Langit di atas Lembah Puncak Badai perlahan-lahan menyibak selimut kelam malam, membiarkan bias cahaya keemasan pertama fajar menyentuh bumi yang baru saja selesai disiram oleh lautan darah. Suasana di medan pertempuran maha dahsyat itu kini diliputi oleh keheningan yang begitu magis, seolah alam semesta sendiri sedang menundukkan kepala untuk mengenang mereka yang telah gugur. Ribuan pendekar golongan putih berdiri terpaku di atas tanah yang hangus, menatap nanar ke arah sisa-sisa reruntuhan batu besar tempat pertempuran penghabisan baru saja diselesaikan beberapa jam lalu.
Perang besar yang merenggut ribuan nyawa dan nyaris meruntuhkan seluruh tatanan dunia persilatan akhirnya menemui titik akhir. Maha Iblis Teratai Jingga beserta seluruh panglima dan pengikut setia kaum hitam telah berhasil dibinasakan hingga ke akar-akarnya, tidak menyisakan satu pun benih kejahatan yang dapat bangkit kembali. Namun, kemenangan mutlak ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, meremukkan hati setiap orang yang hadir di lembah tersebut.
Di tengah lapangan batu utama yang kini dipenuhi kelopak bunga teratai putih yang tumbuh secara misterius dari tanah yang ternoda darah, para pemimpin perguruan besar berkumpul dalam duka yang mendalam. Ketua Perguruan Pedang Langit, Pendekar Sepuh Ksatria Giri, berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk. Jubah putihnya robek di berbagai sisi, dan wajahnya menyuratkan keletihan batin yang luar biasa. Matanya yang sayu menatap lurus ke arah dua nisan darurat yang baru saja didirikan dari batu pualam putih bersih.
"Perang telah usai," bisik Ksatria Giri dengan suara parau, memecah keheningan pagi yang menusuk tulang. "Benteng kegelapan telah runtuh, dan fajar abadi kini benar-benar menyinari rimba persilatan kita. Tetapi kemenangan ini terasa begitu berat di dada kita semua."
Di sebelah kirinya, Pendeta Maha Dharma dari Kuil Shaolin melipat kedua tangannya di depan dada, merapalkan doa-doa suci dengan suara pelan untuk mengantarkan ketenangan bagi arwah para pahlawan yang telah berpulang. "Pengorbanan tidak pernah sia-sia, Ksatria Giri. Mereka gugur agar generasi mendatang dapat hidup dalam kedamaian dan keadilan."
Suasana kembali terdiam, dikuasai oleh deru angin pagi yang berembus pelan membawa kesejukan ke seluruh penjuru lembah. Di atas kedua nisan batu pualam itu, terukir jelas dua nama yang kini harum semerbak di setiap bibir pendekar dari ujung timur hingga barat rimba persilatan: Fathan dan Galin. Dua pendekar muda yang mempertaruhkan nyawa mereka di detik-detik paling kritis pertempuran, melancarkan pukulan penghabisan yang meremukkan inti tenaga dalam Maha Iblis Teratai Jingga, meski mereka sendiri harus terkubur bersama keruntuhan benteng musuh.
"Nama mereka tidak akan pernah mati," ucap Nona Larasati dari Perguruan Lembah Wangi sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Pengorbanan suci Fathan dan Galin telah menyelamatkan seluruh peradaban kita dari jurang kebinasaan total."
❖ ❖ ❖
Berita tentang kemenangan mutlak golongan putih menyebar dengan kecepatan kilat ke seluruh penjuru angin, melintasi kota-kota perdagangan, desa-desa terpencil, hingga perguruan-perguruan persilatan di pelosok negeri. Di Alun-Alun Utama Kota Praja, ribuan rakyat jelata dan pendekar tingkat bawah berkumpul untuk mendengarkan maklumat resmi yang dibacakan oleh para utusan aliansi persilatan.
Suasana riuh rendah penuh kelegaan membuncah di antara kerumunan manusia. Banyak dari mereka yang menangis haru, memeluk sanak saudara yang selamat dari teror kaum hitam yang mencekam selama bertahun-tahun. Ketakutan yang selama ini menghantui malam-malam mereka akhirnya sirna, digantikan oleh harapan baru yang terang benderang seiring terbitnya matahari pagi.
Namun, di balik perayaan kemenangan tersebut, suasana khidmat tetap mendominasi prosesi penyambutan para pendekar aliansi yang kembali membawa panji-panji perdamaian. Di gerbang utama Perguruan Pedang Langit, para murid berdiri berjajar rapi membentuk barisan penghormatan terakhir, mengenakan pita kain putih di lengan kiri mereka sebagai tanda duka cita yang mendalam atas gugurnya para pahlawan agung.
Ksatria Giri melangkah keluar dari barisan depan, memegang sebuah kotak kayu jati berukir emas yang berisi abu jenazah serta kenang-kenangan terakhir milik Fathan dan Galin. Langkah kakinya terasa begitu berat, menanggung beban emosional yang teramat besar sebagai seorang guru dan sesepuh yang menyaksikan langsung gugurnya murid-murid terbaiknya di medan laga.
"Hari ini, kita berdiri di atas tanah yang merdeka dari cengkeraman kejahatan," suara Ksatria Giri menggema ke seluruh halaman perguruan, terdengar tegas namun sarat akan kesedihan yang tertahan. "Tetapi kemerdekaan ini dibayar dengan tetesan darah dan nyawa dua anak muda yang memiliki keberanian melampaui batas kemampuan manusia biasa."
Di antara kerumunan pendekar muda yang hadir, Arya Saka—sahabat karib Fathan semasa pelatihan—menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya menetes jatuh ke atas lantai batu, mengenang kembali saat-saat terakhir sebelum Fathan melompat menerjang sang Maha Iblis tanpa keraguan sedikit pun di matanya.
"Kau menepati janjimu, Fathan," gumam Arya Saka dengan suara bergetar pelan, nyaris tak terdengar. "Kau mengakhiri mimpi buruk dunia persilatan, meski kau sendiri harus pergi meninggalkan kami semua."
Pendeta Maha Dharma yang berdiri di samping Ksatria Giri meletakkan tangan kanannya di atas bahu pemuda itu, mencoba memberikan ketenangan batin. "Jangan ratapi kepergian mereka dengan kepedihan yang berlebihan, Arya Saka. Fathan dan Galin kini telah menjadi legenda abadi yang akan terus hidup di dalam jiwa setiap pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran."
Prosesi penghormatan dilanjutkan dengan penancapan plakat peringatan di taman utama perguruan, tempat di mana nama Fathan dan Galin diabadikan dalam lempengan emas murni agar generasi-generasi penerus di masa depan tidak akan pernah melupakan jasa besar mereka berdua.