SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Jebakan Kabut Api Beracun

Musuh membakar seluruh parit di sekeliling lembah, menciptakan benteng kabut api beracun berwarna jingga. Banyak pesilat gabungan terdesak dan hampir terbakar oleh hawa panas beracun tersebut. Suara batuk darah dan jeritan kesakitan bersahut-sahutan di antara kobaran api yang menyala liar, mengubah kancah pertempuran menjadi neraka dunia yang mencekam.

"Tahan posisi kalian! Jangan biarkan formasi pertahanan runtuh!" seru Ki Ageng Demang dengan suara menggelegar, meskipun napasnya sendiri sudah tersengal akibat mengisap uap beracun.

Di tengah lautan api dan asap pekat yang menyesakkan, Arya berdiri tegak di barisan depan bersama Kirana. Jubah mereka kotor oleh abu hitam, sementara kulit wajah mereka basah oleh keringat bercampur jelaga. Hawa panas dari parit yang melingkari lembah itu terasa seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menghujam pori-pori kulit, mengancam untuk membakar habis jalur pernapasan siapa saja yang menghirupnya terlalu dalam.

"Musuh sengaja menjebak kita di dalam kuali neraka ini, Arya," bisik Kirana di sebelah pemuda itu, matanya menyipit menembus tirai api jingga yang berkobar-kobar. "Jika kita tidak segera menemukan cara memadamkan api beracun itu atau membuka jalur evakuasi, pasukan gabungan kita akan musnah bukan karena bilah pedang musuh, melainkan karena kehabisan oksigen dan racun."

Arya mengangguk pelan, tatapannya tajam mengamati dinding api yang berputar-putar liar. "Pendeta Naga Putih sedang mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi di pusat formasi untuk menahan agar racun itu tidak merembes masuk ke jantung pertahanan kita. Kita harus bertindak cepat sebelum tenaga beliau habis."

Suara dentuman keras kembali terdengar dari arah gerbang utama lembah. Pasukan elit kaum sesat yang mengenakan topeng perak mulai mendesak maju di balik tirai api, memanfaatkan kekacauan dan kepanikan yang melanda barisan pendekar lurus. Keadaan semakin kritis, dan setiap detik yang berlalu membawa ribuan nyawa tak bersalah selangkah lebih dekat ke ambang kematian.

❖ ❖ ❖

"Bagaimana kita bisa melewati dinding api ini? Kulit kita akan meleleh sebelum sempat menyentuh garis musuh!" keluh seorang pendekar dari Perguruan Selendang Sutra dengan nada putus asa, melemparkan senjatanya ke tanah sambil terbatuk-batuk darah.

"Jangan menyerah pada ketakutan!" bentak Arya tegas, menatap pendekar yang mulai panik itu. "Ketakutan adalah sekutu terbaik musuh kita saat ini. Jika kita ikuti rasa panik, kita sudah mati sebelum bertarung."

Kirana melangkah maju mendekati bibir parit yang menyemburkan api jingga kebiruan. Ia mengamati pola pusaran angin dan warna nyala api dengan cermat, seolah sedang membaca sebuah peta rahasia.

"Perhatikan nyala api itu," kata Kirana sambil menunjuk ke arah titik tertentu di mana kobaran api tampak sedikit lebih tipis. "Itu bukan api biasa. Itu adalah hasil dari pembakaran serbuk arang racun teratai jingga yang dicampur dengan getah pohon iblis. Titik terlemah dari pusaran angin pembawa racun itu ada di sebelah barat daya, tempat aliran angin dari lembah bertemu dengan tebing batu."

"Kau yakin?" tanya Arya, menatap gadis di sampingnya dengan penuh keyakinan.

"Aku sangat yakin," jawab Kirana mantap. "Ayahku pernah mencatat kelemahan formasi racun ini di dalam bab khusus buku pusaka mereka. Kita butuh setidaknya sepuluh orang pendekar berilmu tinggi untuk menghantam titik itu secara bersamaan guna membuka celah darurat."

"Bagus! Aku akan memanggil Ki Ageng Demang dan para ketua perguruan untuk membantu kita," ujar Arya.

Tanpa membuang waktu, Arya melesat cepat melewati kerumunan pendekar yang kocar-kacir. Ia menerobos kepulan asap tebal hingga tiba di dekat altar darurat tempat Pendeta Naga Putih dan Ki Ageng Demang berdiri. Guru tua itu tampak pucat pasi, telapak tangannya bergetar hebat saat menahan kubah energi pelindung transparan yang terus-menerus dihantam oleh gelombang panas beracun dari luar.

"Guru, kami menemukan titik kelemahan dari parit api beracun itu!" seru Arya setengah berteriak di tengah deru angin.

Pendeta Naga Putih membuka matanya perlahan, memancarkan binar kebijaksanaan di balik keletihan yang amat sangat. "Bagus, anakku. Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Aku dan para tetua akan mencadangkan tenaga untuk melindungi punggung kalian dari sergapan musuh."

Lihat selengkapnya