SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Sinyal Teratai Jingga Tanda Maut

Langit di atas pegunungan tengah mendadak berubah warna menjadi jingga kehitaman. Cahaya ajaib namun mengerikan itu memancar dari Lembah Tengkorak—tanda bahwa ilmu terlarang paling mematikan dalam sejarah rimba persilatan, Ilmu Teratai Jingga Pemusnah Jiwa, telah berhasil disempurnakan oleh gembong kaum sesat.

Angin malam berembus kencang, membawa aroma belerang dan darah segar yang menyesakkan dada. Di serambi Kuil Bayangan Besi, Pendeta Naga Putih berdiri tegak dengan jubah putih yang berkibar liar. Tatapannya tajam menembus pekatnya malam, terpaku lurus pada pijar jingga yang melahap cakrawala barat. Tangannya yang keriput mencengkeram erat hulu pedang pusaka di pinggangnya, hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sinyal itu..." gumam Pendeta Naga Putih pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam deru angin. "Setelah tiga dasawarsa disegel di dasar jurang neraka, kutukan itu akhirnya bangkit kembali."

Di belakangnya, seorang pemuda berusia belasan tahun dengan pakaian ringkas melangkah mendekat. Namanya Arya, murid paling bungsu di perguruan tersebut, namun memiliki ketajaman batin yang luar biasa. Napas Arya sedikit tersengal, bukan karena lelah berlari, melainkan karena getaran energi jahat yang merambat lewat tanah dan mencengkeram relung jiwanya.

"Guru," kata Arya dengan suara bergetar, berusaha menahan gentar yang mulai merayap di dadanya. "Energi itu... rasanya seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk tulang. Apakah benar para sesat itu berhasil membangkitkan Ilmu Teratai Jingga?"

Pendeta Naga Putih tidak langsung menjawab. Ia membuang napas panjang, melepaskan beban batin yang teramat berat. Matanya menyipit, menerawang jauh menembus kegelapan malam.

"Benar, Arya," jawab sang guru akhirnya, tenang namun sarat akan kekhawatiran yang mendalam. "Dan kebangkitan ini bukan sekadar pertanda buruk bagi perguruan kita, melainkan ancaman kehancuran total bagi seluruh persilatan di bumi ini. Tiada satu pun aliran persilatan yang mampu menahan gelombang amukan ilmu tersebut dalam wujud sempurnanya."

"Tetapi, Guru, bukankah para leluhur kita telah mengorbankan nyawa mereka untuk memusnahkan kitab pusaka itu?" tanya Arya lagi, kerutan di keningnya semakin dalam. "Bagaimana mungkin ilmu yang telah terkubur puluhan tahun bisa bangkit tanpa ada yang menyadari?"

"Musuh kita bergerak dalam sunyi, Arya," jawab Pendeta Naga Putih sambil berbalik menatap murid kesayangannya itu. "Ada pengkhianat di antara golongan lurus yang sengaja membuka segel tersebut demi ambisi pribadi. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Bersiaplah. Badai besar segera menghantam dunia persilatan."

❖ ❖ ❖

Berita tentang kebangkitan Ilmu Teratai Jingga menyebar bagaikan api dalam sekam. Dalam kurun waktu kurang dari tiga hari, utusan kilat dari berbagai perguruan besar berdatangan ke Kuil Bayangan Besi. Suasana aula utama yang biasanya tenang dan khidmat kini berubah tegang, dipenuhi oleh para ketua partai dan pendekar sakti dari penjuru negeri.

Ketua Partai Pedang Langit, seorang lelaki bertubuh tegap dengan bekas luka melintang di pipi kiri bernama Ki Ageng Demang, memukul meja batu hingga retak. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap.

"Kita tidak boleh tinggal diam menunggu mereka datang menghancurkan kita satu per satu!" seru Ki Ageng Demang dengan suara bergemuruh memenuhi ruangan. "Pendeta Naga Putih, kau harus memimpin aliansi persilatan untuk menggempur Lembah Tengkorak malam ini juga!"

Pendeta Naga Putih duduk tenang di singgasana bambu, mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar hadirin menenangkan diri. Tatapannya menyapu seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi wajah-wajah tegang dan penuh kecemasan.

"Ketenangan adalah kunci menghadapi musuh yang menguasai ilmu kegelapan, Ki Ageng," ujar Pendeta Naga Putih dengan suara berwibawa. "Jika kita menyerang tanpa persiapan matang menghadapi Ilmu Teratai Jingga, kita hanya sedang mengantarkan nyawa ribuan murid ke jurang kematian."

"Lalu apa rencana kita?" sahut seorang wanita paruh baya berkerudung ungu, Ketua Perguruan Selendang Sutra. "Sinyal itu semakin malam semakin terang. Setiap detik yang kita buang berarti bertambahnya kekuatan para iblis di lembah terkutuk itu."

Arya yang berdiri di sudut ruangan memperhatikan perdebatan sengit itu dengan jantung berdegup kencang. Ia tahu bahwa para tetua sedang dihadapkan pada pilihan yang amat sulit. Di satu sisi, kelambanan berarti kehancuran; di sisi lain, ketergesaan berarti bunuh diri massal.

Tiba-tiba, pintu gerbang kuil di luar terdengar terbuka dengan suara dentuman keras, disusul oleh jeritan kesakitan yang memecah keheningan malam. Semua orang di dalam aula terperanjat bangkit dari tempat duduk masing-masing.

"Ada penyusup!" teriak salah seorang pengawal dari luar pintu.

Sebelum siapa pun sempat bergerak, sesosok bayangan hitam melesat masuk ke dalam aula dengan kecepatan kilat, melemparkan sesosok tubuh bermandi darah tepat di tengah-tengah ruangan. Tubuh itu adalah kepala pengawas gerbang luar Kuil Bayangan Besi, yang tewas seketika dengan kulit sekujur tubuh berubah menjadi kebiruan—tanda kematian akibat racun teratai jingga.

❖ ❖ ❖

Suasana aula mendadak sunyi mencekam. Bayangan hitam yang berdiri di hadapan para pendekar agung itu perlahan mengangkat wajahnya, memperlihatkan senyum sinis yang mengerikan di balik topeng perak setengah wajah.

Lihat selengkapnya