Cakrawala di atas pelabuhan Sunda Kelapa membara jingga, berpadu dengan kelamnya awan badai yang menggantung rendah di Selat Sunda. Bau garam, amis ikan, dan rempah-rempah bergesekan dengan aroma anyir yang asing—bau darah yang mengering dan membusuk dalam keheningan malam. Angin laut bertiup kencang, membawa deru ombak yang menghantam lambung-lambung perahu jung yang berjajar rapi di dermaga sibuk itu.
Namun, kesibukan bandar niaga terbesar di tanah Pasundan tersebut malam ini terasa mati. Tidak ada lagi gelak tawa para kelasi, tidak ada lagi teriakan para buruh pelabuhan yang membongkar muatan sutra dan porselen. Yang tersisa hanya kesunyian yang mencekam, seolah-olah seluruh makhluk hidup di tempat itu memilih untuk bersembunyi di balik dinding kayu rumah panggung mereka.
Raden Arya melangkah tegap menuruni papan titian perahu, jubah perjalanannya berkibar diterpa angin malam. Di belakangnya, Ki Ranu—seorang sesepuh perguruan dengan rambut memutih dan tatapan setajam elang—menyusul dengan langkah senyap. Tangan kanan Ki Ranu tidak pernah jauh dari hulu keris pusaka yang terselip di pinggangnya.
"Suasana ini tidak wajar, Arya," bisik Ki Ranu, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak. "Biasanya dermaga ini tidak pernah sepi sebelum tengah malam. Para syahbandar dan pedagang asing pasti sudah menutup pintu rapat-rapat karena ketakutan."
"Bukan sekadar ketakutan biasa, Ki," jawab Raden Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan setapak berbatu karang yang membelah kawasan gudang rempah. "Ada hawa kematian yang pekat di udara. Hawa yang sama seperti yang kita temukan di pesisir Sumatra tiga bulan lalu."
Mereka terus melangkah menuju sebuah bangsal besar tempat para petinggi pesilat Sunda biasanya berkumpul untuk membicarakan keamanan jalur perdagangan maritim. Di ambang pintu bangsal yang terbuat dari kayu jati tua itu, dua orang pengawal pimpinan pesilat setempat tergeletak bersandar pada dinding.
Dari luar, mereka tampak seperti sedang tidur lelap kelelahan. Namun, ketika Raden Arya mendekatkan obor bambunya, pemandangan mengerikan terlihat jelas. Leher kedua pengawal itu nyaris putus oleh sebuah tebasan yang begitu cepat dan sempurna, tanpa meninggalkan cipratan darah yang berhamburan. Yang lebih mengerikan, luka sayatan di leher mereka telah membeku, berubah menjadi warna hitam legam seperti arang, dengan kristal-kristal es tipis yang memancarkan kilau kebiruan di bawah cahaya api.
"Luka ini..." Ki Ranu berjongkok, memeriksa mayat tersebut dengan hati-hati menggunakan ujung jarinya. Ia menarik napas dingin. "Ilmu hitam tingkat tinggi. Pedang Teratai Hitam."
"Tidak salah lagi," ucap Raden Arya dengan rahang mengeras. "Senjata terkutuk itu telah menyeberang ke tanah Jawa. Dan tujuannya bukan sekadar merampok atau mencari musuh tanding, melainkan menyebar teror yang disengaja."
❖ ❖ ❖
Di dalam bangsal utama, pemandangan yang lebih mengenaskan menyambut kedatangan mereka. Lima orang tokoh pesilat terkemuka Sunda Kelapa duduk kaku di kursi kayu besar melingkari sebuah meja bundar. Posisi mereka seolah-olah sedang berunding khidmat, tetapi kepala kelima orang itu terkulai lemas dengan sudut leher yang mengalami nasib serupa: tertebas rapi, membeku hitam, dan mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Raden Arya memeriksa meja di hadapan para korban. Tidak ada tanda-tanda perlawanan fisik yang berarti. Gelas-gelas tanah liat masih berisi tuak yang belum sempat diminum habis, dan senjata-senjata pusaka milik para korban masih tersimpan rapi di dalam sarungnya masing-masing.
