Seri 1: Purnama Pertama

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Doa di Sepertiga Malam

Suara ketukan lembut dari jam dinding antik di sudut kamar seolah berdetak lebih lambat dari biasanya. Jarum pendeknya menunjuk angka dua, sementara jarum panjangnya baru saja melewati angka dua belas. Sepi melingkupi ruangan berukuran empat kali empat meter itu. Hanya ada cahaya kekuningan dari lampu tidur meja yang meredup, memantulkan bayangan panjang tirai jendela yang bergeser pelan karena embusan angin malam.

Samaira duduk bersila di atas sajadah tebal berbulu lembut berwarna hijau zamrud. Matanya menatap lurus ke arah dinding putih di depannya, namun pikirannya melayang jauh menembus batas ruang dan waktu. Di dalam dadanya, ada gemuruh ombak yang tidak bertepi—sebuah kecemasan pekat yang merayap pelan, menggerogoti ketenangan batin yang sejak sore ia coba bangun.

"Ya Allah... tenangkanlah hatiku," bisiknya pelan, hampir tak terdengar, tenggelam oleh suara deru napasnya sendiri.

Pintu kamar mandi yang sedikit terbuka memperlihatkan uap air hangat yang masih mengepul tipis. Baru saja ia menyelesaikan wudu untuk kesekian kalinya malam ini. Air dingin yang membasuh wajah, tangan, hingga kakinya memang menyegarkan raga, namun tidak serta-merta melunturkan beban di kepalanya. Hari esok adalah hari penentuan. Sebuah keputusan besar menyangkut masa depan karier, integritas, dan pilihan hidupnya harus diambil di hadapan dewan direksi perusahaan.

"Belum tidur, Sam?"

Sebuah suara serak khas orang baru terbangun memecah keheningan. Aryo, suaminya, muncul dari balik pintu kamar. Langkah kakinya pelan, menghindari suara berderit dari lantai kayu. Ia mengenakan kaos oblong abu-abu pudar dan celana bahan hitam longgar. Wajah suaminya menyiratkan kelelahan yang teramat sangat, garis-garis kantuk tampak jelas di bawah kelopak matanya.

Samaira menoleh, mendongak menatap pria yang telah menemaninya melewati badai pernikahan selama tujuh tahun itu. "Belum, Mas. Aku enggak bisa tidur. Mataku rasanya panas, tapi pikiran ini enggak mau berhenti berputar."

Aryo berjalan mendekat, lalu duduk bersimpuh di samping sajadah istrinya. Tangannya yang hangat terulur, merapikan ujung mukena putih yang sedikit melorot di bahu Samaira.

"Mas tahu ini berat buat kamu," kata Aryo lembut, suaranya parau namun penuh ketulusan. "Tapi menyiksa diri dengan begadang dan merenungkan ketakutan enggak akan mengubah apa-apa. Keputusan ada di tangan direksi besok. Apapun hasilnya, kita hadapi sama-sama."

"Bukan soal hasilnya yang bikin aku takut, Mas," balas Samaira, suaranya bergetar tipis. Ia menatap manik mata suaminya lekat-lekat. "Aku takut salah melangkah. Aku takut kejujuran yang akupegang malah menghancurkan semua yang sudah kita bangun dari nol. Kalau laporan audit itu aku serahkan ke KPK, karierku tamat. Tapi kalau aku diam, nuraniku mati."

Aryo menghela napas panjang. Udara malam terasa semakin dingin. Ia meraih tangan Samaira, menggenggamnya erat-erat, menyalurkan kehangatan yang amat dibutuhkan istrinya saat ini.

"Sejak kapan istriku jadi ragu sama kebenaran?" tanya Aryo setengah tersenyum, mencoba mencairkan ketegangan di antara mereka. "Kamu selalu bilang, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalaupun pintu itu tertutup karena kita jujur, Allah pasti akan membukakan pintu lain yang jauh lebih berkah."

"Teorinya memang begitu, Mas. Tapi saat berada di ujung jurang, rasanya beda. Lututku lemas membayangkan tekanan yang bakal datang dari Pak Dirga dan para sekutunya besok pagi," aku Samaira jujur. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos juga, merembes membasahi pipinya.

Aryo tidak banyak berkata-kata lagi. Ia menarik Samaira ke dalam dekapannya. Kepala wanita itu bersandar di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung Aryo yang teratur—sebuah ritme yang selalu berhasil membuatnya merasa aman di tengah dunia yang kejam.

