Seri 1: Purnama Pertama

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Purnama Pertama yang Memisahkan

Langit malam di atas Lembah Rembulan menggantung rendah, pekat, dan seolah membawa beban ribuan tahun. Di beranda kayu rumah panggung tua, Arya duduk bersila dengan secangkir teh kelor yang telah mendingin di hadapannya. Aroma tanah basah sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi dupa yang dibakar di sudut ruangan. Matanya menatap lurus ke cakrawala timur, tempat garis bukit bergelombang membatasi dunia luar dari desa terpencil itu.

"Apa kau yakin rembulan malam ini akan terlihat sama dari tempatnya?" suara serak Kakek Gde memecah keheningan malam, muncul dari balik tirai bambu dengan langkah gontai bertumpu pada tongkat kayu jati.

Arya menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke langit. "Aku tidak hanya yakin, Kek. Kami sudah berjanji. Purnama pertama setelah perpisahan ini adalah milik kami berdua, di bawah langit yang sama meskipun terhalang jarak ratusan kilometer."

Kakek Gde menarik napas panjang, mendengus pelan sambil duduk di kursi goyang di sebelah Arya. "Jarak bukan sekadar angka di peta, Cucu mudaku. Jarak adalah ujian tentang seberapa kuat ingatan manusia mengalahkan kesunyian. Di kota tempatnya berada sekarang, cahaya lampu neon dan bising kendaraan akan merampok kesucian malam. Apakah dia masih memiliki waktu untuk menengadah ke atas?"

"Sita berbeda," jawab Arya tegas, nadanya menyiratkan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Kota besar tidak akan mampu mengubah apa yang telah kami ukir di tempat ini. Janji tetaplah janji."

"Janji adalah utang yang sering kali dibayar dengan air mata, Arya," sahut Kakek Gde bijak, matanya yang mulai rabun ikut menatap ke arah yang sama. "Lihatlah awan tipis di sebelah timur sana. Alam pun sepertinya ragu apakah malam ini malam yang tepat untuk membuka tabir."

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang tak pernah tidur, Sita berdiri terpaku di balkon apartemen lantai 25. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan helai rambut hitamnya yang panjang. Di bawah sana, deretan mobil merayap bagai semut bercahaya, menciptakan suara deru mesin yang tak berkesudahan. Suara bising itu berbenturan dengan dinding beton, menciptakan gema monoton yang memekakkan telinga.

Sita mengangkat tangannya, merengkuh udara malam yang dingin. Ia memegang sebuah bandul kalung perak berbentuk bulan sabit di dadanya—benda terakhir yang diberikan Arya sebelum ia harus pergi meninggalkan lembah.

"Apakah kau juga sedang menatap langit yang sama, Arya?" bisik Sita lirih, suaranya hampir tenggelam ditelan deru angin malam yang menderu di antara gedung-gedung pencakar langit.

Di sekelilingnya, gemerlap lampu kota seolah menantang keagungan alam. Bintang-bintang di langit kota seakan mati, kalah telak oleh polusi cahaya dan neon reklame raksasa berwarna merah menyala. Namun, di balik segala kemegahan artifisial itu, ada kehampaan yang menganga di dada Sita. Pekerjaan baru, teman-teman baru, dan rutinitas yang melelahkan sama sekali tidak mampu mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kehangatan Lembah Rembulan.

"Sita! Kau belum tidur?" suara Rina, rekan sekamarnya, terdengar dari dalam kamar, disusul oleh derap langkah kaki mendekati pintu balkon. "Di luar dingin sekali. Masuklah. Besok presentasi pagi, kita butuh istirahat."

Sita menoleh ke belakang, mendapati Rina berdiri dengan segelas air hangat di tangannya. "Sebentar lagi, Rina. Aku sedang menunggu sesuatu."

"Menunggu apa? Kurir malam? Atau pengemudi ojek online?" gurau Rina sambil melangkah keluar, merapatkan kardigan wolnya. Ia mengikuti arah pandangan Sita ke atas. "Astaga, Sita. Di kota ini tidak ada pemandangan menarik di langit. Yang ada hanya polusi dan awan kelabu."

"Bukan pemandangan kota yang kulihat," kata Sita pelan, jemarinya semakin erat menggenggam bandul kalung. "Aku sedang menunggu purnama pertama."

Rina menghela napas, tersenyum maklum. "Ah, tentang lelaki di desa itu lagi. Kau benar-benar merindukannya, ya? Sudah seminggu kau seperti orang kehilangan jiwanya."

