Suasana Pasar Bandar di ujung senja selalu menyimpan aroma rempah yang pekat bercampur debu pelabuhan. Di antara hiruk-pikuk para pedagang yang membereskan lapak dan suara derit kayu perahu yang berbenturan dengan dermaga, langkah kaki Arya tertahan seketika. Lorong sempit di antara dua gudang tua mendadak terasa begitu sunyi, seolah seluruh suara kehidupan diredam oleh selimut malam yang turun lebih cepat dari biasanya.
Di balik lorong pasar bandar yang remang, sesosok manusia berjanggut pendek dengan topeng ukiran bunga teratai hitam muncul mendadak. Gerakannya secepat kilat, membawa pedang berbilah hitam pekat yang mengeluarkan hawa es menusuk tulang saat dicabut dari sarungnya.
Arya terkesiap, tubuhnya secara insting melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kayu gudang yang lembap. "Siapa kau?" suara Arya bergetar tipis, namun matanya tetap tajam mengamati setiap jengkal pergerakan sosok di hadapannya.
Sosok bertopeng itu tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak dengan postur tubuh yang tenang, namun memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Topeng kayu berwarna hitam legam dengan ukiran kelopak bunga teratai berwarna perak di bagian dahi tampak memantulkan cahaya pelita dari kejauhan, menciptakan kesan mengerikan sekaligus misterius.
"Arya dari Padepokan Lembah Bayangan," suara sosok itu terdengar berat, serak, seolah keluar dari dasar sumur yang kering. "Kau telah membawa sesuatu yang bukan milikmu. Serahkan benda itu, atau nyawamu tertinggal di lorong ini."
Arya meraba bagian dalam jubahnya, tempat ia menyembunyikan sebuah kotak kayu kecil berukir aksara kuno—pusaka peninggalan gurunya yang dititipkan sebelum padepokan itu diserang oleh orang-orang tak dikenal. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," balas Arya, mencoba menegakkan suaranya meski jantungnya berdegup kencang.
"Jangan pura-pura bodoh," geram si bertopeng. Dalam sekejap, bayangan sosok itu berkelebat. Pedang berbilah hitam pekat di tangannya melibas udara dengan kecepatan yang membuat Arya hampir kehilangan waktu untuk bereaksi.
Syuuung!
Desing angin dingin menyapu pipi Arya. Ia menjatuhkan diri ke tanah, menghindari tebasan maut yang mengarah tepat ke lehernya. Papan kayu gudang di belakangnya terbelah dua dengan potongan yang begitu rapi, seolah diiris oleh pisau panas yang memotong mentega. Hawa es dari pedang itu bahkan meninggalkan lapisan embun tipis di lantai tempat Arya baru saja berdiri.
Arya bangkit dengan cepat, mencabut pedang pendek dari pinggangnya. Logam beradu dengan suara nyaring saat ia berhasil menangkis serangan susulan dari samping. Getaran hebat langsung menjalar hingga ke tulang lengannya, membuat Arya menyadari bahwa lawannya memiliki tenaga dalam yang jauh berada di atas tingkatannya.
"Kau tidak akan bisa keluar dari lorong ini hidup-hidup, anak muda," bisik si bertopeng tepat di depan telinganya, bergerak begitu cepat hingga bayangannya tampak menggandakan diri di bawah temaram lampu pelita pasar.
❖ ❖ ❖
Benturan demi benturan pedang terus menggema di lorong sempit tersebut. Arya terdesak hebat, keringat dingin bercucuran di pelipisnya sementara napasnya mulai memburu. Setiap kali pedang hitam pekat itu beradu dengan senjatanya, hawa dingin yang luar biasa merambat melalui bilah besi, membekukan jemarinya dan membuat cengkeramannya pada gagang pedang kian melemah.
"Ilmu pedangmu dangkal, Arya! Guru tua keparat itu tidak mengajarkanmu apa-apa rupanya!" ejek si bertopeng sambil melancarkan tusukan kilat yang mengarah tepat ke jantung Arya.
Arya memutar tubuhnya dengan sisa tenaganya, membiarkan ujung pedang musuh merobek kain jubah sebelah kanannya. Sesaat lengah, kepalaku bisa terpisah dari badan, pikirnya panik. Ia tahu ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi dalam duel terbuka seperti ini. Tenaga dalamnya terkuras habis hanya untuk menangkis gelombang serangan yang bertubi-tubi.
"Kenapa kalian memburu pusaka ini?" teriak Arya di sela-sela napasnya yang tersengal, mencoba mengulur waktu untuk mencari celah melarikan diri.
Sosok bertopeng teratai hitam itu mendengus dingin. "Pusaka itu adalah kunci pembuka gerbang segel. Di tanganmu, benda itu hanya akan membawa kehancuran bagi dunia persilatan. Lebih baik berada di tangan orang yang tahu cara mengendalikannya."
"Omong kosong! Guru bilang benda ini harus diserahkan kepada Pendekar Pedang Langit di Kota Seberang!" sangkal Arya keras.
"Pendekar Pedang Langit sudah mati!" bentak si bertopeng. Suaranya penuh amarah yang tertahan. "Dan kau akan menyusulnya sebentar lagi!"
Serangan berikutnya datang jauh lebih ganas. Sosok itu melompat tinggi, memutar tubuhnya di udara, dan menghujamkan pedangnya ke bawah dengan kekuatan penuh. Teknik tingkat tinggi dari aliran Teratai Hitam. Arya mengangkat kedua tangannya untuk menahan, namun benturan tersebut terlampau kuat.
Bum!
Lantai kayu tempat Arya berdiri ambruk akibat hantaman tenaga dalam yang luar biasa. Arya terpental ke belakang, jatuh terperosok ke dalam ruang bawah tanah sebuah gudang rempah yang gelap gulita dan berdebu. Kotak kayu pusaka yang tersimpan di balik jubahnya terlepas dari ikatan dan terpental jauh ke sudut ruangan yang gelap.
"Argh..." Arya mengerang kesakitan, punggungnya menghantam tumpukan karung garam yang membuat napasnya sesak seketika.
Dari atas lubang lantai yang hancur, siluet sosok bertopeng teratai hitam itu muncul, berdiri dengan angkuh menatap ke bawah. Perlahan, ia melompat turun menyusul mangsanya, langkah kakinya tidak bersuara sedikit pun di atas pecahan kayu.
❖ ❖ ❖
Ruangan bawah tanah itu pengap dan dipenuhi bau debu serta karung garam yang lembap. Cahaya satu-satunya hanya berasal dari lubang di langit-langit tempat Arya tadi jatuh. Di bawah temaram cahaya tersebut, sosok bertopeng itu berjalan mendekat dengan langkah pelan namun pasti, seperti seekor harimau yang mempermainkan buruannya sebelum menerkam.
"Sudah saatnya, Arya," kata si bertopeng datar, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Hawa es dari bilah hitam itu semakin pekat, membuat udara di dalam ruangan bawah tanah terasa membeku.