SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Pengintai Cerdik di Kota Tua

Udara Kota Tua menyengat hidung dengan aroma lembap batu bata kuno yang bercampur bau amis dari sisa-sisa pelabuhan lama. Lorong-lorong sempit di distrik barat bagaikan labirin tanpa ujung, diselimuti bayang-bayang temaram lampu minyak yang mulai meredup. Di antara kesunyian malam yang mencekam, tiga sosok bayangan bergerak tanpa suara, menyatu dengan kelamnya dinding-dinding bangunan kolonial yang runtuh.

Mereka adalah Kamil, Rafar, dan Yafid. Tiga serangkai ahli strategi yang terkenal bukan karena kekuatan fisik mereka yang luar biasa, melainkan karena ketajaman pikiran, kejelian membaca situasi, dan kemampuan merajut kepingan informasi sekecil apa pun menjadi sebuah peta kebenaran yang utuh.

"Kamil, jejak di sebelah kiri itu segar," bisik Yafid pelan, nyaris tak terdengar di atas desau angin malam yang melintasi celah bangunan. Jari telunjuknya menunjuk ke arah tanah berlumpur tipis di dekat sebuah tong kayu tua. "Bekas tapak sepatu bot dengan pola sol bergerigi tiga. Ini identik dengan yang kita temukan di gudang rempah tiga malam lalu."

Kamil menghentikan langkahnya. Ia berjongkok, mendekatkan wajahnya ke permukaan tanah tanpa menyentuhnya. Matanya menyipit, mengukur kedalaman dan sudut tekanan tapak sepatu itu. Di sampingnya, Rafar sudah mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kusam, siap mencatat setiap detail yang ditemukan rekannya.

"Bukan hanya itu," kata Kamil dengan nada datar namun penuh keyakinan. "Perhatikan arah ujung sepatu yang sedikit menyeret ke dalam. Orang ini membawa beban berat di sebelah kanan. Entah itu gulungan gulungan gulungan gulungan peta, senjata laras panjang, atau kantong penuh koin emas."

"Kelompok Serigala Hitam tidak pernah main-main soal logistik," ujar Rafar, penanya menari di atas kertas dengan goresan cepat. "Jika mereka memindahkan pasokan ke markas rahasia ini, berarti rencana besar mereka sudah mendekati tahap akhir. Kita tidak punya banyak waktu."

Tiga serangkai ini bukan tanpa alasan berada di labirin Kota Tua. Selama sepekan terakhir, nama sang pendekar bertopeng menjadi buah bibir di kalangan bawah tanah. Tokoh misterius itu muncul tiba-tiba, menantang hegemoni kelompok kriminal paling ditakuti di wilayah pesisir tersebut: Serigala Hitam. Yang membuat Kamil dan kawan-kawan tertarik bukanlah pertarungan fisiknya, melainkan pola pergerakan sang pendekar yang selalu mendahului langkah aparat resmi maupun sindikat kejahatan. Melalui jaringan pengintai bayaran, informasi intelijen, dan analisis jejak kaki yang teliti, mereka berhasil mempersempit ruang gerak sang pendekar hingga ke distrik kumuh ini.

"Kita harus membagi tugas," usul Yafid sambil berdiri, merapikan jubah penyamarannya yang berdebu. "Kamil, kau telusuri gang utama ke arah pelabuhan tua. Rafar, ambil jalur atas melalui loteng-loteng gudang terbengkalai untuk memantau pergerakan dari ketinggian. Aku akan menyusup lewat selokan bawah tanah yang terhubung langsung dengan fondasi markas mereka."

Rafar mengernyitkan dahi. "Terlalu berisiko, Yafid. Selokan itu penuh dengan gas beracun dari limbah pabrik tua."

"Aku sudah menyiapkan kain basah beraroma cuka herbal di saku bajuku," jawab Yafid tenang, tersenyum tipis. "Kalian tahu sendiri, tidak ada sudut Kota Tua yang tidak kukenal. Jika aku tidak keluar dalam waktu satu jam, anggap saja aku sedang menikmati teh hangat di kedai bawah tanah."

Kamil menatap kedua sahabatnya bergantian. Ada ketegangan yang merayap di dada mereka, namun kepercayaan mutlak di antara ketiganya mengalahkan rasa takut. Mereka telah melewati berbagai intrik politik dan intrik bawah tanah yang jauh lebih mematikan dari ini.

"Hati-hati," ucap Kamil singkat. "Ingat, kita di sini untuk mengamati dan mengumpulkan bukti, bukan untuk memicu perang terbuka dengan Serigala Hitam. Jika situasi memburuk, segera mundur ke titik kumpul di gereja tua."

Ketiganya mengangguk serempak. Dalam hitungan detik, bayangan mereka berpencar, melebur ke dalam kegelapan lorong-lorong Kota Tua yang menyimpan sejuta rahasia kelam.

❖ ❖ ❖

Langkah Kamil berderap pelan di atas kerikil basah. Lorong yang ia lewati semakin menyempit, diapit oleh dinding-dinding batu karang buatan yang ditumbuhi lumut hitam. Bau amis laut kini bercampur dengan aroma tembakau murahan dan mesiu basah—tanda yang sangat jelas bahwa ia semakin mendekati pusat aktivitas manusia.

