia ceritakan sepenuhnya kepada Samaira sebelum kecelakaan itu merenggut nyawanya.
Samaira mendekatkan syal biru itu ke wajahnya, menghirup aroma yang perlahan mulai memudar—aroma kayu manis dan tembakau ringan yang selalu melekat pada diri Arkan.
"Kau berjanji akan mengunjungiku di Palembang saat musim hujan tiba, Arkan," bisik Samaira pelan pada angin sore. "Tetapi mengapa kau justru pergi ke tempat yang tidak bisa kuhampiri?"
Di atas meja kecil di samping kursi goyang tempat ia duduk, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak diam. Amplop itu dikirimkan oleh kantor tempat Arkan bekerja seminggu yang lalu, berisi barang-barang pribadi milik Arkan yang tertinggal di laci kantornya. Samaira belum memiliki keberanian yang cukup untuk membuka seluruh isinya, karena ia tahu, setiap lembar kertas atau benda di dalam amplop itu akan menjadi belati tajam yang merobek kembali luka yang nyaris menutup.
Namun, rasa penasaran sering kali berjalan berdampingan dengan rasa sakit. Samaira meletakkan syal biru itu secara perlahan di atas kursi, lalu meraih amplop cokelat tersebut. Jari-jarinya sedikit bergetar ketika ia merobek bagian atas amplop. Sebuah buku catatan kecil berSampul kulit sintetis hitam jatuh ke pangkuannya, disusul oleh beberapa lembar foto polaroid lama.
Ia mengambil salah satu foto polaroid tersebut. Foto itu memperlihatkan Arkan sedang berdiri di depan sebuah bangunan tua di sudut kota Palembang—tempat yang sangat asing bagi Samaira, meskipun ia lahir dan dibesarkan di kota ini. Di balik foto tersebut, tertulis sebuah alamat dengan tulisan tangan Arkan yang rapi: Jalan Seguntang Lorong Sepakat No. 12, cari kunci yang hilang di balik jendela tua.
Samaira mengerutkan keningnya. Apa maksud dari tulisan itu? Mengapa Arkan menyelidiki sebuah tempat di Palembang tanpa pernah menceritakannya kepada Samaira, padahal mereka tinggal bersama di Bandung selama bertahun-tahun?
"Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku, Arkan?" gumam Samaira, menatap foto itu dengan sejuta tanda tanya yang mulai berkecamuk di dalam dadanya.
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, matahari bersinar terik, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan Sungai Musi yang padat oleh aktivitas perahu ketek dan kapal barang. Samaira memutuskan untuk melangkah keluar rumah, membawa serta alamat misterius yang ia temukan di dalam amplop peninggalan Arkan. Ia menolak ajakan Nenek Halimah untuk diantar menggunakan becak; ia ingin berjalan kaki, merasakan denyut nadi kota Palembang yang dulu sangat akrab, namun kini terasa begitu asing di tengah pencariannya.
Langkah Samaira membawanya memasuki kawasan Bukit Siguntang, sebuah daerah yang dikenal tenang dan sarat akan sejarah masa lalu. Pepohonan besar merindangi jalanan setapak, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas tanah yang kering. Sesuai dengan petunjuk di balik foto polaroid, ia mencari Jalan Seguntang Lorong Sepakat.
Setelah bertanya kepada beberapa warga setempat yang sedang duduk di bawah pohon asam, Samaira akhirnya menemukan lorong sempit yang dimaksud. Lorong itu diapit oleh dinding-dinding rumah tua bercat putih yang mulai mengelupas dan ditumbuhi lumut hijau. Suasana di tempat itu begitu sepi, kontras dengan keriuhan pasar di tepi sungai.
Nomor 12 berada di ujung lorong, sebuah rumah panggung kayu berarsitektur tradisional Limas yang tampak sudah lama tidak berpenghuni. Pintunya tertutup rapat, dan jendelanya dipenuhi debu tebal.
Samaira berdiri di depan tangga kayu rumah tersebut, merasakan debar jantungnya yang semakin kencang. Ia tahu, langkah yang ia ambil hari ini akan mengubah segalanya. Ia tidak lagi hanya meratapi kematian Arkan, melainkan mulai menyelidiki rahasia yang sengaja dikubur oleh pria itu.
"Siapa yang mencari rumah ini, Neng?" suara serak seorang pria paruh baya membuyarkan lamunan Samaira.
Samaira berbalik dan melihat seorang kakek bertopi jerami sedang membawa seikat kayu bakar di bahunya. Kakek itu menatap Samaira dengan pandangan menyelidik namun ramah.
"Ah, maafkan saya, Pak. Saya sedang mencari... pemilik rumah ini," jawab Samaira dengan nada ragu-ragu. "Atau setidaknya, saya ingin tahu siapa yang terakhir kali tinggal di sini."
Kakek itu menurunkan ikatan kayu bakarnya ke tanah, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia mengamati wajah Samaira lekat-lekat. "Wajahmu mirip sekali dengan seseorang yang sering datang ke sini beberapa bulan lalu. Pria tinggi, mengenakan jaket kulit hitam. Kalau tidak salah, namanya Arkan."
Samaira menahan napasnya. "Benar! Arkan adalah... kekasih saya. Apakah Kakek mengenalnya?"
Kakek itu tersenyum tipis, garis-garis di wajahnya semakin terlihat jelas di bawah terik matahari. "Kenal? Tentu saja. Arkan sering duduk di beranda rumah itu selama berjam-jam, membaca buku tua dan berbicara dengan warga sekitar. Katanya, ia sedang mencari jejak keluarganya yang hilang dari Palembang puluhan tahun lalu."
Informasi itu menghantam Samaira bagaikan sambaran petir di siang bolong. Keluarga Arkan? Selama ini, Arkan selalu mengaku kepada Samaira bahwa ia adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan di Surabaya, tanpa sanak saudara dan tanpa masa lalu yang jelas. Mengapa Arkan berbohong? Atau, apakah ada kebenaran lain yang sengaja disembunyikannya demi melindungi Samaira?
"Keluarga?" ulang Samaira dengan suara bergetar. "Kakek yakin dia mencari keluarganya di sini?"
"Yakin sekali," jawab kakek itu mantap. "Bahkan, sebelum ia pergi untuk terakhir kalinya, ia menitipkan sebuah kotak kecil kepadaku. Katanya, jika suatu hari ada seorang perempuan dengan syal biru datang mencari rumah ini, berikan kotak itu kepadanya."
Samaira membelalakkan matanya. Syal biru? Bagaimana mungkin Arkan tahu bahwa Samaira akan mengenakan syal itu ke tempat ini?
❖ ❖ ❖
Kakek tua itu berjalan perlahan menuju beranda rumah di belakangnya, lalu meraih sebuah kunci gembok berkarat yang disembunyikan di balik bingkai jendela tua—sesuai persis dengan petunjuk yang tertulis di balik foto polaroid. Ia membuka pintu kecil di samping rumah panggung tersebut dan masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, ia keluar membawa sebuah kotak kayu berukir ukuran sedang yang tampak tua namun terawat dengan baik.