Langit di atas Puncak Karang Sembilan tampak kelam, tertutup awan badai berputar yang memuntahkan kilatan petir ungu tanpa henti. Di tengah arena batu purba yang dikelilingi jurang tak bertepi, angin berembus kencang merobek jubah para pendekar yang berdiri terengah-engah. Arka menggenggam pedangnya erat-erat, sementara napasnya memburu akibat luka-luka dalam yang mengalirkan darah segar ke atas tanah batu. Di hadapan mereka, berdiri sesosok bayangan raksasa berselubung energi kegelapan pekat—Maha Iblis, penguasa sekte sesat yang telah merenggut ribuan nyawa tak bersalah demi ambisi menguasai dunia persilatan.
"Pertahanan kalian hanyalah debu yang tertiup angin," suara Maha Iblis mengguntur, menggetarkan isi dada setiap orang yang mendengarnya. Energi hitam mengepul dari tubuhnya, membentuk ribuan cakar gaib yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berani mendekat.
Arka melirik sekilas ke arah kawan-kawannya di sebelah kiri dan kanan. Para tetua dari tiga perguruan besar sudah terkapar tak berdaya, kehabisan tenaga setelah bertarung melawan puluhan jenderal iblis sebelumnya. "Kita tidak boleh mundur sekarang, kawan-kawan," bisik Arka dengan suara parau, menatap tajam ke arah sosok mengerikan di depan mereka. "Jika kita gagal di sini, seluruh daratan tengah akan jatuh ke dalam kegelapan abadi."
Tera yang berdiri di samping Arka mengangguk perlahan. Wajahnya pucat, namun tatapannya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Ia mengenakan jubah putih bersih yang mulai koyak di beberapa bagian, sementara tangan kanannya menggenggam erat sehelai selendang sutra putih legendaris—pusaka suci Perguruan Teratai Putih yang dikenal sebagai Selendang Penyapu Kegelapan.
"Arka, fokuslah pada celah di dada kirinya saat aku mengalihkan perhatiannya," kata Tera dengan nada tenang namun penuh penekanan. Suaranya terdengar jelas di tengah deru angin badai yang semakin beringas.
Arka menoleh sejenak, menatap mata Tera yang menyiratkan kedalaman rasa percaya yang luar biasa besar. "Hati-hatilah, Tera. Kekuatan Maha Iblis jauh melampaui bayangan kita."
"Jangan khawatirkan aku," jawab Tera sambil mengembangkan senyum tipis di bibirnya. "Selendang ini telah diwariskan turun-temurun untuk membersihkan dunia dari noda hitam seperti dia."
Tanpa membuang waktu lagi, Maha Iblis melancarkan serangan pertamanya. Gelombang tenaga hitam meluncur deras bagai ombak besar tsunami, menghantam tanah batu dan menciptakan serpihan batu karang yang beterbangan ke segala arah. Arka segera melompat ke sisi kanan untuk menghindari hantaman tersebut, sementara beberapa pendekar di barisan belakang terpental jauh akibat terjangan angin iblis yang begitu dahsyat.
Tera tidak tinggal diam. Ia mengalirkan seluruh tenaga dalamnya ke dalam selendang sutra di tangannya. Kain putih itu seketika bersinar terang, memancarkan pendar cahaya keperakan yang hangat dan menyejukkan. Tera melompat ringan meninggalkan pijakannya, melayang ke udara bagai bidadari surga yang turun dari kahyangan, siap menghadapi amukan sang penguasa kegelapan.
❖ ❖ ❖
Udara di sekitar Puncak Karang Sembilan mendadak terasa hampa saat Tera melayang semakin tinggi. Selendang putih di tangannya berkibar megah, memantulkan cahaya murni yang mulai mendesak kabut jingga kekuningan ciptaan Maha Iblis. Aura kejahatan yang tadinya menekan dada para pesilat perlahan-lahan mengendur, digantikan oleh kehangatan energi suci yang membersihkan atmosfer sekitar.
"Bocah perempuan bodoh! Berani sekali kau mencampuri urusanku!" murka Maha Iblis. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, memanggil ribuan jarum energi hitam yang melesat tajam bagai hujan badai ke arah Tera.
"Lihatlah kemurnian cahaya ini!" seru Tera lantang. Suaranya bergema menembus deru angin badai.
Tera memutar tubuhnya di udara dengan anggun, mengibaskan selendang sutranya dalam gerakan melingkar yang sempurna. Kain putih itu berubah wujud menjadi perisai cahaya raksasa yang berputar cepat, menepis setiap jarum hitam yang datang menghujam. Trang, trang, trang! Suara benturan energi bergemerincing nyaring di angkasa, memercikkan bunga api keemasan yang indah namun mematikan.
Arka yang melihat kesempatan emas itu langsung mengerahkan jurus pamungkasnya. Ia melesat cepat menyusuri celah bebatuan di bawah, memanfaatkan lindungan cahaya dari selendang Tera untuk mendekati Maha Iblis tanpa terdeteksi oleh radar tenaga dalam musuh.
"Jangan biarkan mereka mendekat!" teriak salah satu panglima iblis yang tersisa, mencoba mencegat langkah Arka dari samping.
"Langkahmu terhenti di sini, iblis!" bentak Arka sambil mengayunkan pedangnya dengan tenaga penuh, menebas panglima tersebut hingga tersungkur bersimbah darah dalam satu kali serangan kilat.
Namun, Maha Iblis menyadari pergerakan Arka. Dengan kibasan tangan kanannya yang dibungkus kabut hitam tebal, ia mengirimkan gelombang kejut ke arah bawah tempat Arka berlari. Arka terkejut dan terpaksa melompat mundur untuk menghindari hantaman yang mampu meremukkan batu karang tersebut.
"Arka, bertahanlah!" seru Tera dari atas udara. Ia melihat musuh mengalihkan fokus serangan utama ke arah Arka, meninggalkan celah terbuka di pertahanan bagian atas Maha Iblis.
Tera segera memanfaatkan momen tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam, mengalirkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke dalam ujung selendang putihnya. Kain sutra itu mendadak memancarkan cahaya yang menyilaukan mata, mengusir sisa-sisa kabut jingga yang masih menyelimuti puncak gunung.