Suara derap ribuan kaki menghantam tanah bumi bergetar hebat, bagaikan gempa tektonik yang merobek keheningan senja. Di padang tandus Lembah Hitam, langit mendadak berubah warna menjadi kelam kelabu, tertutup oleh kepulan debu tebal yang membumbung tinggi akibat serbuan pasukan kaum hitam. Mereka datang bagaikan gelombang pasang lautan darah, membawa kebencian membara di mata dan ribuan bilah senjata tajam yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari terbenam. Target mereka hanya satu: melenyapkan barisan perlawanan kaum putih tanpa menyisakan satu pun nyawa.
Di tengah kekacauan yang nyaris meremukkan mental siapa saja, barisan utama kaum putih berdiri di ambang kehancuran. Formasi pertahanan mereka goyah, terdesak oleh kekuatan musuh yang jumlahnya melampaui perhitungan rasional. Jeritan ketakutan, suara benturan besi yang berdenging nyaring, dan bau anyir darah mulai mendominasi udara. Keputusasaan terpancar jelas dari wajah para prajurit muda yang mulai kehilangan arah. Jika tidak ada yang menghentikan gelombang maut tersebut, seluruh aliansi dipastikan akan musnah dalam hitungan menit.
Namun, di garda terdepan, di titik paling krusial di mana badai serangan paling mematikan menghantam, dua sosok berdiri dengan gagah perkasa. Mereka adalah Fathan dan Galin, dua pendekar legendaris yang dikenal sebagai Sang Dua Benteng Perkasa. Tanpa gentar sedikit pun, keduanya melangkah maju meninggalkan barisan belakang yang mulai mundur. Kehadiran mereka seolah menjadi jangkar di tengah badai amuk yang siap menenggelamkan segalanya.
"Fathan, sepertinya kali ini musuh membawa kekuatan penuh. Mereka tidak main-main," ucap Galin dengan suara berat, matanya tajam menatap lautan manusia berbaju hitam yang kian mendekat.
Fathan tersenyum tipis, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Tatapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, melainkan tekad yang terpatri kuat di dalam dada. "Berapapun jumlah mereka, Galin, tugas kita tetap sama. Selama kita masih berdiri di sini, tidak ada satu pun dari mereka yang boleh melangkahi garis ini untuk menyentuh kawan-kawan kita."
Galin mengangguk mantap. "Kau benar. Mari kita tunjukkan kepada mereka arti sesungguhnya dari ketahanan batu karang."
Tanpa aba-aba lebih lanjut, keduanya mengambil posisi kuda-kuda yang sempurna. Dalam keselarasan napas yang luar biasa, Fathan dan Galin menghentakkan kaki kanan mereka secara bersamaan ke permukaan bumi. Dentuman keras bagai petir menyambar menggema di seluruh lembah, memicu gelombang energi kejut bertekanan tinggi yang merambat cepat ke segala arah. Tanah di sekitar mereka merekah, memunculkan pilar-pilar energi berwarna keemasan yang berputar pekat.
"Bersiaplah! Jurus Dinding Karang Teratai!" teriak Fathan dan Galin berbarengan dalam satu harmoni suara yang menggetarkan jiwa.
Seketika itu juga, pilar-pilar energi tersebut mekar menyerupai kelopak teratai raksasa yang terbuat dari batu karang kristal yang amat kokoh. Dinding pertahanan transparan berketebalan luar biasa muncul melapisi seluruh barisan utama kaum putih, memancarkan pendar cahaya hangat yang melindungi tubuh setiap pejuang di belakang mereka. Gelombang serangan pertama dari pasukan kaum hitam, yang terdiri dari ribuan tebasan pedang, tombak, dan panah beracun, menghantam dinding tersebut secara telak.
Bum! Bum! Bum!
Ledakan energi beruntun terjadi. Percikan api menyebar ke udara, namun Dinding Karang Teratai milik Fathan dan Galin sama sekali tidak bergeming. Retakan kecil pun tidak nampak di permukaan perisai tersebut. Ribuan sabetan senjata tajam yang mematikan itu terpental seketika, menghasilkan suara dentingan logam yang memekakkan telinga. Pasukan kaum hitam terdorong mundur beberapa langkah akibat pantulan tenaga dalam yang begitu masif.
