Malam di Lembah Tengkorak Merah selalu menyisakan keheningan yang menyesakkan, bagaikan kuburan raksasa yang menelan segala suara kehidupan. Angin malam berembus kencang, membawa aroma amis darah yang menguar dari tanah humus yang basah oleh sisa-sisa hujan. Di tengah lembah yang dikelilingi tebing-tebing batu curam berwarna kehitaman, berdiri sebuah bangunan tua berupa kuil pemujaan aliran sesat yang telah lama ditinggalkan. Kuil itu kini diterangi oleh nyala api unggun besar yang membakar kayu-kayu beracun, memantulkan bayangan-bayangan menari yang tampak mengerikan di dinding batu yang penuh ukiran iblis purba.
Suasana di dalam pelataran kuil dipenuhi oleh ketegangan yang begitu pekat, seolah udara pun membeku karena kehadiran empat sosok manusia yang aura pembunuhnya mampu merontokkan nyali orang biasa dalam radius sepuluh li. Mereka adalah sisa-sisa pimpinan kaum hitam yang berhasil selamat dari pembersihan besar-besaran dunia persilatan beberapa tahun silam. Kekalahan pahit di masa lalu bukannya meredam ambisi mereka, melainkan menempa dendam kesumat yang kian membara di dalam dada masing-masing.
Di atas sebuah singgasana batu hitam yang diukir menyerupai cakar naga raksasa, duduklah sang penguasa baru yang menyatukan mereka. Maha Iblis Teratai Jingga. Jubah sutra merah darahnya berkibar pelan tertiup angin malam, dihiasi sulaman benang emas bergambar kelopak teratai yang menyala terang dalam kegelapan. Wajahnya tertutup topeng setengah wajah bermotif teratai jingga dengan tatapan mata yang memancarkan cahaya keemasan yang dingin dan mematikan.
"Waktu persembunyian kita sudah habis," suara Maha Iblis Teratai Jingga memecah keheningan malam, terdengar datar namun berbobot bagaikan ribuan jinjing batu yang menghantam bumi. "Dunia persilatan aliran putih mengira mereka telah berhasil memusnahkan akar kejahatan kita. Mereka tertidur pulas di atas singgasana kemunafikan, merayakan kemenangan semu yang mereka capai dengan cara-cara pengecut."
Di sisi kiri singgasana, berdiri seorang lelaki bertubuh raksasa dengan tinggi hampir dua meter. Kulitnya berwarna kehitaman seperti besi tua yang terbakar, dan otot-ototnya menonjol keluar menembus jubah hitam compang-camping yang dipakainya. Dia adalah Ki Raga Bajra, datuk sesat dari aliran Genggaman Petir Hitam yang terkenal kebal terhadap segala jenis senjata tajam. Di tangannya, tergenggam sebuah gada berduri besar yang berlumuran darah kering.
"Tikus-tikus putih itu memang pantas dibantai sampai ke anak cucu mereka," gerutu Ki Raga Bajra dengan suara seperti guruh yang bergemuruh di dalam gua. "Sudah terlalu lama kita hidup bersembunyi di lubang-lubang tikus ini, menghindari kejaran para pendekar kuil shaolin dan pergudangan pedang terkemuka. Darah mereka sudah terlalu lama basi, dan aku sudah tidak sabar untuk meremukkan kepala para ketua partai besar itu dengan gadaku."
"Jangan terburu nafsu, Ki Raga Bajra," sahut sebuah suara wanita yang terdengar mendayu-dayu namun mengandung racun yang mematikan. Wanita itu berdiri bersandar pada pilar batu kuil dengan kipas lipat bergambar tengkorak di tangannya. Namanya Nyai Sriti, pemimpin sekte Ular Bayangan Beracun. Wajahnya sangat cantik namun menyimpan senyum penuh kelicikan yang membuat siapa pun bergidik. "Aliran putih tidak bisa dikalahkan hanya dengan otot dan tenaga kasar seperti yang kau miliki. Kita memerlukan strategi yang matang, racun yang tidak berbau, dan tikus-tikus kecil yang bisa kita manfaatkan sebagai umpan di garis depan."
Nyai Sriti melirik tajam ke arah sosok keempat yang duduk bersila di sudut paling gelap pelataran kuil. Sosok itu adalah Pendeta Naga Kelam, seorang mantan biksu murtad yang menguasai ilmu gaib penghisap darah dan penyesat pikiran. Selama berjam-jam, biksu itu hanya memejamkan mata sambil memutar tasbih yang terbuat dari tulang jari manusia, tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak pertemuan dimulai.
"Bagaimana dengan persiapan pasukan kita di tiga provinsi selatan?" tanya Maha Iblis Teratai Jingga, mengalihkan pandangannya kepada Nyai Sriti.
"Semuanya sudah berjalan sesuai rencana, Maha Iblis," jawab Nyai Sriti sambil melipat kipasnya dengan gerakan elegan. "Ribuan pendekar aliran hitam yang tersebar di berbagai penjuru rimba persilatan telah menerima tanda teratai jingga. Mereka menunggu aba-aba dari Anda untuk bergerak secara serentak menyerbu markas-markas utama aliran putih."
"Bagus," kata Maha Iblis Teratai Jingga perlahan, sementara api di depannya mendadak menyala semakin besar, berubah warna menjadi kebiruan. "Kali ini, kita tidak akan melakukan perang gerilya yang membuang waktu. Kita akan melancarkan satu pertempuran berdarah yang akan meratakan seluruh perguruan aliran putih hingga menjadi debu. Tidak boleh ada yang dibiarkan hidup. Laki-laki, perempuan, tua, dan muda—semuanya harus binasa untuk menebus darah saudara-saudara kita yang tewas di tangan mereka."
