SERI 10: GUGURNYA TERATAI JINGGA

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tumbangnya Kaum Sesat

Langit di atas Lembah Tengkorak seolah terbelah dua. Cahaya keemasan yang menyilaukan mata berbenturan hebat dengan gelombang energi jingga kehitaman yang memancar dari tubuh Maha Iblis Teratai Jingga. Suara gemuruh menggelegar menggetarkan seluruh permukaan bumi, meruntuhkan tebing-tebing batu yang menjulang tinggi di sekeliling lembah.

Di tengah kancah pertempuran akhir yang mempertaruhkan nasib seluruh dunia persilatan itu, Arka berdiri tegak dengan keringat bercampur darah membasahi jubahnya. Tatapannya tajam memandang sosok sang gembong sesat yang melayang di udara, dikelilingi oleh ribuan kelopak bunga teratai beracun yang berputar liar membentuk perisai maut.

"Kalian tidak akan pernah bisa menghentikanku!" suara Maha Iblis Teratai Jingga menggelegar bagaikan petir di siang bolong, memancarkan gelombang tekanan batin yang membuat dada Arka terasa sesak. "Ilmu Teratai Jingga Pemusnah Jiwa telah mencapai kesempurnaan tertinggi! Seluruh dunia ini akan segera berlutut di bawah kakiku!"

Arka menarik napas dalam-dalam, menstabilkan aliran tenaga dalam di dalam tubuhnya yang bergejolak hebat. Di dalam tubuhnya, inti energi dari tiga pusaka agung—Teratai Emas, Teratai Sakti, dan Matahari Agung—berputar selaras, menciptakan kehangatan luar biasa yang menjalar ke setiapurat nadi dan tulangnya.

"Kesombonganmu itulah yang akan menjadi kuburanmu sendiri," jawab Arka dengan suara tenang namun tegas, menggema menembus deru angin badai. "Kejahatan yang dibangun atas dasar penderitaan orang lain tidak akan pernah abadi di bumi ini."

Di samping Arka, Tera berdiri dengan posisi kuda-kuda yang sempurna. Wajah gadis itu tampak pucat namun dipenuhi tekad baja. Sepasang telapak tangannya memancarkan cahaya putih keperakan yang terang benderang, siap untuk melancarkan jurus pengunci gerakan paling mematikan dari Perguruan Selendang Sutra.

"Arka, bersiaplah," bisik Tera pelan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sang Maha Iblis. "Tenaga iblisnya sangat kuat. Aku hanya bisa mengunci gerakannya selama beberapa detik saja. Gunakan waktu itu sebaik mungkin."

"Aku mengerti, Tera," balas Arka mantap, menggenggam erat hulu pedangnya yang kini menyala terang benderang oleh pendaran cahaya keemasan matahari.

❖ ❖ ❖

Maha Iblis Teratai Jingga tertawa sinis melihat tekad kedua anak muda di hadapannya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dan seketika itu juga ribuan kelopak teratai beracun melesat menyerbu bagaikan badai jarum tajam yang siap merobek-robek tubuh siapa saja.

"Serangan bodoh! Rasakan pemusnahan ini!" teriak sang Maha Iblis penuh amarah.

"Sekarang, Tera!" seru Arka lantang.

Tera melompat ringan ke udara, kedua tangannya bergerak lincah menenun jaring energi keperakan yang langsung menyebar luas dan menutupi ruang gerak Maha Iblis. Sinar keperakan itu berpendar menyilaukan, mengikat setiap sendi dan aliran tenaga dalam sang gembong sesat layaknya rantai tak kasat mata yang terbuat dari baja murni.

"Ugh... apa ini?!" geram Maha Iblis Teratai Jingga terperanjat kaget saat merasakan tubuhnya mendadak kaku dan sulit digerakkan. "Bocah sialan, berani sekali kau mengurungku!"

"Tahan dia!" batin Tera berteriak dalam hati, wajahnya semakin pucat karena ia harus mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk menahan amukan energi hitam yang memberontak hebat dari tubuh musuh. Darah segar tampak mengalir perlahan dari sudut bibir gadis itu, namun ia menolak untuk menyerah.

Lihat selengkapnya