Sebelum pembunuh bertopeng itu melarikan diri ke dalam kegelapan malam, Azalia dan Risha melompat ringan bagai burung walet. Mengandalkan ilmu ginkang (meringankan tubuh) tingkat tinggi, kedua pesilat wanita ini membayangi langkah sang musuh dari atas genteng rumah-rumah warga tanpa terdengar sedikit pun.
"Jangan biarkan dia lepas, Risha! Gerakannya mengarah ke distrik pelabuhan lama," bisik Azalia tajam, suaranya teredam deru angin malam yang membawa aroma garam dan lumpur sungai.
Risha mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari sosok bayangan hitam di bawah sana. Jubah compang-camping sang pembunuh berkibar diterpa angin pantai, menyembunyikan senjata rahasia apa pun yang mungkin masih tersimpan di balik lipatannya.
"Dia sengaja memancing kita ke area gudang rempah yang terbengkalai," balas Risha dengan napas teratur. "Waspadalah terhadap jebakan. Pembunuh berdarah dingin seperti itu tidak akan lari tanpa persiapan."
Langkah mereka terus berkejaran dalam keheningan malam. Di bawah, lorong-lorong sempit Kota Praja tampak lengang, menyisakan bayangan bangunan tua yang menjulang angker. Pembunuh bertopeng itu tiba-tiba mempercepat laju larinya, melompat melewati jurang sempit antara dua gudang tua, lalu menghilang ke dalam sebuah bangunan kayu reyot yang hampir ambruk.
Azalia mendarat tanpa suara di atas bubungan atap gudang tersebut, diikuti rapat oleh Risha. Keduanya berjongkok, merendahkan pusat tenaga dalam mereka, lalu mengintip melalui celah genteng yang pecah.
Di dalam bangunan yang remang-remang itu, sang pembunuh melepas topeng kayunya. Wajah pucat pasi dengan luka bakar melintang di pipi kiri terlihat jelas di bawah temaram cahaya pelita minyak yang nyaris padam. Pria itu terengah-engah, memegang dadanya yang terluka akibat tusukan pedang Risha sebelumnya.
"Keluar kalian! Aku tahu kalian sudah di atas!" seru pria bermuka parut itu dengan suara parau namun penuh ancaman.
Azalia dan Risha bertukar pandang sejenak. Tanpa ragu, Azalia meruntuhkan beberapa genteng dengan kibasan tangan kanannya, melompat turun dengan anggun tepat di hadapan sang buronan. Risha menyusul dari sisi kiri, mencabut pedang pendeknya yang memantulkan kilau keperakan.
"Menyerahlah, Ki Panji," ucap Azalia dingin, menyebut nama yang baru saja mereka ketahui dari catatan rahasia di markas musuh. "Tidak ada jalan keluar untukmu malam ini."
Ki Panji tertawa serak, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Kalian pikir kalian telah menang? Bodoh! Kalian hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar!"
❖ ❖ ❖
Suara tawa Ki Panji menggema di dalam gudang yang lembap, memantul di dinding-dinding kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Azalia tidak bergeming, matanya tajam mengamati setiap gerak-gerik otot di tubuh musuhnya. Pengalamannya bertahun-tahun di dunia persilatan mengajarkan bahwa musuh yang terpojok sering kali jauh lebih berbahaya daripada ribuan prajurit bersenjata lengkap.
"Permainan apa yang kau maksud?" tanya Risha, melangkah maju setengah langkah, ujung pedangnya bergetar pelan, siap melesat kapan pun Ki Panji menunjukkan niat menyerang. "Siapa dalang di balik pembunuhan berantai para tetua perguruan?"
Ki Panji menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang bernoda darah. "Kalian mencari keadilan? Keadilan itu sudah mati bersama runtuhnya Padepokan Bayu Geni sepuluh tahun lalu! Dan sekarang, orang-orang yang kalian hormati adalah pihak yang paling bertanggung jawab."
"Jaga mulutmu!" bentak Risha, amarahnya tersulut mendengar nama padepokan masa lalunya disebut dengan nada merendahkan.
