Angin malam di Dataran Abadi berembus kencang, membawa aroma belerang dan darah segar yang menusuk hidung. Di tengah arena pertempuran yang porak-poranda akibat hantaman tenaga dalam tingkat tinggi, Arka berdiri dengan napas memburu. Jubahnya yang semula putih bersih kini robek di berbagai sisi, berlumuran noda merah dari luka-luka dangkal di sekujur tubuhnya. Pedang di tangannya terasa semakin berat, sementara tenaga dalamnya kian menipis setelah berjam-jam bertarung melawan pasukan kegelapan.
Di hadapannya, sosok raksasa berselubung asap hitam legam—Maha Iblis—tertawa berderai-derai. Suaranya menggema bagai guntur di tengah langit malam, menciptakan getaran hebat di dada setiap pejuang yang mendengarnya. Makhluk keji itu melayang rendah di atas tanah, kedua matanya menyala merah terang memancarkan niat membunuh yang pekat. Arka tahu betul bahwa dirinya kini berada di ambang batas kemampuan fisiknya, namun ia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun di hadapan monster tersebut.
"Arka! Jangan biarkan ia mengalihkan perhatianmu!" teriak Azalia dari atas tebing batu karang di sebelah timur, suaranya melengking tajam membelah keheningan malam.
Arka tidak sempat membalas teriakan itu. Maha Iblis tiba-tiba melesat secepat kilat, meninggalkan jejak bayangan hitam di udara. Dalam sepersekian detik, makhluk itu telah melenyapkan jarak di antara mereka dan bergeser tanpa suara ke arah belakang tubuh Arka. Gerakan tersebut begitu halus dan mematikan, dirancang khusus untuk melancarkan serangan bokongan telak yang tidak akan sempat disadari oleh targetnya.
"Matilah, bocah bodoh!" desis Maha Iblis dengan suara serak yang mengerikan, sambil mengangkat tangan kanannya yang telah berubah wujud menjadi cakar tajam berkilat hitam. Cakar itu mengandung energi penghancur jiwa yang siap merobek punggung Arka hingga menembus jantungnya dalam satu gerakan tunggal.
Arka, yang memiliki kepekaan tempur luar biasa, sebenarnya merasakan perubahan tekanan udara di belakangnya. Namun, tubuhnya yang sudah terlalu lelah merespons sepersekian detik lebih lambat dari biasanya. Ia mencoba memutar tubuh dan mengangkat pedangnya untuk menangkis, tetapi ia tahu sudut serangannya sudah terlambat. Keputusasaan sempat melintas di benak para prajurit kaum putih yang menyaksikan pemandangan tersebut dari kejauhan.
"Tidak! Arka!" seru Risha dari atas tebing seberang, matanya membelalak lebar penuh kecemasan mendalam.
Namun, di detik-detik yang paling menentukan ketika cakar maut Maha Iblis hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari punggung Arka, dua garis cahaya hijau zamrud melesat membelah kegelapan malam dengan kecepatan yang melampaui desau angin. Panah-panah itu meluncur lurus dengan presisi tingkat dewa, diandalkan penuh pada kerja sama tim yang telah teruji dalam berbagai medan laga.
❖ ❖ ❖
Dua anak panah berujung giok murni itu meluncur tanpa suara, memotong jalur udara tepat di antara ruang kosong antara cakar Maha Iblis dan punggung Arka. Azalia dan Risha, yang berdiri berdampingan di atas ketinggian tebing karang dengan busur panah masih mengepulkan sisa tenaga dalam, menatap tajam ke arah sasaran mereka dengan napas tertahan. Mereka tahu bahwa kesalahan sekecil apa pun akan berakibat fatal bagi keselamatan rekan mereka di bawah sana.
"Kena!" geram Azalia dalam hati, saat melihat kilau giok pada ujung panah berpadu sempurna dengan cahaya bulan purnama.
Maha Iblis, yang sedari awal sangat percaya diri dengan serangan bokongannya, tiba-tiba merasakan sensasi dingin yang luar biasa tajam menusuk kulit bahu kanannya. Gerakan cakar maut yang tadinya hendak menembus punggung Arka mendadak terhenti di udara. Energi hitam pekat yang tadinya berkumpul pekat di ujung jari-jarinya berangsur-angsur buyar, terpencar menjadi serpihan-serpihan asap tipis yang tertiup angin malam.
Cesss!
Suara desisan halus terdengar ketika mata panah berujung giok itu menembus jubah hitam dan menghujam telak titik saraf utama di bahu kanan sang makhluk durjana. Giok khusus tersebut bukanlah batu biasa, melainkan artefak suci yang diciptakan untuk menetralisir aliran chi kegelapan.
Maha Iblis menjerit kencang, bukan karena luka fisik biasa, melainkan karena aliran tenaga dalam di sekujur tubuhnya mendadak mengalami kekacauan total. Titik saraf yang dihantam oleh panah tersebut adalah pusat sirkulasi energi yang mengontrol seluruh kekuatan magis sang iblis. Ketika titik itu lumpuh, aliran darah hitam di dalam tubuhnya berbalik arah, menciptakan rasa sakit yang luar biasa dahsyat hingga membuat sosok mengerikan itu terhuyung-huyung mundur ke belakang.
Arka, yang merasakan hembusan angin dari cakar musuh tiba-tiba lenyap, langsung memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Tanpa menoleh ke belakang, ia melompat ke depan, memutar tubuhnya dengan sigap, dan menghujamkan pedangnya ke arah dada Maha Iblis yang kini terbuka lebar akibat kehilangan keseimbangan.
"Rasakan ini!" bentak Arka dengan sisa tenaga yang dikerahkannya secara penuh.
Trang!
Serangan Arka berhasil mengenai sasaran, namun karena Maha Iblis memiliki pertahanan tubuh yang amat tebal, pedang Arka hanya mampu menggores permukaan kulitnya dan memercikan bunga api. Walau demikian, hantaman itu sudah cukup untuk membuat sang iblis semakin terdesak dan kehilangan kendali atas jurus pamungkasnya.
Maha Iblis meraung murka, mencabut sendiri anak panah berujung giok yang tertancap di bahunya dengan tangan kiri, lalu melemparkannya ke tanah hingga berkeping-keping. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah tebing tempat Azalia dan Risha berdiri.