SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Gugurnya Bunga Teratai di Medan Laga

Langit malam di atas Dataran Kematian seolah meredup, menyisakan pijar merah darah dari kawah-kawah vulkanik yang mendidih di sekeliling arena pertarungan akbar. Angin berembus kencang, membawa abu vulkanik dan bau belerang yang menusuk hidung, menciptakan atmosfer yang begitu menyesakkan dada. Di tengah kancah yang porak-poranda itu, Arka berdiri kokoh dengan kedua mata terpejam rapat. Seluruh atensinya tercurah penuh pada aliran energi di dalam tubuhnya, memusatkan setiap titis tenaga dalam untuk menembus batas tenaga spiritual tertinggi demi menghancurkan pertahanan sang musuh utama.

Di hadapannya, sosok yang dijuluki Maha Iblis berdiri tegak dengan seringai mengerikan menghiasi bibirnya yang pucat pasi. Jubah hitam kebesarannya berkibar liar diterpa badai energi yang dipancarkan oleh Arka. Maha Iblis tahu betul bahwa jika pemuda itu berhasil menyempurnakan jurus pamungkasnya, maka riwayat kekaisaran kegelapan yang telah ia bangun selama ribuan tahun akan musnah dalam sekejap. Tanpa mengalihkan pandangan penuh kebencian, Maha Iblis mulai merencanakan sebuah gerakan licik yang tak terdeteksi oleh siapa pun di medan laga tersebut.

"Arka, jangan lengah! Pusatkan terus walau hambatan di depan mata begitu nyata!" teriak Fathan dari arah samping, suaranya menggelegar di antara deru angin panas, berusaha memberikan dukungan mental yang sangat dibutuhkan oleh sang tokoh utama.

Arka tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, mempertahankan postur tubuhnya yang mulai diselimuti oleh aura keemasan menyilaukan. Di sisi lain, Galin sang benteng perkasa berdiri siaga dengan posisi kuda-kuda yang sangat kokoh. Tubuh besarnya yang berotot dipenuhi oleh luka-luka sayatan akibat pertempuran panjang melawan para jenderal bayangan, namun semangatnya tidak pernah sedikit pun surut untuk melindungi Arka.

"Kita harus menjaga pertahanan sisi kiri dan kanan. Maha Iblis mulai menunjukkan gelagat mencurigakan," bisik Galin kepada Fathan, matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik tangan sang penguasa kegelapan yang tersembunyi di balik jubah besar.

Fathan mengangguk setuju, merapatkan pegangannya pada pedang panjang pusaka miliknya yang mulai retak di beberapa bagian. "Aku merasakannya juga, Galin. Makhluk tua itu tidak akan tinggal diam melihat Arka bersiap menghantamnya."

Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi sangat sunyi, seolah waktu melambat demi menyaksikan detik-detik paling menentukan dalam sejarah peperangan antara cahaya dan kegelapan. Para prajurit dari kedua belah pihak tertegun, menghentikan bentrokan senjata mereka dan menolehkan kepala ke arah pusat arena, tempat di mana takdir dunia sedang dipertaruhkan di atas pundak Arka dan kedua sahabat setianya.

❖ ❖ ❖

Di balik jubah kebesarannya yang menjuntai hingga menyentuh tanah berdebu, Maha Iblis perlahan mengangkat lengan kanannya yang terbalut pelindung besi berukir lambang tengkorak. Jari-jarinya yang kurus dan panjang bergerak lincah, membuka kompartemen rahasia yang menyimpan senjata paling mematikan yang ia miliki: paku racun bayangan hitam. Racun tersebut dikenal mampu melumpuhkan sistem saraf seketika dan menghancurkan inti tenaga dalam korban dalam hitungan detik, bahkan bagi seorang pendekar tingkat tinggi sekalipun.

"Matilah bersama impian bodoh kalian!" geram Maha Iblis dengan suara serak yang menggema mengerikan di seluruh lembah.

Dalam sepersekian detik yang sangat cepat, lengan Maha Iblis terayun tajam ke depan. Ratusan paku racun rahasia melesat bagaikan badai jarum tak terlihat, membelah udara panas dan langsung mengarah lurus ke dada Arka yang sedang berada dalam posisi paling rentan. Arka yang tengah fokus mengalirkan tenaga spiritual tingkat tinggi tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk menggeser tubuhnya atau sekadar membuka mata pertahanannya.

"Arka, awas!" seru Fathan dan Galin secara bersamaan tatkala melihat kilatan cahaya hitam meluncur deras memecah kegelapan malam menuju jantung sahabat mereka.

Tanpa memikirkan keselamatan diri mereka sendiri, Fathan dan Galin bergerak bagai kilat melompat pasang badan. Kedua sahabat sejati itu menempatkan diri tepat di jalur luncur paku-paku racun tersebut, merentangkan tangan dan dada mereka lebar-lebar demi menjadi perisai hidup bagi sang tokoh utama yang tengah berjuang menyelamatkan dunia.

"Kami tidak akan biarkan kau menyentuhnya, iblis keparat!" teriak Galin lantang, suaranya memecah keheningan malam sesaat sebelum hantaman telak itu terjadi di hadapan ribuan pasang mata yang terpaku ngeri.

Lihat selengkapnya