Angin lembah berhembus membawa aroma logam yang tajam dan memualkan. Langit di atas Lembah Besi Tua tampak kelabu pekat, tertutup kabut tipis berwarna kemerahan yang memantulkan bias cahaya matahari senja. Di antara bebatuan cadas yang gersang, Zahra berlutut di atas tanah yang menghitam. Perempuan itu mengenakan jubah abu-abu pelindung debu, sementara jemarinya yang terbalut sarung tangan khusus denganhati-hati mengambil segenggam tanah basah yang berbau belerang.
Di sisi barat aliran sungai kecil yang melintasi lembah, Chafia berdiri siaga sambil mengawasi sekitar. Matanya tajam memindai setiap sudut tebing batu yang curam. Pedang pendek terselip rapi di pinggangnya, siap ditarik kapan saja jika ada ancaman mendadak dari para pengikut Sekte Bayangan Merah yang kerap berkeliaran di wilayah terlarang ini.
"Bagaimana kondisinya, Zahra?" tanya Chafia dengan suara rendah, memastikan suaranya tidak memantul terlalu keras di antara dinding-dinding lembah yang sunyi.
Zahra tidak langsung menjawab. Ia mendekatkan segenggam tanah itu ke hidungnya, lalu meneteskan sedikit cairan bening dari sebuah vial kecil ke atas permukaan tanah tersebut. Sesaat kemudian, tanah itu mendesis pelan, mengeluarkan gelembung-gelembung kecil berwarna jingga terang yang berbau sangat menyengat. Asap tipis mengepul dari reaksi kimia tersebut.
"Sangat parah, Chafia," jawab Zahra pelan, melepas sarung tangan pelindungnya dengan hati-hati. "Racun Teratai Jingga ini tidak hanya merusak kesuburan tanah. Racun ini telah meresap jauh hingga ke lapisan air bawah tanah. Siapa pun yang meminum atau bahkan sekadar mencuci luka dengan air dari aliran sungai ini akan mengalami kehancuran sistem peredaran darah dalam hitungan detik."
Chafia melangkah mendekat, menatap air sungai yang mengalir tenang namun mematikan itu. "Apakah racun ini buatan alami dari vegetasi lembah, atau ada tangan manusia yang sengaja menyebarkannya?"
"Ini racun buatan," tegas Zahra sambil berdiri dan menepuk-nepuk debu di jubahnya. "Formula ini disempurnakan dengan intisari getah bunga beracun tingkat tinggi yang dicampur dengan mineral belerang murni. Efeknya sangat mengerikan. Racun ini dapat menggerogoti jalan darah hanya dalam beberapa detik setelah masuk ke dalam tubuh, membuat pembuluh darah membeku, menghitam, lalu pecah dari dalam."
"Sebuah senjata pemusnah massal yang sangat keji," geram Chafia, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Jika aliran sungai ini mencapai desa-desa di hilir, ribuan penduduk tidak bersalah akan tewas dalam penderitaan yang luar biasa sebelum matahari terbit besok."
"Itulah sebabnya kita harus bergerak cepat," kata Zahra. Dari dalam kantong kain di balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah wadah giok berukuran sedang yang tertutup rapat dengan lilin penyegel khusus. "Untunglah kita telah mengantisipasi hal terburuk. Aku telah membawa ramuan herbal pemungkas yang diracik khusus dari gabungan inti Bunga Teratai Salju dan Teratai Sakti."
Chafia menatap wadah giok itu dengan rasa takjub bercampur lega. "Bunga Teratai Salju dan Teratai Sakti? Bukankah kedua tanaman itu tumbuh di puncak tebing es abadi yang sangat berbahaya untuk didaki? Bagaimana kau bisa mendapatkannya dalam waktu singkat?"
Zahra tersenyum tipis, mengenang kembali perjuangan berat saat meracik formula tersebut di pertapaan beberapa malam lalu. "Pengorbanan yang sepadan jika hasilnya bisa menyelamatkan nyawa orang banyak. Inti dari Teratai Salju memiliki sifat mendinginkan yang ekstrem untuk menetralkan panasnya racun jingga, sementara Teratai Sakti berfungsi meregenerasi jaringan pembuluh darah yang rusak."
❖ ❖ ❖
Suara gemerisik dedaunan kering di atas tebing mendadak memecah keheningan lembah. Zahra dan Chafia langsung memasang kuda-kuda pertahanan. Chafia menarik pedangnya separuh keluar dari sarung, membiarkan bunyi gesekan logam yang tajam menggema di udara terbuka.