"Udah, menangislah sepuasmu di sini. Lepasin semuanya," bisik Aryo sambil mengelus puncak kepala yang tertutup kain mukena. "Setelah ini, ambil air wudhu lagi kalau kamu mau, lalu kita adukan semuanya ke Yang Punya Hidup. Manusia cuma bisa merencanakan, tapi keputusan mutlak ada di tangan-Nya."

Samaira mengangguk dalam pelukan suaminya. Isakannya tertahan, namun kelegaan perlahan-lahan merasuk ke relung hatinya. Ia sadar, tidak ada tempat berlindung yang lebih aman selain bersimpuh di hadapan Sang Pencipta pada sepertiga malam terakhir ini.

❖ ❖ ❖

Waktu menunjukkan pukul dua lewat empat puluh lima menit. Aryo telah kembali berbaring di tempat tidur karena esok paginya ia harus bersiap lebih awal untuk mengantar anak bungsu mereka ke sekolah. Sementara Samaira, ia kembali mengambil posisinya di atas sajadah hijau.

Sunyi malam kian pekat. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan deru angin malam yang menepis dahan-dahan pohon mangga di halaman depan. Samaira mengangkat kedua tangannya, merentangkan jemarinya setinggi dada. Matanya terpejam rapat, mencoba memusatkan seluruh kesadarannya pada kehadiran Tuhan.

"Ya Allah, Rabbi..." bisiknya terbata.

Pikiran Samaira kembali terlempar pada kejadian di kantor tiga hari lalu. Sebagai kepala divisi keuangan PT Sagara Buana, ia menemukan kejanggalan masif pada alokasi dana proyek pembangunan infrastruktur daerah. Angka-angka manipulatif itu disembunyikan rapi di balik pos biaya operasional fiktif. Ketika ia mengonfirmasi hal tersebut kepada Direktur Utama, Pak Dirga hanya tersenyum dingin dan menyuruhnya menutup mata.

“Kamu perempuan cerdas, Sam. Jangan hancurkan masa depan anak-anakmu hanya karena idealisme semu,” begitu ancaman halus yang dilontarkan Pak Dirga di ruang kerjanya yang mewah.

Rasa takut itu kembali mencengkeram dada Samaira. Bagaimanakah jika mereka benar-benar memecatnya secara tidak hormat? Bagaimana jika namanya diblacklist dari dunia korporasi? Cicilan rumah yang masih berjalan lima tahun lagi, biaya sekolah anak-anak yang kian melambung—semua kekhawatiran itu berkelebat cepat bagai film bisu di kepalanya.

"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di balik dinding-dinding kaca kantor itu. Engkau tahu niat hamba, semata-mata ingin menjaga harta yang halal untuk keluarga kecil kami," gumamnya, suaranya mulai serak oleh tangis yang tertahan.

Ia merendahkan sujudnya. Dahi dan hidungnya menyentuh permukaan sajadah yang lembut. Di posisi itulah ia merasa paling dekat dengan Sang Pencipta. Segala jabatan, gelar, dan ketakutan duniawi terasa begitu kecil, bahkan tak ada apa-apanya dibanding kebesaran Allah.

"Tunjukkanlah jalan keluar, ya Rabb. Jangan biarkan hamba memilih antara keselamatan dunia dengan kemurkaan-Mu. Berikan hamba kekuatan untuk berdiri tegak di atas kebenaran, sekecil apapun risiko yang harus hamba tanggung."

Air matanya tumpah membasahi serat-serat sajadah. Ada kelegaan aneh yang menyusup ke dalam rongga dadanya. Beban seberat ribuan ton yang menindih pundaknya sejak sore tadi perlahan-lahan terasa lebih ringan. Doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian malam itu bukan sekadar permohonan, melainkan bentuk penyerahan diri secara total.

❖ ❖ ❖

Pukul tiga lewat lima belas menit. Samaira bangkit dari sujudnya, lalu melaksanakan salat sunnah tahajud empat rakaat dengan dua kali salam. Gerakannya tenang, penuh khusyuk. Setiap bacaan ayat suci Al-Qur'an dilafalkan dengan suara pelan, meresapi setiap makna ayat demi ayat yang ia lantunkan.

Pada rakaat terakhir, saat ia membaca doa iftitah dan sujud yang agak panjang, pikirannya tiba-tiba ditarik pada sebuah memori masa kecil. Dulu, almarhum ayahnya pernah berpesan ketika ia hendak merantau ke ibu kota: ’Nai, hidup di dunia ini ibarat musafir yang mampir minum di bawah pohon. Jangan biarkan dirimu terikat oleh debu jalanan yang kotor hanya karena takut kehausan.’

Lihat selengkapnya