Udara di dalam Gua Tengkorak terasa sangat pekat, berbau amis darah kering dan belerang yang menusuk hidung. Di atas lantai batu yang dingin, sisa-sisa pertarungan sengit masih tampak nyata. Genangan darah para pengikut sekte sesat mengalir kecil ke celah-celah stalagmit, sementara beberapa obor dinding berderak pelan, memantulkan bayangan menari-nari di dinding batu yang basah.
Yafid menarik napas dalam-dalam, merasakan rongga dadanya bergemuruh. Keringat bercampur debu gua mengalir deras di pelipisnya. Di hadapannya, sebuah meja altar batu hitam berdiri kokoh. Di atas meja itulah terbentang sebuah gulungan kulit binatang tua yang baru saja mereka rebut setelah melumpuhkan para penjaga elit sekte.
"Kau tidak terluka parah, Rafar?" tanya Yafid tanpa mengalihkan pandangannya dari gulungan tersebut. Suaranya berat, memecah keheningan gua yang mencekam.
Rafar menyeka darah segar yang menetes dari sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia tersenyum tipis, meski seringai itu menyiratkan rasa sakit yang tertahan di rusuk kanannya.
"Hanya luka gores, Yafid. Para penjaga tadi memang menggunakan teknik cakar bayangan yang merepotkan, tapi pertahanan mereka runtuh seketika saat kau memancing perhatian mereka ke sisi timur," jawab Rafar sambil melangkah mendekat. Suaranya berbisik, menggema pelan di dalam ruangan yang luas itu.
Yafid mengangguk kecil. Ia merentangkan gulungan kulit binatang itu sepenuhnya. Permukaan kulit tersebut kasar, tetapi gambar yang terukir di atasnya sangat detail dan menggunakan tinta khusus yang memantulkan cahaya samar-samar kebiruan dalam kegelapan. Itulah Peta Rahasia Lembah Tengkorak—sebuah dokumen vital yang selama ini disembunyikan oleh para tetua Sekte Teratai Jingga dengan nyawa mereka.
"Lihat ini," tunjuk Yafid dengan ujung jarinya yang kokoh. "Garis-garis ini bukan sekadar jalur terowongan gua biasa. Ini adalah topografi rahasia yang menghubungkan seluruh jaringan bawah tanah di bawah Lembah Tengkorak."
Rafar mencondongkan tubuhnya, memicingkan mata untuk membaca tulisan kuno yang tertera di sudut peta. "Dan tanda merah menyala di bagian paling tengah itu... itu pasti titik pusatnya."
"Benar," kata Yafid dengan nada serius. "Peta ini menunjukkan lokasi tepat ritual puncak Maha Iblis Teratai Jingga. Makhluk itu tidak sekadar bersembunyi; ia sedang menyerap hawa murni bumi secara langsung dari inti lempeng benua ini."
Rafar mendengus pelan, rahangnya mengeras. "Jika ritual itu dibiarkan selesai, keseimbangan alam akan runtuh total. Seluruh dataran ini akan berubah menjadi tanah tandus yang mati, dan kekuatan spiritual para pendekar di penjuru negeri akan tersedot habis."
"Itulah sebabnya kita tidak boleh membuang waktu," tegas Yafid. Ia menggulung kembali peta itu dengan hati-hati lalu menyimpannya di balik jubahnya yang tebal. "Setiap detik yang kita lewatkan membawa sekte itu selangkah lebih dekat menuju kebangkitan penuh sang Maha Iblis."
"Tapi kita harus bersiap, Yafid," tukas Rafar mengingatkan, menatap tajam ke arah mata temannya. "Perjalanan menuju pusat ritual tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Berdasarkan peta itu, kita harus melewati rintangan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar penjaga gua."
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Yafid dan Rafar berderap cepat menyusuri lorong bawah tanah yang semakin lama semakin menurun tajam. Suhu udara di sekitar mereka berangsur-angsur naik, berubah dari dinginnya batu gua menjadi panas menyengat yang menyesakkan dada. Bau belerang kini jauh lebih pekat, menusuk tenggorokan setiap kali mereka menarik napas.
"Hawa di sini semakin tidak wajar," gerutu Rafar, melangkah hati-hati menghindari genangan cairan asam yang mendidih di sisi jalur setapak. "Energi hitam di sekitar kita mulai membebani aliran tenaga dalamku."
"Tetaplah fokus, Rafar. Kita sudah memasuki wilayah teritorial utama mereka," balas Yafid memperingatkan. Ia memegang gagang pedangnya erat-erat, matanya awas mengamati kegelapan di depan.