Di sebuah sudut tikungan, di balik tumpukan peti kemas yang sudah berkarat, Kamil menghentikan langkahnya. Matanya menangkap secercah cahaya kekuningan dari balik celah pintu kayu sebuah gudang tua yang tampak rapuh dari luar, namun dijaga ketat oleh dua orang bertubuh kekar.

Dua penjaga itu mengenakan jaket kulit hitam dengan lambang kepala serigala bermata merah di bagian punggungnya. Mereka mondar-mandir sambil membawa pentungan besi berpaku, sesekali meludah ke tanah dengan kasar.

Kamil merapat ke dinding, mengatur napasnya agar selaras dengan deru angin. Otaknya langsung bekerja cepat, menghitung waktu rotasi patroli kedua penjaga tersebut.

"Satu... dua... tiga menit," gumam Kamil dalam hati saat melihat penjaga pertama berputar arah menuju sisi timur bangunan, sementara penjaga kedua tetap diam di tempat sambil menyalakan sebatang rokok.

"Hei, cepat selesaikan rokokmu itu," suara berat terdengar dari balik pintu gudang yang sedikit terbuka. "Bos besar sedang marah besar karena laporan pengiriman dari pelabuhan timur terlambat dua jam."

"Tenang saja," jawab penjaga yang merokok dengan nada santai. "Siapa yang berani mengganggu kita di sarang sendiri? Orang-orang kota itu terlalu penakut untuk mendekati wilayah ini."

Kamil mencatat setiap patah kata di dalam kepalanya. Bos besar. Berarti ada hierarki komando yang lebih tinggi di dalam markas ini, bukan sekadar kelompok preman jalanan biasa. Dan keterlambatan pengiriman itu... pastilah ulah sang pendekar bertopeng yang sempat mereka lacak kemarin.

Tiba-tiba, dari arah lorong atas, terdengar suara gesekan genting yang berderit pelan. Kamil mendongak sekilas. Ia tahu persis itu adalah isyarat sandi dari Rafar—dua ketukan pendek, satu ketukan panjang. Artinya: Ada pergerakan di lantai atas, lebih dari lima orang bersenjata.

Kamil mengangguk kecil, seolah-olah Rafar bisa melihatnya dari atas sana. Ia kemudian merogoh kantong jubahnya, mengeluarkan sebuah batu kecil, lalu melemparkannya dengan lemparan melengkung ke arah tumpukan kaleng kosong di ujung lorong seberang.

Klang!

Suara kaleng yang bergeser nyaring itu langsung menarik perhatian penjaga yang sedang merokok. "Suara apa itu?" bentaknya, langsung membuang puntung rokoknya dan menghunus belati pendek dari pinggangnya. Ia melangkah maju perlahan, mendekati sumber suara di ujung lorong yang gelap.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kamil. Dengan gerakan secepat kilat namun tanpa suara, ia melompat dari balik peti kemas, mendekati penjaga kedua yang masih berdiri di depan pintu gudang. Sebelum penjaga itu sempat berbalik atau bersuara, kail tali tipis yang disiapkan Kamil sudah melingkar di lehernya, menariknya ke dalam bayangan gelap di samping pintu. Dalam hitungan detik, penjaga itu lemas tak berdaya, pingsan akibat tekanan pasokan oksigen yang terhenti sejenak.

Kamil dengan cepat menyeret tubuh penjaga itu ke balik tumpukan peti kemas, mengambil kunci besi besar yang menggantung di ikat pinggangnya, lalu menyelinap masuk melalui pintu gudang yang setengah terbuka sebelum penjaga pertama kembali dari pengecekannya.

Di dalam gudang yang luas dan berdebu itu, udara terasa jauh lebih panas. Deretan lampu gantung berbahan bakar minyak menerangi ruangan yang dipenuhi kotak-kotak kayu berukuran besar. Di bagian tengah ruangan, di atas sebuah meja kayu kasar yang dikelilingi beberapa kursi tua, beberapa orang berwajah sangar tampak sedang berdebat sengit.

Kamil merayap di balik tumpukan kotak, memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan setiap patah kata yang terlontar dari mulut mereka.

❖ ❖ ❖

Sementara Kamil menyusup ke lantai dasar gudang utama, Yafid tengah bergelut dengan kelembapan pekat di terowongan bawah tanah. Saluran pembuangan air tua itu dipenuhi endapan lumpur hitam yang menebarkan bau menyengat. Sesuai dengan dugaannya, kain basah beraroma cuka yang ia gigit erat di antara giginya mampu meredam sebagian besar bau busuk gas belerang yang merayap dari dasar saluran.

Langkah kaki Yafid sangat ringan, hampir tidak menimbulkan riak di permukaan genangan air setumit kaki. Di tangan kirinya, sebuah obor kecil berukuran segenggam tangan memancarkan nyala api biru yang redup, cukup untuk menerangi dinding bata lembap di hadapannya.

Setelah berjalan sekitar seratus meter menyusuri saluran yang meliuk-liuk, Yafid menemukan sebuah teralis besi tua yang menjadi penutup saluran pembuangan. Di balik teralis itu, sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas terpampang di depan matanya.

Yafid memadamkan obor kecilnya, membiarkan matanya beradaptasi dengan kegelapan sebelum mengintip melalui celah teralis besi yang berkarat.

Lihat selengkapnya