"Kenapa, Risha? Apakah guru suci kalian tidak pernah menceritakan kebenaran busuk di balik malam pembantaian itu?" Ki Panji mendesis, memanfaatkan emosi Risha untuk memecah konsentrasi kedua pendekar wanita tersebut. "Padepokan kalian tidak suci. Mereka menyimpan gulungan terlarang yang bisa menghancurkan seluruh negeri!"
Azalia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Risha menahan diri. Ia tahu betul rekannya itu memiliki luka batin yang mendalam terkait kehancuran Padepokan Bayu Geni.
"Jangan dengarkan provokasinya, Risha," kata Azalia dengan nada tenang namun tegas. "Dia hanya berusaha mengulur waktu menunggu bala bantuan datang."
Mendengar ucapan Azalia, senyum di wajah Ki Panji seketika memudar. Pria itu menyadari bahwa sandiwara kata-katanya tidak mempan. Tanpa peringatan, Ki Panji melompat mundur, menghantamkan telapak tangannya ke sebuah kendi tanah liat besar di sudut ruangan.
Prang!
Kendi tersebut pecah berkeping-keping, melepaskan kepulan asap hitam pekat yang langsung memenuhi seluruh ruangan gudang dalam hitungan detik. Asap beracun itu berbau busuk belerang dan akar jadam, membuat mata perih dan tenggorokan terasa terbakar.
"Asap beracun! Tahan napas kalian!" seru Azalia sambil melompat mundur, mengibaskan lengan jubahnya untuk meniup asap yang mendekat.
Dalam kegelapan dan kepulan asap tebal, suara desingan angin tajam meluncur ke arah Azalia. Sebuah jarum beracun melesat dari arah sudut gelap. Azalia memiringkan kepalanya dengan sigap, membiarkan jarum itu menembus jubah bagian bahunya tanpa melukai kulitnya.
"Dia mencoba kabur lewat pintu belakang!" teriak Risha yang berhasil menebak arah pergerakan angin akibat hempasan jubah Ki Panji.
Kedua pendekar wanita itu menerobos kepulan asap, mendobrak pintu kayu reyot di bagian belakang gudang yang langsung menghadap ke arah dermaga pelabuhan yang sepi. Angin malam laut menyapu wajah mereka, membersihkan sisa asap beracun, namun sosok Ki Panji sudah berada di atas sebuah perahu kecil yang mulai dilepaskan talinya dari dermaga.
"Kejar!" seru Risha.
❖ ❖ ❖
Perahu kecil yang ditumpangi Ki Panji meluncur cepat di atas permukaan air laut yang tenang namun gelap. Pria itu mendayung dengan panik, menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk mempercepat laju perahu menjauhi daratan. Di tepi dermaga, Azalia dan Risha berdiri berdampingan, mengamati pelarian tersebut dengan tatapan penuh perhitungan.
"Kita tidak bisa membiarkan dia menyeberang ke Pulau Karang," ucap Azalia sambil meraba belati lempar yang terselip di pinggangnya. "Pulau itu adalah sarang kelompok pemberontak Bayangan Hitam. Jika dia sampai di sana, informasi rahasia yang kita pegang akan bocor."
"Aku akan menghentikannya," jawab Risha pendek.
Tanpa menunggu lebih lama, Risha melangkah ke ujung dermaga, mengambil tenaga dalam dari telapak kakinya, lalu melompat sejauh belasan meter ke arah tiang kayu pancang yang tertancap di tengah laut. Gerakannya bagai bayangan kilat. Dari satu tiang ke tiang pelabuhan lainnya, Risha melompat lincah mendekati perahu Ki Panji yang baru berjarak sepuluh meter dari posisinya.
Ki Panji yang melihat kedatangan Risha mendadak panik. Ia menghentikan dayungannya, lalu mencabut pedang bermata dua dari punggungnya.
"Jangan mendekat, Risha! Atau aku hancurkan perahu ini beserta rahasia yang kalian cari!" ancam Ki Panji dengan napas tersengal-sengal.