"Bukan seperti kehilangan jiwa, Rina. Sebagian jiwaku memang tertinggal di sana," balas Sita tanpa mengalihkan pandangannya dari celah sempit di antara dua gedung tinggi di seberang jalan.

❖ ❖ ❖

Kembali ke Lembah Rembulan, waktu merayap lambat. Jarum jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Kakek Gde sudah pamit masuk ke kamarnya, meninggalkan Arya seorang diri di beranda. Suasana malam semakin sunyi, hanya ditemani oleh suara jangkrik dan gemerisik daun pisang yang tertiup angin lembah.

Arya berdiri dari kursinya. Ia mengambil langkah turun ke halaman rumput yang basah oleh embun. Udara dingin merasuk lewat pori-pori kain jaketnya, namun ia sama sekali tidak peduli. Perhatiannya tersedot sepenuhnya pada tepian bukit di sebelah timur. Perlahan tapi pasti, semburat jingga kemerahan mulai merekah di balik punggung bukit, menandakan kemunculan sang ratu malam.

"Sebentar lagi," gumam Arya pelan, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada rasa cemas yang bercampur dengan antisipasi yang manis. Apakah Sita benar-benar sedang menengadah ke langit saat ini? Apakah jarak ratusan kilometer ini benar-benar tidak berarti di hadapan ikatan batin mereka?

Di ujung lain, di lantai 25 apartemennya, Sita merasakan hal yang sama. Debaran di dadanya mendadak terasa begitu nyata. Ia melihat celah di antara gedung-gedung tinggi mulai memancarkan cahaya perak yang lembut. Semburat keemasan bercampur putih mutiara mulai mengoyak kelamnya langit kota yang tercemar polusi.

"Rina, lihat!" panggil Sita setengah berbisik, mencengkeram lengan temannya yang hendak berbalik masuk ke kamar.

Rina menghentikan langkahnya, menaikkan alis. "Ada apa?"

"Itu... di celah gedung itu. Rembulannya mulai naik."

Sita merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menutup matanya sejenak untuk merapalkan doa dalam hati. Ketika ia membuka matanya kembali, bulatan perak sempurna itu perlahan muncul sepenuhnya, menggantung megah di atas kanvas malam. Meskipun dikepung oleh beton dan lampu-lampu kota yang menyilaukan, cahaya rembulan itu tetap berhasil menembus kegelapan, jatuh tepat menyinari wajah Sita.

"Wah... tumben sekali bulan malam ini terlihat begitu jelas di tengah kota," aku Rina dengan nada takjub, ikut terpaku sejenak melihat pemandangan langka itu.

"Ini bukan sekadar bulan biasa, Rina. Ini purnama pertama," ucap Sita dengan suara bergetar, air mata tipis tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.

Di saat yang persis sama, di Lembah Rembulan, Arya mendongak sepenuhnya. Bulatan perak yang agung kini berdiri tegak tepat di atas kepalanya, memancarkan cahaya terang yang memandikan seluruh lembah dalam keperakan yang magis. Punggung bukit, atap-atap rumah penduduk, dan rerumputan basah seakan diselimuti serbuk intan.

Arya mengangkat tangan kanannya, merentangkan telapak tangannya ke arah langit, seolah ia sedang berusaha menyentuh permukaan rembulan yang dingin. "Aku di sini, Sita," bisiknya pada angin malam yang berhembus kencang, membawa serta kerinduan yang membakar dada.

❖ ❖ ❖

Momen sinkronisasi itu terjadi begitu sempurna. Tanpa ada perjanjian lewat pesan singkat atau sambungan telepon—karena sengaja mereka sepakati untuk tidak saling menghubungi selama seminggu penuh demi menguji ketulusan—kedua insan itu terikat dalam satu garis pandang yang sama.

"Kau merasakannya juga, kan?" Arya berkata sendiri di tengah keheningan halamannya. Angin berhembus kencang, menerbangkan ujung rambutnya. Rasanya, hembusan angin itu terasa berbeda; ia membawa kehangatan yang tidak masuk akal untuk malam yang dingin ini. Seolah-olah angin tersebut baru saja melintasi ribuan kilometer perjalanan dari tempat Sita berada, membawa sisa-sisa aroma parfum mawar putih yang selalu dipakai gadis itu.

Sita di balkonnya menutup mata, menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa merasakan kehadiranmu, Arya. Di bawah cahaya yang sama ini, kita tidak pernah benar-benar berpisah."

Lihat selengkapnya