Di balik dinding perlindungan, sorak-sorai penuh kelegaan mulai terdengar dari para pejuang kaum putih. Mereka yang tadinya hampir menyerah kini mendapatkan kembali secercah harapan besar.
"Luar biasa! Pertahanan mereka benar-benar tidak tertembus!" teriak salah seorang prajurit dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
Namun, Fathan dan Galin tahu betul bahwa ini baru permulaan. Lawan di hadapan mereka bukanlah prajurit sembarangan, melainkan pasukan elit bayangan hitam yang dipimpin oleh para jenderal keji. Tekanan pada dinding karang mulai terasa semakin berat, menguji batas ketahanan fisik dan tenaga dalam kedua pendekar tersebut hingga ke titik maksimal.
❖ ❖ ❖
Tekanan dari lautan musuh semakin menggila. Panglima kaum hitam, sesosok bertubuh jangkung dengan jubah compang-camping dan topeng besi mengerikan, maju ke depan barisan. Ia melihat bagaimana Dinding Karang Teratai mampu menahan seluruh gempuran awal pasukannya tanpa cacat sedikit pun. Kemarahan membara terpancar dari balik topengnya. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi aba-aba agar seluruh pasukan menghentikan serangan fisik sesaat dan memusatkan energi gelap mereka untuk serangan serentak berikutnya.
"Jangan biarkan mereka bernapas! Hancurkan perisai terkutuk itu sekarang juga dengan teknik Pemecah Jiwa!" seru sang panglima dengan suara serak yang mengerikan.
Ribuan prajurit kaum hitam segera merapal jurus kegelapan. Udara di sekitar lembah mendadak menjadi dingin membeku, diselimuti oleh kabut hitam pekat yang berbau busuk. Energi negatif berkumpul di ujung senjata mereka, membentuk bola-bola api hitam berukuran besar yang siap dilepaskan kapan saja.
Di garda terdepan, Fathan merasakan beban luar biasa menghantam pundaknya. Aliran tenaga dalam di dalam meridian tubuhnya mulai bergejolak tidak stabil akibat tekanan energi musuh yang begitu masif. Keringat bercucuran deras dari dahinya, sementara urat-urat di lehernya menonjol keluar karena menahan beban energi pelindung yang luar biasa berat.
"Galin, bagaimana keadaanmu?" tanya Fathan dengan napas tersengal-sengal, matanya tidak lepas menatap formasi musuh di seberang sana.
Galin menggertakkan giginya rapat-rapat. Darah segar perlahan merembes keluar dari sudut bibirnya akibat terlalu memforsir tenaga dalam. "Aku masih bisa bertahan, Fathan. Tapi... energi mereka kali ini terasa berbeda. Ada kekuatan leluhur gelap yang dicampurkan ke dalam serangan itu."
"Aku merasakan hal yang sama," jawab Fathan serius. "Jika kita hanya bertahan dan menunggu, dinding ini lambat laun akan kehabisan pasokan energi. Kita harus mencari cara untuk mengalihkan konsentrasi pemimpin mereka."
"Tidak ada waktu untuk menyerang balik saat ini, Fathan!" seru Galin memperingatkan, saat melihat bola-bola api hitam di seberang mulai meluncur deras ke arah mereka bagai hujan meteor kegelapan. "Tahan posisi! Jangan biarkan retak sedikit pun!"
Darrr!
Hantaman gelombang kedua jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Dinding Karang Teratai bergetar hebat. Suara derit batu kristal yang bergesekan nyaring terdengar di telinga, membuat para prajurit di belakang Fathan kembali diliputi rasa cemas yang mendalam. Sebagian kecil energi gelap berhasil merembes melewati celah-celah kecil perisai, menciptakan gelombang kejut angin puyuh yang menyapu barisan depan kaum putih. Beberapa pejuang terlempar ke belakang akibat terjangan angin tersebut.
"Fathan! Galin! Pertahankan!" gerai seorang komandan pasukan putih bernama Rian, yang berusaha bangkit sambil memegang lengannya yang terluka.