SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Benturan Dahsyat Hawa Keemasan

Udara di sekitar kawah suci mendadak membeku sebelum berubah menjadi lautan api yang bergolak hebat. Langit malam yang tadinya bertabur bintang kini tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat berputar, memantulkan cahaya merah menyala dari dasar jurang. Di tengah kawah tersebut, Maha Iblis berdiri dengan postur menjulang tinggi, dikelilingi oleh pusaran aura jingga yang berdenyut-denyut mengerikan. Setiap detik, makhluk itu menghirup sisa-sisa energi alam, membuat tubuhnya semakin kukuh bagaikan patung baja purba.

Arka berdiri beberapa meter di hadapan sang monster. Napasnya teratur, meski rongga dadanya bergemuruh menahan tekanan tenaga dalam tingkat tinggi. Di sekeliling tubuh Arka, lapis demi lapis cahaya keemasan murni mulai terpancar terang, mengusir kegelapan yang merayap di sekitar kakinya. Jubah putihnya berkibar liar diterpa angin kencang yang tercipta dari benturan dua kekuatan besar yang saling bertolak belakang.

"Kau sudah terlambat, Pendekar Teratai Emas," suara Maha Iblis menggema di dalam kepala Arka, terdengar serak namun penuh daya cengkeram psikologis yang kuat. "Dunia ini sudah berada dalam genggamanku. Tidak ada lagi ruang bagi manusia lemah sepertimu."

Arka menyipitkan matanya, mempererat cengkeraman pada gagang pedang pusakanya. "Kekuasaan yang kau rebut dengan cara menghancurkan kehidupan tidak akan pernah abadi," balas Arka tegas, suaranya memecah deru angin malam yang bising. "Hari ini, di tempat ini pula, aku akan memutus rantai kegelapan yang kau bawa."

Maha Iblis tertawa sinis, memperlihatkan taring-taring tajam yang berkilau di bawah sorot cahaya jingga. "Kesombongan yang naif! Mari kita buktikan seberapa tangguh aliran tenaga dalam yang kau banggakan itu!"

Tanpa aba-aba lagi, Arka melompat menerjang Maha Iblis. Gerakannya begitu cepat bagai sambaran petir menyayat kegelapan malam. Pedang di tangannya terangkat tinggi, memancarkan pijar cahaya keemasan yang menyilaukan mata, siap menghujam tepat ke jantung sang penguasa kegelapan. Maha Iblis mendengus rendah, mengangkat tangan kanannya yang diselimuti cakar api jingga pekat untuk menyambut terjangan tersebut.

Benturan dua tenaga dalam raksasa—hawa keemasan Pendekar Teratai Emas milik Arka beradu dengan hawa jingga membara milik Maha Iblis—menciptakan gelombang ledakan dahsyat yang meruntuhkan tebing-tebing batu di sekitarnya!

Suara gemuruh benturan itu menggelegar dahsyat, membelah angkasa dan mengguncang tanah hingga bermil-mil jauhnya. Batu-batu sebesar rumah terlepas dari dinding tebing dan berjatuhan ke jurang. Arka terpental ke belakang akibat pantulan tenaga yang luar biasa besar, mendarat dengan kedua kaki menancap kuat di atas tanah yang retak-retak. Sementara itu, Maha Iblis terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak kaget karena serangan pemuda itu mampu menembus lapisan pelindung apinya.

"Keparat..." geram Maha Iblis, menyadari ada sedikit darah hitam yang menetes dari sudut bibirnya.

Arka menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya, mengatur kembali aliran darah di dalam tubuhnya yang sempat bergejolak hebat. Pertempuran baru saja dimulai, dan taruhannya adalah keselamatan seluruh umat manusia.

