SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Penyesalan dan Kebenaran

Medan pertempuran di Lembah Kematian bergemuruh hebat, memuntahkan gelombang energi panas yang membakar langit malam. Ribuan pendekar dari berbagai penjuru perguruan bersatu bahu-membahu menghadapi pasukan bayangan yang dipimpin langsung oleh Maha Iblis. Di tengah lautan darah dan dentingan pedang yang memekakkan telinga, para tetua aliran sesat yang selama ini menjadi garda terdepan sang penguasa kegelapan mulai merasakan kejanggalan luar biasa pada aliran tenaga dalam mereka.

"Ada apa ini? Kenapa pusaran energi di dantian-ku terasa tersedot keluar?" geram Ki Baginda, seorang tetua sesat aliran Darah Hitam, sambil berlutut satu kaki di atas tanah yang bergetar. Wajahnya pucat pasi, peluh sebesar biji jagung bercampur darah mengalir deras di keningnya.

Nyi Roro Kenanga, pemimpin sekte Bayangan Malam yang berdiri tidak jauh darinya, mengalami hal serupa. Ia terhuyung-huyung, mencoba mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menancapkan tongkat keramat berukir tengkorak ke dalam tanah batu. "Tenaga dalamku... lenyap begitu saja! Padahal aku tidak sedang mengeluarkan jurus pamungkas!" teriaknya panik, suaranya nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk jeritan prajurit yang bertarung.

Di hadapan mereka, berdiri sosok raksasa berjubah hitam legam dengan mata menyala merah darah—Maha Iblis. Makhluk itu tidak lagi memegang senjata, melainkan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara. Dari telapak tangannya, ribuan benang tak kasat mata meluncur deras, menembus punggung para tetua sesat yang selama ini mengabdikan diri secara membabi buta kepadanya.

"Maha Iblis! Apa yang kau lakukan pada kami?!" seru Ki Baginda dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, matanya melotot menatap sang pemimpin dengan rasa ngeri yang teramat sangat. "Kami telah mengorbankan ribuan nyawa demi kebangkitanmu! Kenapa kau menghisap kekuatan kami?!"

Maha Iblis tertawa mengguntur, suara tawa itu menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya, memancarkan keputusasaan yang pekat. "Kalian hanyalah wadah penampung! Buah ranum yang sengaja kutanam dan kupupuk dengan darah manusia, agar pada malam ini bisa kuambil kembali saripatinya!" jawab Maha Iblis dengan suara dingin tanpa ampun.

❖ ❖ ❖

Jeritan kesakitan serentak meledak dari barisan para tetua sesat. Tubuh mereka yang tadinya kekar dan penuh wibawa kini mulai menyusut dengan cepat, kulit mengeriput, dan rambut memutih dalam hitungan detik. Energi murni yang telah mereka kumpulkan selama puluhan tahun melalui latihan kejam dan pembunuhan massal kini tersedot keluar melalui pori-pori kulit, mengalir deras menuju tubuh Maha Iblis yang semakin membengkak memancarkan aura kegelapan yang mengerikan.

"Tidak... tidak mungkin! Ini pengkhianatan!" rintih Nyi Roro Kenanga, air matanya bercampur darah saat ia menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Puluhan tahun ia menumpumpu kesetiaan, mengira dirinya akan diangkat menjadi penguasa dunia persilatan di sisi Maha Iblis. Kenyataannya, ia hanyalah seekor ternak yang digemukkan sebelum disembelih di ujung maut.

"Penyesalan kalian sudah tidak ada gunanya lagi," desis Maha Iblis, tubuhnya kini diselimuti api hitam berkobar. "Tanpa pengorbanan jiwa kalian, gerbang keabadian ini tidak akan pernah terbuka sempurna!"

Di sisi lain medan laga, para pendekar aliran lurus menghentikan serbuan mereka sejenak, terpana menyaksikan pemandangan mengerikan di hadapan mereka. Arya, pendekar pedang muda dari Perguruan Rajawali Putih, menurunkan senjatanya perlahan, menatap tajam ke arah para tetua sesat yang kini meregang nyawa di tangan pemimpin mereka sendiri.

"Lihat itu," bisik Arya kepada gurunya, Pendekar Sepuh Gandamana, yang berdiri di sampingnya. "Mereka saling mangsa satu sama lain. Kesesatan pada akhirnya akan menghancurkan para pemujanya sendiri."

Gandamana mengangguk pelan, jenggot putihnya tertiup angin malam yang sarat bau hangus. "Itulah hukum alam yang tidak pernah bisa diubah, Arya. Siapa pun yang bersekutu dengan kegelapan pasti akan berakhir dalam kehancuran yang diciptakannya sendiri. Majulah, bersiaplah. Saat Maha Iblis selesai menyerap tenaga mereka, kekuatannya akan mencapai puncak yang belum pernah ada sebelumnya."

"Aku tidak akan membiarkan monster itu menyerap satu tetes tenaga lagi!" seru Arya dengan kemarahan meluap-luap. Ia kembali menghunus Pedang Naga Emasnya, membiarkan kilau cahaya keemasan menerangi wajahnya yang penuh tekad baja.

❖ ❖ ❖

Sebelum Arya sempat melompat maju, ledakan energi dahsyat dari tubuh Maha Iblis melontarkan seluruh tetua sesat yang tersisa hingga terpental jauh menabrak tebing batu. Ki Baginda terkapar tak berdaya di tanah berpasir, napasnya tersengal-sengal pendek, menatap langit malam dengan pandangan kosong yang dipenuhi penyesalan mendalam.

"Seandainya... seandainya aku mendengarkan peringatan para leluhur dahulu..." bisik Ki Baginda terbata-bata, darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya. "Kekuasaan semu ini... membawaku ke neraka yang kubuat sendiri."

Lihat selengkapnya