Angin dingin di Puncak Azalia menderu bagai raungan harimau putih yang kelaparan, merobek jubah pasukan gabungan yang bertahan di dataran tinggi. Di bawah langit kelabu yang tertutup debu mesiu dan asap pembakaran, ketegangan membentang setajam bilah pedang. Pasukan aliansi terjepit di antara dinding tebing curam dan barisan musuh yang mengepung dari lembah bawah.
"Mereka sudah menyiapkan barisan pemanah beracun di sepanjang teras tebing!" seru seorang perwira aliansi dengan napas memburu. Keringat dingin bercampur darah segar mengalir di pelipisnya. Tatapannya tertuju pada formasi musuh di seberang jurang, di mana ratusan busur majemuk ditarik penuh, siap melepaskan hujan maut.
Di barisan depan, Risha merapatkan rahangnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah formasi musuh yang tampak begitu padat. Tanpa menoleh, ia mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar pasukannya menahan diri.
"Jika kita maju secara frontal, pasukan kita akan habis sebelum sempat mendekati jarak pukul," kata Risha dengan suara tenang namun penuh wibawa. Suaranya memotong deru angin gunung, didengar oleh para komandan di sekitarnya.
Di sampingnya, Azalia menarik napas dalam-dalam, membiarkan energi tenaga dalam mengalir lancar melalui meridian tubuhnya. Suhu dingin di Puncak Azalia seolah melebur, terserap oleh kehangatan sirkulasi chi yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun. "Kita tidak punya pilihan selain membuka jalan dari atas, Risha. Waktu kita tidak banyak."
"Aku tahu," jawab Risha singkat, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyuman penuh keyakinan. "Mari kita tunjukkan pada mereka arti sebenarnya dari meringankan tubuh."
Azalia dan Risha mendemonstrasikan keahlian ginkang pada tingkat kesempurnaan tertinggi. Tanpa aba-aba lanjutan, tubuh kedua wanita itu melesat bersamaan bagai dua kuntum bunga plum yang diterbangkan badai salju. Gerakan mereka begitu cepat hingga mata biasa hanya menangkap sisa-sisa bayangan samar yang bergeser di udara.
❖ ❖ ❖
Di seberang jurang, komandan pasukan pemanah musuh, seorang jenderal bermata juling bernama Ba Ru, mendengus meremehkan. Ia melihat dua sosok bayangan meluncur ke arah tebing tempat pasukannya bersiaga.
"Hah! Berani sekali dua perempuan itu datang menyerahkan nyawa!" teriak Ba Ru kepada anak buahnya. "Lepaskan panah! Buat tubuh mereka menjadi sarang lebah beracun!"
Ribuan anak panah berlapis racun ular bayangan meluncur serentak, menciptakan suara mendengung yang memekakkan telinga. Hujan anak panah itu bagai tirai hitam legam yang menutup langit, dirancang khusus untuk memastikan tidak ada makhluk hidup yang bisa lolos tanpa tertembus.
Namun, yang disaksikan oleh pasukan musuh bukanlah pembantaian, melainkan sebuah tontonan yang meruntuhkan nyali. Azalia melangkah di atas udara kosong seolah-olah ada tangga tak kasat mata yang terbentang di bawah telapak kakinya. Setiap kali ratusan anak panah mendekat, tubuhnya berputar lembut dalam gerak tarian angin puyuh. Jubahnya berkibar anggun, menghindari setiap mata panah dengan selisih rambut saja.
"Bagaimana mungkin?!" seru salah satu pemanah musuh, matanya membelalak tak percaya saat anak panahnya menembus tempat kosong tempat Azalia berada sedetik sebelumnya.
Di sisi lain, Risha bergerak lebih agresif namun tetap anggun. Ia memanfaatkan momentum hembusan angin jurang untuk menambah kecepatan luncurannya. Saat sebatang panah meluncur tepat ke arah dadanya, Risha tidak menghindar. Ia hanya meluruskan dua jarinya, lalu menyentuh batang panah tersebut dengan tenaga dalam yang lembut namun mematikan.
Kilas!
Panah beracun itu berbalik arah dengan kecepatan tiga kali lipat, melesat balik dan menghantam busur salah satu pemanah musuh hingga berkeping-keping.
"Fokus! Jangan biarkan mereka mendekat!" Ba Ru meraung panik, menyadari bahwa teknik ginkang kedua pendekar wanita itu berada di luar nalar manusia biasa.