❖ ❖ ❖

Guncangan akibat benturan pertama tadi belum sepenuhnya reda ketika dinding tebing di sisi kiri kawah tiba-tiba runtuh sepenuhnya, menimbun jalur pelarian satu-satunya. Debu tebal mengepul tinggi, menciptakan kabut abu-abu yang mencekam. Di tengah kabut tersebut, bayangan-bayangan hitam mulai bergerak mendekat. Mereka adalah para sisa pengikut setia sekte sesat yang selamat dari reruntuhan gua sebelumnya.

"Jangan biarkan dia mendekati altar utama!" teriak salah seorang pemimpin pasukan musuh dengan suara serak melengking.

Puluhan pendekar aliran sesat bersenjata rantai berduri dan pedang pendek langsung menerjang ke arah Arka secara serentak. Mereka bergerak dalam formasi melingkar, menjepit Arka di antara reruntuhan batu besar dan dinding kawah yang membara. Di sinilah Titik Jepit pertama menekan ruang gerak Arka secara drastis.

Arka tidak gentar sedikit pun. Ia memutar pedangnya membentuk lingkaran cahaya keemasan yang berputar cepat, menciptakan perisai pertahanan berlapis.

"Teknik Teratai Menyambut Badai!" seru Arka.

Ketika rantai-rantai berduri itu menghantam perisai keemasannya, suara dentingan logam berderincing nyaring memecah telinga. Percikan bunga api berhamburan ke segala arah. Namun, jumlah musuh yang terlalu banyak membuat Arka harus membagi konsentrasinya antara menangkis serangan fisik dan menjaga aliran tenaga dalamnya agar tidak terkuras terlalu cepat.

"Fokusmu terpecah, Arka!" cibir Maha Iblis dari atas altar, menikmati pemandangan anak muda yang mulai terdesak oleh pasukan bawahannya.

Arka mendengus pelan. Ia menyadari dirinya sedang berada di posisi yang sangat rentan. Jika ia terlalu lama meladeni para prajurit rendahan ini, tenaga dalamnya akan habis sebelum sempat mendaratkan pukulan telak kepada sang Maha Iblis.

"Kalian memilih jalan yang salah," ucap Arka dingin.

Dengan sebuah bentakan keras, Arka menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Gelombang kejut berenergi keemasan langsung menyebar melingkar, menghantam kaki puluhan prajurit musuh hingga mereka terpental serentak ke udara dan jatuh pingsan berserakan di antara bebatuan.

Namun, belum sempat Arka menarik napas, sebuah bayangan merah melesat cepat dari atas altar. Pemimpin pengikut sekte sesat tadi memanfaatkan kelengahan Arka, mengayunkan pedang pusaka beracun tepat ke arah leher Arka dari belakang!

"Mati kau, pendekar bodoh!" teriak sang pemimpin sekte dengan seringai penuh kemenangan.

Arka merasakan desiran angin tajam di tengkuknya. Jarak serangan itu terlampau dekat untuk dihindari secara biasa. Dalam sepersekian detik, Arka memiringkan tubuhnya secara ekstrem, membiarkan ujung pedang beracun itu merobek sedikit kain jubah putihnya di bagian bahu, sementara siku tangan kirinya menghantam telak rusuk sang pemimpin sekte.

Bum!

Pemimpin sekte itu memuntahkan darah segar, tubuhnya terpental jauh menabrak dinding batu hingga terkulai tak bernyawa. Arka terengah-engah, merasakan sedikit mati rasa di area bahunya akibat sisa racun yang nyaris masuk ke aliran darahnya. Ia segera mengalirkan hawa keemasan ke titik luka tersebut untuk menetralisir racun sebelum menyebar.

❖ ❖ ❖

Situasi semakin memburuk ketika sisa-sisa energi alam di dalam kawah mulai bergejolak liar. Langit di atas mereka mendadak menurunkan hujan abu vulkanik yang panas, membuat pandangan semakin terbatas. Di tengah pusaran angin puyuh api, Maha Iblis mulai melantunkan mantra pemujaan tingkat tinggi yang kedua. Tubuh makhluk itu membesar dua kali lipat, dan kulitnya berubah mengkilap bagai lapisan lava beku.

Lihat selengkapnya