SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Sebrangan Samudra Menuju Tanah Jawa

Sebrangan Samudra Menuju Tanah Jawa

Angin laut berhembus kencang menerpa layar perahu kayu yang membawa Arka, Tera, beserta delapan sahabatnya melintasi Selat Sunda. Perjalanan ini bukanlah untuk pelesiran, melainkan melacak keberadaan Pedang Teratai Hitam—pusaka terkutuk yang tersimpan energi hawa dingin pembunuh dan baru saja dicuri dari Perguruan Teratai. Debur ombak menghantam lambung perahu, menciptakan irama monoton yang beradu dengan suara derit kayu tua. Di bawah naungan langit kelabu, rombongan pendekar itu berdiri dalam keheningan yang sarat akan ketegangan.

Arka, dengan jubah abu-abunya yang basah oleh cipratan air asin, memandangi garis pantai Pulau Jawa yang mulai tampak samar di balik kabut cakrawala. Tangannya menggenggam erat hulu pedangnya, merasakan getaran halus yang seolah merespons atmosfer Tanah Jawa.

"Kita sudah memasuki perairan barat Jawa, Arka," ucap Tera, melangkah mendekat dari buritan perahu. Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin laut. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, menyapu horizon yang tampak sunyi namun menyimpan sejuta misteri. "Pesan dari burung sandi terakhir mengatakan bahwa jejak pencuri Pedang Teratai Hitam mengarah ke pedalaman, mendekati kaki Gunung Salak."

Arka mengangguk perlahan, pandangannya tidak lepas dari daratan yang kian mendekat. "Aku bisa merasakan hawa dingin itu, Tera. Meskipun jarak kita masih bermil-mil dari daratan, atmosfer pusaka itu mulai mencemari angin laut. Ini pertanda buruk. Sang pencuri tidak sekadar membawa lari pusaka, dia pasti sengaja melepaskan segelnya untuk menarik perhatian kita."

"Atau mungkin menjebak kita," timpal Bayu, salah satu dari delapan sahabat mereka yang sejak tadi duduk bersila di dekat tiang utama perahu. Ia berdiri sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat berhari-hari berada di atas geladak sempit. "Kau tahu betul siapa yang mencuri pusaka itu, Arka. Ki Ranu bukanlah maling biasa. Dia adalah mantan tetua yang menguasai ilmu hitam tingkat tinggi. Membawa Pedang Teratai Hitam ke tanah Jawa berarti dia mencari tempat peristirahatan yang memiliki energi bumi yang sepadan dengan kekuatan pusaka itu."

"Apapun tujuannya, kita tidak punya pilihan selain merebutnya kembali sebelum segel itu benar-benar terbuka sepenuhnya," tegas Arka. "Jika energi dingin itu menyatu dengan alam bebas, ribuan jiwa di tanah ini akan menjadi korban pertamanya."

Delapan sahabat yang mendampingi mereka—Bayu, Kirana, Sura, Dian, Lintang, Raga, Wira, dan Sekar—mulai bangkit dan mempersiapkan senjata masing-masing. Perjalanan panjang dari seberang samudra telah menguji ketahanan fisik dan mental mereka, namun ujian sesungguhnya baru akan dimulai begitu kaki mereka menginjak pasir pantai Jawa. Perahu merapat perlahan ke sebuah teluk kecil yang tersembunyi di balik tebat bakau. Ombak di sini jauh lebih tenang, namun suasana hutan di sekitarnya terasa begitu sunyi, seolah seluruh makhluk hidup sengaja menghindari tempat itu.

"Ikat perahunya di akar bakau yang kuat, Raga," instruksi Tera kepada pemuda bertubuh tegap di sampingnya. "Kita berjalan kaki mulai dari sini. Hindari jalur utama perkampungan penduduk. Kita bergerak cepat namun senyap menuju hutan kaki gunung."

Satu per satu, kesepuluh pendekar itu melompat turun ke lumpur pantai. Air laut yang dingin merendam sepatu bot mereka, namun tidak ada satupun yang mengeluh. Langkah demi langkah, mereka meninggalkan jejak di atas pasir basah sebelum akhirnya menembus lebatnya vegetasi hutan tropis Jawa yang lembap dan berlumut.

❖ ❖ ❖

Baru tiga jam mereka menyusuri jalan setapak di bawah kanopi hutan yang rapat, atmosfer di sekitar mereka berubah drastis. Suara serangga malam dan burung-burung hutan tiba-tiba lenyap, digantikan oleh keheningan yang menekan dada. Hawa di sekitar mereka mendadak turun secara drastis, membuat napas yang dihembuskan mulai mengepulkan uap putih tipis di udara.

"Berhenti!" bisik Arka, mengangkat tangan kanannya memberi tanda kepada rombongan di belakangnya.

Semua orang langsung mengambil posisi siaga. Kirana, yang berkeahlian melacak jejak gaib, memejamkan mata sejenak sambil merentangkan kedua telapak tangannya ke arah tanah. Wajahnya seketika memucat.

"Hati-hati," desis Kirana dengan suara bergetar. "Tanah di depan kita telah dilapisi jebakan energi dingin. Bukan jebakan biasa, ini adalah lingkaran pemikat makhluk halus penjaga hutan yang telah disusupi oleh hawa pembunuh dari Pedang Teratai Hitam."

Belum sempat Arka memberikan aba-aba untuk mundur, pepohonan di sekeliling mereka berderit keras. Dari balik kegelapan kabut hutan yang turun secara tiba-tiba, belasan sosok bayangan hitam melompat turun dari dahan-dahan pohon tinggi. Mereka bukan manusia, melainkan makhluk jadi-jadian berwujud kera raksasa bermata merah menyala, dengan tubuh yang diselimuti es tipis.

"Makhluk penjaga hutan telah dirasuki!" teriak Wira, langsung mencabut golok kembar dari pinggangnya saat salah satu kera es menerkam ke arahnya.

Brak!

Wira berhasil menepis cakar makhluk itu, namun hantaman tersebut memercikkan hawa dingin yang langsung membekukan ujung bilah goloknya. "Sial, es ini bisa merusak logam!" teriak Wira kaget.

Pertempuran tak terhindarkan pecah di tengah hutan belantara. Sekar dan Dian bergerak serempak, melepaskan rentetan panah berujung api kecil untuk mengimbangi hawa dingin yang mulai melumpuhkan gerakan mereka. Namun, jumlah makhluk jadi-jadian itu terus bertambah, berdatangan dari segala penjuru seperti gelombang air pasang yang tidak ada habisnya.

"Jangan gunakan tenaga murni secara sembarangan!" seru Arka di tengah kesibukan menebas cakar es yang mengincar lehernya. "Ki Ranu sengaja mengirim mereka untuk menguras tenaga kita sebelum kita mencapai sarangnya!"

Lihat selengkapnya