SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Pengintai Terakhir Tiga Serangkai

Malam di Lembah Tengkorak tidak pernah menjanjikan ampun bagi siapa pun yang melangkah tanpa izin. Di bawah naungan langit kelam yang tertutup kabut tebal beracun, tiga bayangan bergerak lincah menyusup di antara bebatuan cadas yang tajam. Mereka adalah Tiga Serangkai: Kamil sang penjejak bayangan, Rafar sang pengambil keputusan yang tenang, dan Yafid sang ahli strategi pertahanan. Ini adalah misi paling berbahaya yang pernah mereka emban sepanjang hidup sebagai pengintai terakhir kubu perlawanan.

"Hentikan langkah sebentar," bisik Kamil dengan suara sekecil desir angin malam. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar dua rekannya segera merapat ke dinding tebing batu kapur yang lembap.

Rafar dan Yafid langsung membungkuk, menyatu dengan kegelapan. Napas mereka diatur sepelan mungkin untuk menghindari deteksi dari sensor termal musuh yang dipasang di sepanjang perbatasan benteng utama Lembah Tengkorak. Kamil mengeluarkan sebuah alat pemindai kecil dari saku jaket taktisnya, mengarahkannya ke hamparan tanah lapang yang terletak sekitar lima puluh meter di depan mereka.

"Ada anomali elektromagnetik di jalur utama," gumam Kamil pelan, matanya menyipit menatap layar kecil yang memancarkan pendar cahaya hijau redup. "Musuh mengubah pola pengamanan sejak malam kemarin. Parit racun jingga yang biasanya hanya aktif di sektor timur, kini melingkar penuh hingga ke gerbang utara tempat kita berencana masuk."

Yafid mendekatkan kepalanya, memperhatikan peta holografik kecil yang diproyeksikan dari alat Kamil. Alisnya berkerut dalam, garis ketegangan tampak jelas di keningnya yang dibasahi keringat dingin. "Artinya, rencana awal kita menerobos lewat sektor utara sudah bunuh diri. Racun jingga itu bukan sekadar cairan kimia biasa; itu senyawa korosif yang mampu melelehkan baju pelindung standar dalam hitungan detik."

"Bukan hanya parit racun," sahut Rafar dengan nada datar namun penuh ketegasan khas seorang pemimpin lapangan. Tangannya meraba gagang belati taktis di pinggangnya, memastikan senjatanya siap kapan saja. "Perhatikan pola patroli di atas menara pengawas itu. Pergerakan mereka lebih cepat sepuluh detik dari jadwal standar militer musuh. Seseorang di dalam sana sedang memperketat disiplin secara militeristik."

Kamil mengangguk setuju. Melalui pengamatan cermat terhadap benteng pertahanan musuh selama tiga jam terakhir, ia berhasil memetakan seluruh jebakan bahan peledak yang ditanam tersembunyi di bawah permukaan tanah berpasir. Setiap langkah di area itu harus diperhitungkan dengan presisi matematika, karena satu kesalahan kecil saja akan memicu rantai ledakan yang meruntuhkan separuh tebing lembah.

"Aku akan memimpin di depan," ujar Kamil mantap. "Ikuti tepat di atas jejak kakiku. Jangan pernah menginjak tanah yang warnanya sedikit lebih gelap, karena di situlah detonator tekanan rendah disembunyikan."

"Hati-hati, Kamil. Bebanmu terlalu berat malam ini," ucap Yafid memperingatkan, meski ia tahu sahabatnya itu adalah yang terbaik di bidang ini.

"Kita tidak punya pilihan lain, Yafid. Jika kita gagal memetakan seluruh celah ini, pasukan utama di belakang tidak akan pernah bisa menembus jantung pertahanan mereka esok subuh," jawab Kamil sebelum akhirnya kembali merayap maju ke dalam pekatnya kegelapan lembah.

