SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Pertempuran Dahsyat, Menggetarkan Bumi

Angin pegunungan berhembus kencang, membawa serta bau debu dan desir darah yang menguar di udara terbuka. Langit di atas Lembah Tengkorak tampak tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat, seolah alam turut bersedih menyaksikan pertumpahan darah yang akan segera mengubah sejarah dunia persilatan. Di antara tebing-tebing cadas yang menjulang tinggi, barisan pasukan aliansi keadilan berdiri tegak bagaikan dinding karang yang tak tergoyahkan.

Di garda terdepan, Arya memegang pedang pusakanya erat-erat. Tatapannya tajam menatap ke seberang lembah, tempat ribuan pasukan musuh dari Sekte Bayangan Hitam berbaris rapi menyerupai lautan manusia yang siap menerjang kapan saja. Jubah hitam Arya berkibar megah diterpa angin kencang, sementara tenaga dalam tingkat puncaknya mengalir deras di sekujur pembuluh darahnya, menciptakan getaran halus di udara sekitar.

"Apakah kalian sudah siap?" suara Arya menggema tegas, memecah keheningan tegang yang menyelimuti barisan pasukannya.

Di sampingnya, Kirana mengangguk mantap. Perempuan itu menggenggam sebilah belati giok bercahaya keperakan yang memancarkan aura dingin yang menyejukkan. "Kami tidak akan mundur sejengkal pun, Arya. Hari ini kita akhiri tirani mereka untuk selamanya."

Tak jauh dari mereka, Master Bu Gu berdiri dengan tongkat kayu tua di tangannya, wajah tuanya tampak tenang namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar. "Ingatlah, musuh kita kali ini bukan sekadar gerombolan penjahat biasa. Mereka adalah sisa-sisa kekuatan kegelapan yang berniat merusak tatanan bumi. Kerahkan seluruh kemampuan kalian, namun jangan biarkan amarah menguasai akal sehat."

Di seberang lembah, tawa menggelegar terdengar membelah angkasa. Pemimpin Sekte Bayangan Hitam, Raja Iblis Langit, maju menunggangi seekor kuda siluman bermata merah menyala. Jubah kebesarannya yang berwarna merah darah berkibar mengerikan. Di tangannya terselip sebuah trisula hitam yang memancarkan energi kematian yang pekat.

"Kalian mengira aliansi remeh temeh ini bisa meruntuhkan kekaisaran bayanganku?" geram Raja Iblis Langit dengan suara menggelegar yang membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. "Kalian semua datang hanya untuk menggali kuburan kalian sendiri di lembah terkutuk ini!"

"Tirani kalian telah merenggut terlalu banyak nyawa yang tidak bersalah!" balas Arya dengan suara lantang penuh wibawa. "Hari ini, Lembah Tengkorak akan menjadi saksi keruntuhan kerajaan kegelapanmu!"

"Serbuuu!" komando Raja Iblis Langit mengangkat trisulanya tinggi-tinggi ke udara.

Dalam sekejap, suara gemuruh ribuan kaki pasukan musuh berlari menerjang bagaikan air bah yang meluap. Bumi pegunungan bergetar hebat seolah diterpa gempa bumi dahsyat. Pertempuran kolosal pecah di seluruh penjuru Lembah Tengkorak. Denturan senjata, pendaran tenaga dalam, dan sorak-sorai keadilan menggetarkan bumi pegunungan secara serentak.

Arya melesat maju bagai kilat, memimpin barisan depan menyambut terjangan musuh. Pedangnya berkelebat cepat, menebas pertahanan barisan terdepan pasukan bayangan dalam sekali ayunan.

❖ ❖ ❖

Benturan senjata logam beradu nyaring di udara, menciptakan percikan api yang berpijar terang di tengah temaram cahaya matahari yang tertutup awan badai. Arya bergerak laksana bayangan angin, menghindari tusukan tombak bertubi-tubi dari para perwira elit musuh sebelum akhirnya membalas dengan hantaman gelombang tenaga dalam yang membuat tiga orang musuh terpental jauh ke belakang.

"Jangan biarkan mereka menembus sayap kiri!" seru Kirana di tengah kekalutan medan perang. Perempuan itu berputar anggun, belati giok di tangannya memancarkan cahaya menyilaukan yang membekukan setiap bilah pedang musuh yang mencoba mendekatinya.

Di sisi lain lembah, pertempuran tidak kalah sengitnya. Master Bu Gu dikelilingi oleh selusin pendekar aliran hitam yang membawa rantai berduri panjang. Meskipun usianya telah senja, gerakan Master Bu Gu sangat lincah dan sulit ditebak. Tongkat kayunya menghantam titik-titik akupunktur musuh dengan presisi yang mematikan, membuat lawan-lawannya roboh seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.

Namun, jumlah pasukan Sekte Bayangan Hitam tampaknya tidak ada habisnya. Setiap kali satu barisanroboh, dua barisan pengganti langsung mendesak maju dari belakang, menutupi celah pertahanan dengan gelombang serangan yang semakin beringas.

"Arya, pertahanan sayap kanan kita mulai terdesak!" lapor seorang perwira aliansi yang berlari mendekat dengan napas terengah-engah, bahunya terluka parah dan bersimbah darah.

Arya melirik sekilas ke arah sayap kanan. Terlihat jelas pasukan jenderal bayangan musuh, Jenderal Gilang, sedang mengamuk dengan kapak bermata dua yang berukuran besar, merobohkan barisan pertahanan aliansi satu per satu dengan beringas.

"Aku akan menanganinya," ujar Arya singkat.

Tanpa membuang waktu, Arya melompat tinggi ke atas batu karang besar, lalu meluncur deras menukik tajam ke arah Jenderal Gilang. Kehadiran Arya yang mendadak membuat sang jenderal musuh menghentikan amukannya dan menyambut kedatangan Arya dengan seringai mengerikan di wajahnya.

"Bagus, pemimpin aliansi bodoh datang sendiri untuk menyerahkan kepalanya!" cibir Jenderal Gilang, mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi.

Dengan tenaga dalam yang meluap-luap, Jenderal Gilang mengayunkan kapaknya mendatar, menciptakan gelombang angin beracun yang memotong pepohonan di sekitarnya. Arya menangkis serangan itu dengan pedang pusakanya. Dentuman keras akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi itu menciptakan gelombang kejut ke segala arah, melempar debu dan bebatuan kecil ke udara.

Situasi di titik itu mendadak menjadi sangat kritis. Arya terjepit di antara puluhan prajurit bayangan yang mengepungnya rapat-rapat sementara Jenderal Gilang terus melancarkan hantaman kapak berat yang menguras tenaga.

❖ ❖ ❖

Keringat bercampur debu mengalir deras di pelipis Arya. Napasnya mulai memburu akibat tekanan tenaga dalam yang luar biasa besar dari Jenderal Gilang. Setiap kali pedangnya beradu dengan kapak besar itu, getaran hebat menjalar hingga ke tulang lengannya, membuat otot-ototnya terasa terbakar.

Lihat selengkapnya