"Mereka bahkan tidak sempat mencabut senjata," kata Raden Arya pelan, nada suaranya menyiratkan kekaguman bercampur kemarahan yang tertahan. "Pembunuh ini bergerak lebih cepat daripada kedipan mata. Seseorang dengan kecepatan kilat dan tenaga dalam tingkat kesempurnaan."
"Atau mungkin mereka disergap oleh racun sebelum tebasan itu mendarat," timpal Ki Ranu sambil bangkit berdiri, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang remang-remang. "Perhatikan bau di ruangan ini, Arya. Ada aroma bunga teratai yang membusuk di balik bau anyir darah."
Tiba-tiba, suara decitan kayu berderit pelan dari arah loteng bangsal.
Tanpa aba-aba, Raden Arya melesat ke udara, tubuhnya meluncur ringan bagaikan kapas ditiup angin. Tangannya mencabut pedang panjang dari punggungnya dalam satu gerakan mulus yang nyaris tak bersuara. Begitu tiba di lantai loteng yang gelap gulita, ia langsung menebaskan pedangnya ke arah sudut bayangan yang mencurigakan.
Trang!
Percikan api meledak di dalam kegelapan ketika bilah pedang Raden Arya beradu dengan sesuatu yang keras dan dingin. Dorongan tenaga dalam dari lawan yang tak kasat mata itu begitu besar hingga membuat lengan Raden Arya mati rasa seketika. Ia terpaksa memutar tubuhnya di udara dan mendarat kembali di lantai dasar dengan lutut sedikit menekuk untuk meredam benturan.
"Siapa di sana ke luar! Jangan bersembunyi seperti pengecut di balik kegelapan!" bentak Raden Arya, suaranya menggema di seluruh ruangan kosong itu.
Dari balik bayang-bayang tiang utama loteng, sesosok tubuh perlahan melangkah maju. Sosok itu mengenakan jubah hitam legam berkerudung tinggi yang menutupi separuh wajahnya. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah pedang panjang yang bilahnya memancarkan cahaya kehitaman berkilau, memantulkan lidah api obor dengan mengerikan—sebuah bilah yang melengkung ramping bagaikan kelopak bunga teratai yang siap mekar dalam kematian.
"Kalian terlalu lambat datang, pendekar dari tanah seberang," suara sosok itu terdengar parau, dingin, dan bergema seolah datang dari dasar bumi. "Tanah Sunda ini sudah diserahkan kepada bayangan. Darah para penguasa pesisir ini hanyalah pembuka jalan bagi kebangkitan sang penguasa sejati."
"Tunjukkan wajahmu!" seru Ki Ranu sambil bersiap memasang kuda-kuda tingkat tinggi, telapak tangannya memancarkan pendar cahaya keemasan dari jurus Tapak Surya. "Jangan bersembunyi di balik nama Pedang Teratai Hitam jika kau memang bernyali!"
Sosok berkerudung itu tersenyum tipis—sebuah seringai dingin yang tampak samar di balik kegelapan kain penutup wajahnya. "Wajahku tidak penting bagi orang yang sebentar lagi akan menjadi abu. Nikmati sisa malam di pelabuhan ini, karena fajar esok tidak akan pernah kalian saksikan."
❖ ❖ ❖
Sebelum Ki Ranu sempat melepaskan pukulan tenaga dalamanya, sosok misterius itu melompat ke arah jendela loteng yang terbuka. Gerakannya begitu cepat bagaikan asap hitam yang ditiup angin topan. Dalam sepersekian detik, bayangan itu lenyap ditelan kegelapan malam di atas atap-atap rumah penduduk pelabuhan.
"Kejar dia, Arya!" seru Ki Ranu.
Raden Arya tidak membuang waktu. Ia melompat menembus jendela loteng menyusul buruannya. Di atas atap sirap kayu yang basah oleh embun laut, pengecilan jarak terjadi dengan sangat menegangkan. Bayangan berkerudung hitam itu berlari dengan kelincahan yang luar biasa, melompati celah-celah antar bangunan dengan pijakan yang nyaris tidak menimbulkan suara sedikit pun.