❖ ❖ ❖

Perlahan namun pasti, ketiganya merayap melewati zona bahaya pertama. Bau belerang dan sengatan amonia mulai menusuk hidung mereka begitu mendekati area parit racun jingga. Permukaan cairan di dalam parit itu mendesis pelan, memantulkan cahaya jingga kemerahan yang mengerikan dari lampu sorot otomatis yang berputar di atas menara pengawas musuh.

"Tiga meter lagi kita mencapai batas kawat berduri bertegangan tinggi," bisik Kamil tanpa menoleh ke belakang, matanya terus terkunci pada lensa pembesar di ujung senapannya.

Tiba-tiba, suara derap langkah berat terdengar dari arah sisi kiri mereka—dua orang prajurit musuh berpakaian zirah hitam legam sedang melakukan patroli rutin melintasi jalur tikus tempat Kamil dan kawan-kawan bersembunyi di balik tumpukan drum kosong.

Rafar memberi gestur tangan agar semuanya membeku. Mereka menempel erat pada dinding baja drum yang dingin, menahan napas serapat mungkin saat dua prajurit itu melintas hanya berjarak kurang dari satu lengan dari posisi mereka.

"Kau mencium bau sesuatu?" tanya salah seorang prajurit musuh dengan suara serak di balik helm tertutupnya.

"Hanya bau belerang biasa dari parit racun. Lembah ini memang busuk sejak awal," jawab rekannya acuh tak acuh, lalu melanjutkan langkah mereka menjauh ke arah pos jaga selatan.

Kamil menghembuskan napas perlahan setelah bayangan kedua prajurit itu benar-benar hilang ditelan kegelapan. Namun, ketegangan belum mereda. Saat melangkah maju untuk melanjutkan pemetaan, kaki kiri Kamil tanpa sengaja menyentuh sebuah kabel tipis transparan yang tersembunyi di balik lumut batu.

Klik.

Bunyi mekanis yang sangat kecil itu terdengar bagai petir di telinga mereka.

"Jangan bergerak!" seru Rafar dengan nada rendah tapi penuh perintah mutlak.

Kamil membeku seketika. Di bawah sepatu botnya, sebuah detonator mikro telah aktif, memicu lampu indikator kecil berwarna merah yang mulai berkedip cepat di balik tumpukan batu. Wajah Kamil mengeras; ia tahu betul jenis jebakan ini. Itu adalah ranjau kejut magnetik yang akan meledak begitu tekanan di atasnya berkurang atau bertambah secara drastis.

"Ini ranjau tipe lama yang dimodifikasi dengan sensor tekanan ganda," kata Kamil tenang, meski butiran peluh mulai menetes dari pelipisnya. "Jika aku mengangkat kaki ini sekarang, radius ledakannya cukup untuk meruntuhkan dinding batu ini dan mengubur kita hidup-hidup."

"Berapa waktu tunda sebelum ledakan utama?" tanya Yafid cepat, matanya melirik tajam ke arah rangkaian kabel yang terhubung ke dalam tanah.

"Tiga puluh detik," jawab Kamil singkat. "Kalian harus jalan sekarang. Tinggalkan aku. Ini satu-satunya cara agar misi penyusupan Tiga Serangkai tidak gugur di sini."

"Jangan bodoh, Kamil!" bentak Rafar tertahan. Ia langsung berlutut di sebelah kiri Kamil, mengabaikan risiko keselamatan dirinya sendiri. "Kita datang bertiga, kita pulang bertiga. Tidak ada yang ditinggal di medan perang."

Yafid tidak banyak bicara. Ia langsung merogoh tas perlengkapannya, mengeluarkan sebuah alat penjepit kecil berisolasi khusus dan obeng presisi tinggi. Tangannya sedikit bergetar, namun ia paksa untuk tetap stabil menghadapi kabel-kabel rumit yang berpijar di bawah tanah.

Lihat selengkapnya