Ki Raga Bajra tertawa terbahak-bahak hingga tebing-tebing di sekitar lembah bergetar. "Ha-ha-ha! Perintah yang mulia! Besok pagi, fajar baru akan menyingsing di atas lautan darah para pendekar munafik itu!"
❖ ❖ ❖
Berita tentang bergeraknya sisa-sisa kaum hitam menyebar bagaikan api yang membakar padang rumput kering di seluruh penjuru dunia persilatan. Dalam waktu kurang dari sepekan, kepanikan melanda berbagai perguruan besar yang selama ini hidup dalam kedamaian semu. Di aula utama Perguruan Pedang Langit, suasana begitu tegang hingga suara jatuhnya sehelai jarum pun terdengar jelas.
Ketua Perguruan Pedang Langit, Pendekar Sepuh Ksatria Giri, berdiri di depan meja peta besar yang terbuat dari kayu jati tua. Wajahnya yang dipenuhi keriput tampak sangat kuyu, mencerminkan beban berat yang harus ditanggungnya di usia senja. Di sekelilingnya, berkumpul para tetua perguruan dan murid-murid tingkat atas yang mengenakan pakaian kebesaran berwarna putih bersih.
"Apakah laporan dari pos pantau di perbatasan utara sudah dikonfirmasi kebenarannya, Murid Kedua?" tanya Ksatria Giri dengan suara serak namun tegas.
Seorang pendekar muda bermuka pucat melangkah maju, membungkuk hormat. "Benar, Guru. Pos pantau di kaki Gunung Salju Telah dihancurkan tanpa sisa. Seluruh penjaga tewas dengan cara yang sangat mengerikan—tubuh mereka menghitam seperti tersambar petir hitam, dan tanda teratai jingga ditemukan terukir di gerbang batu perguruan."
Bisikan-bisikan ketakutan langsung menyeruak di antara para murid yang hadir. Seorang pendekar muda berdarah panas bernama Arya Saka, yang terkenal sebagai salah satu pedang muda terbaik di perguruan itu, mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa kita harus menunggu di sini seperti domba yang menunggu giliran dipotong, Guru?" seru Arya Saka dengan nada suara yang bergetar karena amarah. "Mari kita kerahkan seluruh pendekar Pedang Langit untuk menyongsong mereka di perbatasan! Kita buktikan bahwa sisa-sisa iblis itu tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di tanah suci kita!"
"Tenanglah, Arya Saka!" bentak seorang tetua berambut putih panjang di sebelah Ksatria Giri, yaitu Tetua Baihaki. "Kau terlalu muda dan kurang pengalaman untuk memahami betapa berbahayanya musuh yang kita hadapi kali ini. Ini bukan lagi sekadar gerombolan penjahat biasa. Di balik nama Maha Iblis Teratai Jingga, tersimpan kekuatan kuno yang pernah hampir meruntuhkan seluruh tatanan rimba persilatan puluhan tahun lalu."
"Tetapi tetua..." Arya Saka mencoba membantah, namun Ksatria Giri mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan perdebatan tersebut.
"Baihaki benar, Arya Saka," kata Ksatria Giri perlahan sambil menatap cucu pedangnya itu dengan pandangan penuh arti. "Musuh kita kali ini bergerak bukan dengan akal sehat, melainkan dengan dendam kesumat yang telah berakar selama bertahun-tahun. Jika kita bertindak gegabah dan menyerang tanpa perhitungan matang, kita justru sedang memasukkan kepala ke dalam perangkap yang telah mereka siapkan."
Sebelum ada yang sempat menjawab, tiba-tiba pintu aula utama terbuka dengan dentuman keras yang mengejutkan semua orang. Seorang kurir sandi perguruan terhuyung-huyung masuk ke dalam ruangan, pakaiannya robek-robek dan berlumuran darah segar. Napasnya memburu, dan sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, darah segar menyembur dari mulutnya dan ia ambruk tak sadarkan diri di lantai marmer.
"Cepat! Berikan air obat!" perintah Ksatria Giri sambil melompat turun dari podiumnya.
Beberapa murid segera mendekati kurir tersebut dan memberikan pil pemulih tenaga dalam. Beberapa saat kemudian, kurir itu membuka matanya dengan susah payah, menatap Ksatria Giri dengan pandangan penuh kengerian yang mendalam.
"Guru... Ketua..." rintih kurir itu dengan suara nyaris tak terdengar. "Perguruan... Perguruan Tapak Besi di lembah barat... telah diserang secara mendadak tadi malam. Tidak ada... tidak ada satu pun yang selamat. Ketua Tapak Besi tewas di tangan Ki Raga Bajra, dan seluruh bangunan dibakar menjadi abu..."
Berita itu menghantam isi aula bagaikan sambaran petir di siang bolong. Wajah para tetua mendadak pucat pasi. Serangan itu bukan lagi sekadar ancaman; itu adalah kenyataan berdarah yang bergerak semakin mendekat ke jantung pertahanan aliran putih.
"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan kita," gumam Tetua Baihaki dengan suara bergetar. "Tujuan mereka jelas: melibas satu per satu perguruan kita sebelum kita sempat membentuk aliansi pertahanan bersama."