"Kita tidak sendiri," bisik Chafia tajam, matanya menatap tajam ke arah barisan batu besar di atas tebing timur.
Tiga sosok berkerudung merah muncul dari balik bayangan tebing. Wajah mereka tertutup topeng besi berbentuk iblis bermata satu, ciri khas para algojo elit Sekte Bayangan Merah. Di tangan masing-masing, mereka memegang rantai berduri yang memancarkan kilau keperakan, berlumuran cairan beracun yang sama dengan yang mencemari lembah tersebut.
"Rupanya ada tikus-tikus pengganggu yang menyelinap ke wilayah terlarang ini," ucap pemimpin kelompok algojo itu dengan suara parau yang terdengar menyeramkan dari balik topeng besinya. "Zahra si Tabib Suci dan Chafia si Pengawal Bayangan. Kehadiran kalian di sini justru menghemat tenaga kami untuk mencari kalian."
"Kalian terlambat menghentikan kami," balas Chafia dingin, mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya hingga bilah pedangnyabergetar halus. "Racun busuk kalian tidak akan pernah bisa menghancurkan lembah ini."
"Bawa mayat mereka atau hancurkan wadah penawar itu!" perintah sang pemimpin algojo.
Tanpa aba-aba lagi, ketiga algojo itu melompat turun dari ketinggian tebing dengan kecepatan kilat. Rantai berduri di tangan mereka berputar membentuk lingkaran maut yang siap meremukkan tulang siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
Chafia melesat ke depan, menjadi garda terdepan untuk melindungi Zahra. Pedangnya berkelebat cepat, memantulkan cahaya matahari senja dan menangkis hantaman rantai berduri pertama dengan dentang keras yang memekakkan telinga. Percikan api berpijar di udara malam yang mulai turun.
"Zahra, selesaikan urusanmu dengan sumber pencemaran air itu! Biar aku yang menghadapi keparat-keparat ini!" seru Chafia di tengah kesibukan menahan serangan bertubi-tubi dari dua algojo sekaligus.
Zahra mengangguk tegas. Ia mundur beberapa langkah mendekati tepi aliran sungai yang tercemar. Perempuan itu membuka tutup wadah giok, lalu mengeluarkan beberapa butir pil hijau bercahaya lembut yang memancarkan aroma harum kesegaran pegunungan.
Namun, sebelum Zahra sempat melemparkan pil-pil tersebut ke dalam air, algojo ketiga yang bergerak cepat menyusup dari sisi samping tiba-tiba menerjang ke arahnya dengan belati beracun terhunus lurus ke arah jantung Zahra.
"Awas, Zahra!" teriak Chafia panik.
Chafia mencoba melepaskan diri dari dua lawannya, tetapi salah satu rantai berduri berhasil melilit pergelangan kakinya, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Situasi mendadak berubah kritis. Zahra terjepit di antara kewajiban memurnikan air sungai dan ancaman maut dari belati sang algojo yang tinggal hitungan jengkal dari tubuhnya.
❖ ❖ ❖
Dengan gerakan refleks yang luar biasa, Zahra menjatuhkan diri ke tanah, menghindari tusukan belati maut yang hanya berjarak sehelai rambut dari dadanya. Belati itu menancap kuat pada sebatang kayu di tepi sungai. Memanfaatkan momentum jatuhnya, Zahra menyepak lutut sang algojo dengan seluruh tenaga dalamnya.
Bugh!
Algojo bertopeng besi itu terhuyung ke belakang akibat hantaman telak di titik lemah kakinya. Tanpa membuang waktu, Zahra bangkit dengan sigap dan melemparkan tiga butir pil hijau penawar racun langsung ke tengah pusaran air sungai yang menghitam.
Begitu pil-pil itu bersentuhan dengan air yang tercemar, reaksi kimia hebat langsung terjadi. Air sungai yang tadinya berwarna jingga pekat dan bergelembung beracun mendadak berubah warna menjadi jernih kebiruan. Asap putih mengepul lembut, membawa aroma wangi bunga yang menyejukkan ke seluruh penjuru lembah, menetralisir bau belerang yang menyesakkan dada.
"Tidak! Racun Teratai Jingga kita telah dimurnikan!" geram sang pemimpin algojo dengan nada putus asa dan marah besar.
Melihat misinya gagal total, amarah para algojo Sekte Bayangan Merah tersulut semakin menjadi-jadi. Pemimpin mereka mengeluarkan sebuah peluit tulang kecil dari saku bajunya dan meniupnya dengan nada melengking tinggi yang membelah keheningan malam.
Theeeeet!