Maha Iblis melangkah keluar dari altar gua. Tubuhnya diliputi aura hawa dingin dan panas berwarna jingga membara yang memancar dari kedua telapak tangannya—sebuah pemandangan mengerikan yang membuat pesilat biasa gemetar ketakutan.
Suasana di sekitar Lembah Tengkorak mendadak membeku, lalu berubah terik dalam hitungan detik. Hembusan angin malam yang tadinya menderu kencang seolah mati tersedot oleh kehadiran sesosok bayangan yang baru saja keluar dari kegelapan altar gua batu hitam. Bayangan itu mengenakan jubah robek berwarna gelap, tetapi bagian dada dan tangannya terbuka, menampilkan kulit yang mengkilap seperti tembaga tua yang ditempa di dalam kawah merapi.
Dia adalah Maha Iblis Teratai Jingga, seorang legenda hidup yang namanya saja sudah cukup membuat para ketua mazhab besar di daratan tengah memilih mengunci diri di dalam kuil mereka.
"Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku merasakan hangatnya darah manusia di bawah langit terbuka?" suara makhluk itu bergemuruh, berat dan menyerupai gesekan batu karang di dasar samudera.
Di hadapannya, tiga orang pendekar dari Perguruan Pedang Langit berlutut dengan lutut gemetar. Pedang di tangan mereka bergetar hebat, seolah-olah bilah baja itu memiliki kesadaran sendiri untuk menolak berhadapan dengan monster di hadapan mereka. Keringat dingin bercucuran deras dari pelipis Pendekar Tua Kang, pemimpin kelompok kecil itu.
"Maha Iblis... Kau... kau seharusnya sudah disegel di dasar jurang es abadi oleh Delapan Pendekar Suci tiga ratus tahun lalu!" teriak Kang, suaranya parau dan pecah oleh rasa ngeri yang teramat sangat.
Maha Iblis Teratai Jingga tersenyum. Senyuman itu bukan menunjukkan keramahan, melainkan menyeringai lebar hingga menampakkan deretan gigi yang meruncing bagai taring serigala. Di kedua telapak tangannya, dua bentuk bunga teratai berukuran sebesar mangkuk tercipta dari kombinasi api jingga dan kristal es putih. Bunga itu berputar perlahan, memancarkan gelombang energi yang membuat udara di sekitarnya berderak pecah.
"Segel? Segel macam apa yang bisa mengurung kekuatan yang lahir dari keputusasaan dunia?" Maha Iblis melangkah maju selangkah. Jejak kakinya di atas tanah berbatu langsung meninggalkan bekas hangus sekaligus lapisan embun beku yang tebal. "Delapan Pendekar Suci itu sudah menjadi abu dan tulang belulang yang membusuk di dalam tanah sejak lama. Dan kalian? Kalian hanyalah sekumpulan semut ingusan yang datang mengantar nyawa untuk menyambut kebangkitanku."
"Jangan sombong, Iblis!" seru salah satu murid muda di belakang Kang. Didorong oleh rasa panik dan harga diri perguruan, pemuda itu nekat menghunus pedangnya dan melompat maju. "Mati kau!"
"Bodoh!" maki Kang.
Bukannya menghindar, Maha Iblis Teratai Jingga hanya melirik sekilas dengan sudut matanya. Telapak tangan kanannya yang membara dengan aura jingga disentakkan ke depan. Tidak ada suara ledakan yang dahsyat, melainkan suara desisan tajam yang memekakkan telinga.
Syuuung!
Sebuah jarum api berukuran sekumis naga melesat dari pusat teratai jingga. Jarum itu menembus udara dan langsung menembus dada sang murid muda tanpa perlawanan berarti. Pemuda itu terperanjat di udara, matanya membelalak lebar. Ketika tubuhnya jatuh menghantam tanah, tidak ada setetes darah pun yang mengalir keluar. Seluruh cairan di dalam tubuhnya telah menguap seketika oleh panas yang teramat sangat, meninggalkan sesosok jasad yang mengerut kering bagai mumi berusia ribuan tahun.
"Muridku...!" Kang menjerit histeris, air matanya tumpah seketika melihat kematian tragis anak didiknya di depan mata kepala sendiri.
"Kalian semua akan menyusulnya," bisik Maha Iblis, suaranya kini tepat berada di dekat telinga Kang, meskipun wujud fisiknya tampak berdiri sepuluh langkah di depan. Ilmu Bayangan Tanpa Batas miliknya telah mencapai tingkat di mana ruang dan waktu seolah tidak lagi berarti baginya.
