SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Amarah Matahari Teratai Agung

Melihat pengorbanan heroik Fathan dan Galin, Arka meraung keras. Kehangatan jiwanya berubah menjadi amarah keadilan yang tak terbendung. Tubuh Arka meledakkan pendaran cahaya keemasan bagai matahari terbit yang menerangi seluruh Lembah Tengkorak.

Suara hantaman yang memecah bumi masih berdengung di telinga, namun pemandangan di depan mata jauh lebih menyayat hati daripada sekadar suara gemuruh. Di atas tanah berpasir hitam Lembah Tengkorak, dua sosok pendekar tangguh tergeletak tak berdaya. Fathan, dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, menepis bilah pedang musuh yang hampir merobek dadanya, sementara Galin menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup untuk menahan gelombang tenaga hitam dari sang Maha Iblis. Pengorbanan itu dilakukan tanpa ragu, demi memberi kesempatan bagi Arka untuk bangkit dari keputusasaan.

Arka menatap tubuh kedua sahabatnya yang kini bermandi darah. Napas Fathan terdengar sangat berat, tersengal-sengal di antara genangan darah merah pekat yang merembes ke tanah gersang. Di sisi lain, Galin tersenyum tipis sebelum kesadarannya perlahan lenyap, meninggalkan keheningan yang menyesakkan dada di tengah kecamuk pertempuran.

"Fathan... Galin...!" bisik Arka, suaranya tercekat di tenggorokan.

Getaran hebat menjalari sekujur tubuh Arka. Selama ini, ia dikenal sebagai pemuda yang tenang, selalu menjunjung tinggi kedamaian, dan memegang prinsip welas asih bahkan kepada musuh-musuhnya. Namun, melihat orang-orang terdekatnya tumbang secara mengenaskan di hadapannya, prinsip itu runtuh seketika. Ada sesuatu yang patah di dalam lubuk hatinya, digantikan oleh gelombang emosi yang jauh lebih purba dan mematikan.

Di seberang lapangan, Maha Iblis Teratai Jingga tertawa gelak. Tawa itu menggema memenuhi lembah, merendahkan sisa-sisa perlawanan para pendekar muda. "Bodoh! Berani sekali kalian mengorbankan nyawa untuk pemuda lemah ini? Kalian mengira dia bisa menyelamatkan kalian dari takdir kematian? Hahaha! Di hadapan ilmu teratai jingga milikku, tidak ada satu pun makhluk di dunia persilatan yang bisa bertahan hidup!"

Maha Iblis mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Bunga teratai jingga yang berputar di telapak tangannya menyala semakin terang, memancarkan kombinasi hawa panas dan dingin yang membuat bebatuan di sekitarnya retak dan mencair dalam waktu bersamaan. Makhluk itu bersiap melancarkan pukulan terakhir untuk menghabisi Arka yang masih berlutut di tanah.

"Matilah bersama rekan-rekanmu, bocah!" teriak Maha Iblis penuh kemenangan.

Namun, sebelum gelombang serangan itu sempat meluncur, Arka perlahan berdiri. Gerakannya tidak lagi terlihat gontai. Ada kilatan cahaya keemasan yang sangat terang mulai merambat dari telapak kakinya, merayap naik melalui jubah robeknya, hingga melingkupi seluruh permukaan kulitnya.

"Kau salah," suara Arka keluar bukan lagi sebagai bisikan lemah, melainkan gema yang menggetarkan angkasa, "keadilan tidak pernah mati... ia hanya sedang menunggu waktu untuk menghanguskan kegelapan."

❖ ❖ ❖

Pendaran cahaya keemasan itu kian membesar, mengusir kabut malam yang pekat di Lembah Tengkorak dalam sekejap mata. Seluruh pendekar yang masih tersisa dari kejauhan menahan napas mereka, menyaksikan pemandangan yang belum pernah tercatat dalam sejarah dunia persilatan mana pun. Arka berdiri tegak, rambut hitamnya terurai ke belakang, berkibar diterpa angin kencang yang tercipta dari pusaran tenaga dalamnya sendiri.

"Tenaga dalam apa itu?" seru salah satu tetua mazhab yang menyaksikan dari atas bukit. "Energinya terasa sangat hangat, tapi mengapa tekanannya begitu menakutkan?"

Maha Iblis Teratai Jingga yang tadinya tersenyum meremehkan, perlahan menarik kembali tangannya. Sorot mata merahnya menyipit tajam, menatap ke arah Arka dengan rasa tidak percaya. Aura jingga di telapak tangannya mendadak bergetar hebat, seolah-olah merasa gentar menghadapi sumber cahaya baru yang terpancar dari tubuh pemuda di hadapannya.

"Tidak mungkin," gumam Maha Iblis, suaranya sedikit bergetar. "Ilmu warisan leluhur itu... bukankah sudah musnah bersama kuil tua ratusan tahun lalu?"

"Ilmu tidak pernah musnah jika tekad untuk melindungi masih ada di dalam hati manusia," jawab Arka dingin. Matanya kini sepenuhnya berwarna keemasan, tanpa ada bagian hitam yang terlihat.

Tanpa aba-aba, Arka melangkah maju. Satu langkah kakinya menapak di atas tanah, gelombang kejut berbentuk lingkaran emas menyebar ke segala arah, meratakan tonjolan-tonjolan batu karang di sekitarnya tanpa menimbulkan suara ledakan yang keras—menandakan tingkat penguasaan tenaga dalam yang telah mencapai kesempurnaan mutlak.

"Jangan sombong, bocah ingusan!" murka Maha Iblis. Ia tidak ingin kehilangan muka di hadapan musuh-musuhnya. Dengan mengerahkan seluruh tenaga di kedua telapak tangannya, ia melemparkan puluhan jarum api jingga berukuran besar langsung ke arah Arka. "Rasakan amarah teratai neraka!"

Jurum-jarum api itu melesat membelah udara dengan kecepatan kilat, meninggalkan jejak asap hitam pekat di belakangnya. Serangan itu sangat mematikan; jangankan tubuh manusia, batu baja pun akan langsung meleleh jika terkena tusukannya.

Arka tidak sedikit pun mengelak. Ia mengangkat tangan kanannya secara perlahan, lalu mengepalkan jarinya ke udara.

Syuuung!

Seketika itu juga, jarum-jarum api jingga yang mendekat mendadak berhenti di udara, seolah-olah menabrak tembok tak kasat mata yang terbuat dari baja murni. Tidak lama kemudian, jarum-jarum tersebut meleleh perlahan dan berubah menjadi uap putih yang lenyap diterpa angin malam.

Maha Iblis terperanjat mundur setengah langkah, matanya membelalak lebar. "Bagaimana mungkin... pertahanan macam apa itu?"

"Ini bukan sekadar pertahanan," Arka berucap pelan, suaranya menggema di setiap sudut lembah. "Ini adalah keadilan matahari yang akan membakar habis setiap kejahatan yang telah kau perbuat."

Lihat selengkapnya