Tiba-tiba, lorong yang mereka lalui menyempit secara drastis, membentuk celah tebing batu yang hanya bisa dilalui satu orang dalam posisi miring. Di sinilah Titik Jepit pertama menanti. Dinding batu di sisi kiri dan kanan tampak bergetar hebat, mengeluarkan bunyi derit mengerikan seolah-olah seluruh bukit batu itu akan runtuh menimpa mereka kapan saja.
"Tunggu!" Yafid mengangkat tangan kanannya, menghentikan langkah Rafar seketika.
"Ada apa?" bisik Rafar, merendahkan posisinya bersiap siaga.
"Perangkap," jawab Yafid singkat.
Ia menunjuk ke arah lantai batu beberapa langkah di depan mereka. Permukaan lantai itu tampak berbeda—sedikit lebih mengkilap dan memantulkan cahaya obor dengan aneh. Tanpa diduga, dari celah-celah dinding, puluhan anak panah beracun meluncur deras tanpa suara, menghantam dinding batu di seberang mereka dengan kekuatan yang mampu menembus baja.
Syuuup! Syuuup! Syuuup!
"Hati-hati!" seru Rafar sambil melompat mundur, menghindari sabetan angin panah susulan yang hampir menggores lehernya.
"Mereka tahu kita datang," kata Yafid dengan suara dingin. Ia memutar pedangnya dengan cepat, menciptakan perisai angin melingkar untuk menangkis gelombang anak panah berikutnya yang datang bertubi-tubi dari arah kegelapan.
Keadaan menjadi semakin terjepit ketika gemuruh dari atas semakin keras. Batu-batu sebesar kepala manusia mulai berjatuhan dari langit-langit gua, memblokir jalur mundur mereka di belakang. Sekejap mata, jalan keluar tertutup rapat oleh longsoran batu yang masif.
"Jalur belakang runtuh!" teriak Rafar, menatap tumpukan batu besar yang menghalangi jalan. "Kita terjebak di antara hujan panah dan dinding batu ini!"
"Jangan panik!" Yafid bersuara tegas, menembus suara gemuruh batu yang berjatuhan. "Satu-satunya jalan adalah maju melewati jebakan ini!"
Yafid mengerahkan seluruh tenaga dalam tingkat tertingginya. Aura keemasan memancar dari tubuhnya, menghalau hawa hitam pekat yang mencoba merusak konsentrasinya. Dengan sebuah bentakan keras, ia melompat ke depan, menebas mekanisme jebakan di dinding dengan satu ayunan pedang yang membelah udara.
Bum!
Mekanisme batu berukuran besar yang mengatur jebakan panah itu hancur berkeping-keping. Hujan anak panah seketika berhenti, menyisakan keheningan yang menegangkan di dalam lorong sempit tersebut.
Rafar menghembuskan napas panjang, menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya. "Itu nyaris merenggut nyawa kita."
"Ini baru permulaan," ucap Yafid dingin, menatap lorong di depan yang kini memancarkan cahaya kemerahan yang menyeramkan.
❖ ❖ ❖
Cahaya kemerahan itu menuntun mereka keluar dari lorong sempit menuju sebuah gua bawah tanah yang berukuran sangat masif—seluas lapangan besar. Di tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah kawah lava yang mendidih aktif, memancarkan gelombang panas yang membakar kulit. Di atas kawah itu, sebuah jembatan batu sempit membentang tanpa pagar pengaman, menghubungkan sisi tempat mereka berdiri menuju sebuah pulau batu di tengah kawah.
Dan di sinilah Titik Jepit Tengah menghadang perjalanan mereka.
Berdiri tepat di tengah jembatan batu tersebut adalah sosok raksasa bermata tiga dengan kulit berwarna merah legam dan membawa gada berduri besar. Itu adalah Penjaga Gerbang Neraka, makhluk siluman yang diciptakan dari sisa-sisa energi kegelapan Maha Iblis.
"Kalian tidak akan bisa melewati jembatan ini, semut-semut bodoh!" suara makhluk itu menggema, menggetarkan permukaan lava di bawahnya hingga memercikkan gelombang api panas.
Rafar mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Makhluk sialan ini menghalangi satu-satunya jalan menuju pusat ritual. Kita harus melawannya secara langsung."
"Tidak ada pilihan lain," sahut Yafid. Ia melangkah maju ke ujung jembatan, menghunus pedangnya dengan mantap. "Aku akan memecah pertahanannya dari depan. Cari celah di sisi kiri tubuhnya, Rafar!"
"Baik!" teriak Rafar.