SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Bunga Penawar Terakhir

Medan pertempuran di Lembah Kematian bagaikan kuali besar yang mendidih. Asap pekat mengepul tinggi ke angkasa, membawa bau amis darah dan sengatan kimia yang mematikan. Di antara riuh rendah suara benturan pedang dan teriakan kesakitan prajurit yang terluka, dua sosok wanita bergerak lincah tanpa kenal lelah. Mereka adalah Chafia dan Zahra, dua murid terkasih dari Tabib Agung yang mempertaruhkan nyawa di garis belakang pertahanan untuk menyelamatkan para pejuang keadilan.

"Zahra, cepat bawa kain bersih dan air perasan daun mint ini ke sini! Korban di tenda darurat sektor timur terus berdatangan!" seru Chafia dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang jelita kini dipenuhi noda jelaga hitam dan keringat bercampur debu tanah.

Zahra mengangguk cepat. Ia menggendong sebuah keranjang besar yang penuh berisi botol-botol kecil berisi penawar racun buatan Tabib Agung. Langkah kakinya begitu sigap melompati genangan darah dan serpihan senjata yang berserakan di tanah berbatu. "Aku datang, Chafia! Bertahanlah, kawan-kawan!" teriaknya memberi semangat kepada para pendekar yang mengerang kesakitan di atas tandu darurat.

Chafia dan Zahra bergerak cepat mengobati ratusan pesilat yang terluka di tengah dentuman pertempuran, memastikan tak ada satu pun pejuang keadilan yang terbiar tewas oleh efek racun jingga. Racun keji itu bekerja sangat cepat; dalam hitungan menit, kulit korban akan berubah kebiruan, aliran darah membeku, dan kesadaran mereka lenyap selamanya jika penawar khusus tidak segera dimasukkan ke dalam tubuh mereka.

"Racun ini sudah mencapai dada kanannya, Zahra! Jika kita terlambat sepuluh detik lagi, jantungnya akan berhenti berdenyut," ucap Chafia cemas sambil menekan titik akupuntur di sekitar bahu seorang pendekar pedang dari Perguruan Rajawali Putih yang sekarat.

"Gunakan jarum perak berakar giok untuk membuka jalurnya, aku akan meneteskan getah Bunga Penawar Terakhir langsung ke tenggorokannya," instruksi Zahra dengan suara tenang namun tegas, menunjukkan keahlian medis luar biasa yang diwariskan langsung oleh guru mereka.

Dengan koordinasi mata dan tangan yang sempurna, keduanya bekerja bahu-membahu menyelamatkan nyawa prajurit demi prajurit. Di luar tenda darurat, dentuman meriam energi dan suara raungan musuh terus menggelegar, membuat tenda kain tebal itu bergetar hebat setiap kali gelombang kejut pertempuran utama mendekati garis pertahanan mereka.

❖ ❖ ❖

Di tengah kesibukan mereka merawat korban, suara derap kuda tempur dan teriakan gerombolan pasukan bayangan musuh tiba-tiba mendekat dari arah barat. Garis pertahanan terdepan yang dijaga oleh para pendekar muda mulai kocar-kacir di bawah terjangan pasukan elit musuh yang membawa tabung-tabung gas beracun jingga tambahan.

"Awas! Pasukan bayangan menembus garis pertahanan barat!" seru seorang pendekar yang berlari mundur dengan luka parah di lengan kirinya, jatuh tersungkur tepat di depan meja obat Chafia.

Chafia segera merespons. Ia menyambut tubuh pendekar yang hampir pingsan itu, lalu membaringkannya dengan lembut di atas hamparan jerami. "Zahra, lindungi persediaan botol penawar racun! Aku akan menahan mereka sebentar dengan taburan bubuk pelumpuh saraf!" perintah Chafia sambil merogoh kantong kain di pinggangnya yang berisi ramuan racun lumpuh buatannya sendiri.

"Jangan gegabah, Chafia! Jumlah mereka terlalu banyak untuk kauhadapi sendirian!" balas Zahra memperingatkan, tangannya gemetar sejenak saat melihat tiga orang prajurit musuh berzirah hitam legam mulai memasuki area tenda darurat dengan pedang terhunus keji.

"Kita tidak punya pilihan! Kalau persediaan Bunga Penawar Terakhir ini hancur diserang mereka, ratusan pendekar di sini akan mati sia-sia!" seru Chafia mantap. Tanpa menunggu ragu lagi, ia melompat keluar dari balik meja pengobatan, melemparkan segenggam bubuk putih berkilau ke udara tepat ke arah prajurit musuh yang menyerbu masuk.

Puff! Bubuk pelumpuh itu meledak di udara, membentuk awan tipis yang langsung terhirup oleh para prajurit musuh. Seketika itu juga, langkah kaki ketiga prajurit tersebut melambat, tubuh mereka kaku, dan mereka terjatuh ke tanah dengan mata terbelalak tanpa mampu menggerakkan satu jari pun.

Namun, situasi tidak lantas aman. Dari balik reruntuhan tenda yang terbakar, muncul seorang komandan pasukan bayangan musuh berbadan kekar, membawa pedang bermata dua yang memancarkan aura kegelapan pekat. Komandan itu menatap tajam ke arah Chafia dan Zahra dengan senyum seringai mengerikan di balik helm besinya.

"Wah, rupanya dua gadis tabib cantik yang menjadi jantung pertolongan di sini," ejek sang komandan dengan suara berat dan serak. "Mati kalian di tanganku hari ini!"

❖ ❖ ❖

Chafia merapatkan kedua kakinya, bersiap memasang kuda-kuda bela diri tingkat tinggi yang dipelajarinya bersamaan dengan ilmu pengobatan. Meskipun tenaga dalamnya tidak sebesar para pendekar garis depan, keahliannya dalam menggunakan jarum beracun dan kecepatan gerakannya mampu mengimbangi musuh yang mengandalkan kekuatan fisik semata.

"Majulah kalau kau berani menyentuh para pasienku!" tantang Chafia dengan suara tajam, jemarinya menyelipkan lima bilah jarum perak berkilau di antara sela-sela jarinya.

Lihat selengkapnya