❖ ❖ ❖
Berita tentang bangkitnya Maha Iblis Teratai Jingga menyebar cepat bagaikan wabah di musim semi. Dalam kurun waktu tiga hari, burung-burung merpati pos bersayap hitam membawa gulungan pesan darurat ke berbagai penjuru dunia persilatan.
Di Paviliun Air Biru, Master Shen membaca surat tersebut dengan tangan yang gemetar hebat hingga cangkir teh di dekatnya tumpah membasahi meja kayu jati.
"Apakah berita itu benar, Master?" tanya Lin Hui, pendekar wanita tangan kosong yang terkenal dengan jurus Merpati Putih Membelah Ombak. Wajahnya tampak pucat pasi. Surat dari Lembah Tengkorak tidak meninggalkan ruang untuk keraguan; tiga mazhab kecil telah musnah tanpa sisa dalam semalam, dan jejak kehancuran itu mengarah langsung ke wilayah tengah tempat mazhab-mazhab besar bernaung.
"Benar, Hui-er," jawab Master Shen dengan suara berat, mengusap jenggot putihnya yang basah oleh keringat dingin. "Makhluk itu telah kembali. Dan yang lebih menakutkan, kekuatan Teratai Jingga miliknya tampaknya telah sempurna. Dulu, tiga ratus tahun lalu, dia dikalahkan karena teknik itu belum mencapai kesempurnaan mutlak. Kini, keseimbangan antara hawa Yin ekstrem dan Yang murni di dalam tubuhnya telah menyatu tanpa cacat."
"Lalu apa rencana kita?" suara lain terdengar dari balik pintu bambu. Pendekar Pedang Bayangan, Mo Chen, melangkah masuk dengan langkah tenang, namun sorot matanya menyembunyikan ketegangan yang mendalam. Ia meletakkan pedangnya di atas meja dengan bunyi klotak yang pelan. "Jika kita hanya duduk diam menunggu di sini, mazhab kita akan menjadi mangsa berikutnya. Kita harus memanggil Aliansi Persilatan dan menyatukan seluruh kekuatan aliran putih."
Master Shen menggelengkan kepalanya perlahan, menatap ke luar jendela ke arah langit senja yang mulai memerah. "Aliansi Persilatan sudah tidak seperti dulu lagi, Mo Chen. Ketua mazhab gunung Tai sedang sakit keras, dan perguruan Shaolin masih berduka atas wafatnya sesepuh agung mereka bulan lalu. Kita terpecah belah oleh ambisi kekuasaan internal."
"Kalau begitu, kita harus bergerak sendiri," seru Lin Hui dengan nada penuh tekad, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kita tidak boleh membiarkan iblis itu merusak kedamaian dunia lagi. Aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk menghentikannya di Pegunungan Seribu Kabut."
"Jangan gegabah, Lin Hui!" bentak Mo Chen tajam, menatap wanita itu dengan pandangan memperingatkan. "Kau pikir menghadapi Maha Iblis sama dengan bertarung dengan para penjahat kelas teri di jalanan? Satu hempasan tangan dari teratai jingganya cukup untuk meleburkan tulang-tulangmu menjadi debu sebelum kau sempat mendekatinya."
"Lantas kau ingin kita menyerah begitu saja?" Lin Hui mendesis marah, balas menatap Mo Chen dengan mata menyalang. "Menunggu di sini sama saja dengan menggali kubur kita sendiri!"
"Cukup!" Master Shen mengangkat satu tangannya, melerai perdebatan sengit di antara kedua murid terbaiknya itu. Ruangan kembali sunyi senyap, menyisakan suara desau angin malam yang mulai mendingin. "Pertengkaran tidak akan menyelesaikan masalah. Kita tidak bisa maju secara membabi buta. Kita memerlukan satu hal yang dapat menahan hawa panas dan dingin dari Teratai Jingga tersebut: Cermin Pembalik Roh yang disimpan di Kuil Langit Biru."
Mendengar nama pusaka itu disebut, warna muka Mo Chen dan Lin Hui langsung berubah drastis. Pusaka itu bukan sembarang senjata; ia adalah artefak legendaris yang konon dijaga oleh kutukan mematikan di dalam gua terlarang.
❖ ❖ ❖