SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Strategi Penembusan Puncak

Malam di sekitar Puncak Kamil merangkak turun dengan kepekatan yang menekan dada. Angin utara bertiup kencang, membawa hawa dingin dari pegunungan es yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di balik rimbunnya semak berduri di lereng barat, tiga sosok bayangan berdiri tanpa suara, menyatu dengan kelamnya bayang-bayang pohon pinus purba. Mereka adalah Kamil, Azalia, dan Risha—tiga pendekar muda yang mengemban tugas paling berbahaya dalam perang besar melawan sisa-sisa pasukan kaum hitam pimpinan Maha Iblis Teratai Jingga.

Kamil merapatkan jubah gelapnya, jemarinya terulur merasakan arah embusan angin yang menerpa pipinya. Matanya tajam menatap ke arah lembah di bawah sana, tempat ribuan prajurit musuh mendirikan tenda-tenda pertahanan di sekitar gerbang benteng utama. Asap hitam beracun mengepul tipis dari tungku-tungku perkemahan, menciptakan lapisan kabut kekuningan yang beracun dan mematikan bagi siapa saja yang menghirupnya tanpa pelindung tenaga dalam.

"Angin utara bertiup semakin kencang," bisik Kamil pelan, nyaris tak terdengar di antara desau angin malam yang menggoyang dedaunan pinus. Suaranya tenang namun penuh wibawa, memancarkan ketegasan seorang pemimpin siasat yang diandalkan. "Ini adalah momentum yang tidak boleh kita sia-siakan. Jika kita salah memperhitungkan detik, kabut api beracun itu justru akan berbalik menelan kita hidup-hidup."

Azalia, yang berdiri di sisi kirinya dengan pedang ramping terselip di punggung, mengangguk paham. Ia meraba kantong-kantong kecil berisi bahan peledak khusus buatan Perguruan Lembah Bayangan yang tergantung rapi di pinggangnya. "Segala persiapan sudah matang, Kamil. Bubuk mesiu dan batu api yang kita bawa sudah ditempatkan di celah-celah batu karang tebing barat sesuai dengan rencana awalmu."

Di sisi kanan, Risha mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap tajam ke arah benteng musuh yang berkilauan diterangi obor-obor api. "Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah ketakutan para bajingan itu ketika senjata makan tuan. Mereka mengira pertahanan mereka di puncak ini tidak bisa ditembus oleh siapa pun."

Kamil mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar kedua rekan setianya itu bersiap. "Dengarkan baik-baik. Pertempuran ini bukan soal mengadu tenaga kasar, melainkan soal membaca alam dan pikiran musuh. Azalia, Risha, kalian bergeraklah sekarang menuju dinding tebing barat melalui jalur bayangan. Jangan sampai ada prajurit patroli musuh yang menyadari kehadiran kalian."

"Baik!" jawab Azalia dan Risha serempak dengan suara berbisik namun penuh keyakinan.

Dalam sekejap, kedua pendekar wanita itu melesat cepat bagaikan bayangan angin malam, memanfaatkan tonjolan-tonjolan batu karang terjal untuk mendaki tebing tanpa suara. Kamil sendiri tetap tinggal di posisinya, memusatkan pendengaran dan tenaga dalamnya untuk memantau situasi di sekitar perkemahan utama musuh. Ia tahu betul bahwa di dalam benteng tersebut, para petinggi kaum hitam sedang bersiap merayakan kemenangan semu mereka, tidak menyadari bahwa bencana besar sedang merayap mendekati pertahanan mereka dari arah yang paling tidak disangka-sangka.

❖ ❖ ❖

Di atas ketinggian tebing barat Puncak Kamil, angin malam bertiup semakin beringas, mengibaskan ujung jubah Azalia dan Risha yang tengah bersembunyi di balik dinding batu cadas yang curam. Di bawah mereka, jurang menganga sangat dalam dengan kabut putih pekat yang menyembunyikan dasar lembah. Beberapa puluh tombak dari tempat mereka berdiri, terlihat jelas barisan pos penjagaan musuh yang dijaga ketat oleh prajurit-prajurit berambut ikal dengan pedang telanjang di tangan.

"Kita sudah hampir sampai di titik tancap bahan peledak," bisik Azalia sambil memberi tanda dengan tangannya agar Risha memperlambat langkah. "Perhatikan baik-baik sudut kemiringan dinding batu itu. Di sanalah rongga angin terbesar mengarah langsung ke arah perkemahan musuh di lembah bawah."

Risha merayap maju dengan hati-hati, menempelkan tubuhnya erat-erat pada dinding batu yang dingin. "Aku melihatnya. Penjaga patroli musuh baru saja lewat lima menit yang lalu. Kita punya waktu sekitar tiga menit sebelum mereka kembali melintas."

"Bagus. Cepat pasang kantong bubuk mesiu itu ke dalam celah batu, lalu sambungkan sumbunya dengan batu pemantik api," perintah Azalia sambil bergerak cepat mengeluarkan beberapa kantong bahan peledak dari balik ikat pinggangnya.

Dengan ketrampilan gerak tangan yang luar biasa terlatih, kedua pendekar wanita itu bekerja sama memasang bahan peledak ke dalam celah-celah retakan batu karang yang rapuh namun strategis. Setiap gerakan mereka diperhitungkan dengan cermat agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa menarik perhatian para penjaga di pos terdekat.

"Sudah terpasang semua," desis Risha sambil menyeka keringat dingin yang bercampur debu di keningnya. "Sumbu utamanya sudah terhubung rapi."

"Bagus sekali," kata Azalia sambil mencabut batu pemantik api dari kantongnya. "Sekarang, bersiaplah untuk melompat mundur begitu api menyala. Ledakan ini akan memicu runtuhnya dinding tebing sekaligus membalikkan arah angin."

Tiba-tiba, dari arah pos penjagaan di bawah, terdengar suara langkah kaki berat di atas bebatuan, disusul oleh suara bentakan kasar dalam dialek asing. "Hei! Siapa di sana? Kenapa ada cahaya kecil di atas tebing itu?"

Jantung Risha berdegup kencang. "Celaka! Prajurit patroli itu kembali lebih cepat dari perkiraan!"

"Jangan panik!" seru Azalia dengan nada tegas namun tenang. "Nyalakan sumbunya sekarang juga!"

Tanpa buang waktu lagi, Azalia menyentakkan batu pemantik api ke arah sumbu utama. Ssss... Suara desisan api menyala tajam membakar sumbu belerang, memercikkan cahaya kemerahan di tengah kegelapan malam.

"Lari!" bentak Azalia.

Keduanya langsung melompat mundur ke dalam keremangan semak-semak tebing, tepat pada detik ketika para prajurit musuh menyorotkan obor ke arah tempat mereka berdiri tadi.

❖ ❖ ❖

Darrr!

Lihat selengkapnya