SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Racun Dingin Jiwa Teratai

Suasana di tenda darurat pascapertempuran mendadak terasa begitu pekat oleh aroma rempah-rempah hangat yang dibakar di atas bara kecil. Di sudut ruangan, para prajurit yang menjadi korban tebasan musuh terbaring lemah. Selimut tebal menutupi tubuh mereka, namun gigil hebat masih terlihat jelas merusak ketenangan napas mereka. Kulit para prajurit itu tampak kebiruan di sekitar luka sayatan, seolah tersiram embun beku dari puncak gunung es abadi. Di tengah ketegangan yang mencengkeram, Zahra dan Chafia bergerak cepat, bahu-membahu menyelamatkan nyawa rekan-rekan mereka yang berada di ambang batas kesadaran.

Zahra berlutut di samping seorang prajurit muda yang mengerang pelan. Dengan jemari yang teliti namun penuh kehati-hatian, ia membuka kain perban yang melilit paha korban. Begitu kain tersingkap, uap dingin tipis langsung mengepul dari permukaan luka yang menganga. Zahra menyipitkan mata, mengamati warna kehitaman di pinggiran daging yang tersayat.

"Bagaimana keadaannya, Zahra?" tanya Chafia dari meja peracikan obat, tangannya tak henti menumbuk biji pala kering dan akar jahe merah di dalam sebuah lesung batu kecil.

"Gawat, Chafia," jawab Zahra dengan suara berat, sarat akan kekhawatiran. Ia menyentuh kulit di dekat luka itu dengan ujung jarinya dan langsung menariknya karena rasa dingin yang luar biasa menusuk. "Pedang Teratai Hitam itu benar-benar dilapisi hawa racun es alami. Racun ini tidak hanya merusak jaringan daging luar, tetapi juga membekukan aliran darah korban seketika. Jika kita terlambat seperempat jam lagi, pembuluh darah utama di kakinya akan pecah karena kristalisasi es dari dalam."

Chafia menghentikan tumbukannya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam debar jantungnya yang kian cepat. "Aku tahu racun itu sangat mematikan. Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Aku sedang meracik ramuan pemanas jalan darah khusus. Ramuan ini terbuat dari ekstrak ginseng api purba dan getah pohon matahari yang dicampur dengan air hangat pegunungan."

"Apakah itu cukup untuk melawan hawa dingin dari Pedang Teratai Hitam?" tanya Zahra lagi, menoleh menatap sahabatnya dengan tatapan penuh harap.

"Harus cukup," tegas Chafia sambil menuangkan cairan berwarna kemerahan pekat ke dalam mangkuk kecil keramik. "Ramuan ini akan membentengi tubuh kawan-kawannya dari hawa dingin tersebut, sekaligus memaksa darah mereka mengalir kembali dengan kecepatan normal. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan bagi mereka."

Zahra mengangguk pelan. Ia tahu betul risiko dari pengobatan darurat di medan perang seperti ini. "Lakukan apa yang harus kau lakukan, Chafia. Aku akan membantu menahan tubuh mereka agar tidak berontak saat rasa sakit itu menyerang."

❖ ❖ ❖

Proses penyembuhan pun dimulai. Di bawah tenda yang temaram, jerit tertahan dan erangan kesakitan berpadu dengan suara desau angin malam yang dingin di luar. Chafia dengan telaten meneteskan ramuan panas itu langsung ke atas luka sayatan prajurit pertama. Begitu cairan merah menyentuh kulit yang membiru, reaksi kimia yang dahsyat langsung terjadi. Suara mendesis seperti air yang disiramkan ke atas bara api membahana di dalam tenda, disusul oleh kepulan uap putih yang mengepul tebal.

Prajurit muda itu langsung melengkungkan punggungnya, matanya membelalak lebar menahan siksaan luar biasa tatkala hawa panas ramuan berbenturan langsung dengan racun es di dalam pembuluh darahnya. Zahra sigap menahan kedua bahu prajurit itu dengan kuat, berbisik menenangkan di telinganya. "Tahan, kawan! Bertahanlah demi keluargamu di kampung halaman! Biarkan api itu membakar racun keparat itu!"

"Sakit... Hawa ini terasa seperti membakar tulangku dari dalam!" teriak prajurit itu dengan suara parau sebelum akhirnya jatuh pingsan karena tak kuasa menahan gelombang rasa sakit yang begitu hebat.

"Dia pingsan, Chafia. Apakah itu wajar?" tanya Zahra dengan cemas sambil memeriksa denyut nadi di leher sang prajurit.

"Wajar," sahut Chafia dengan peluh yang bercucuran di pelipisnya. Ia menyeka keringat itu dengan punggung lengannya. "Pingsan adalah cara alamiah tubuh melindungi diri dari rasa sakit yang melampaui batas kesadaran. Lihatlah keadaannya sekarang."

Zahra menunduk, mengamati perubahan yang terjadi pada kaki prajurit tersebut. Warna kebiruan yang tadinya pekat dan mengerikan perlahan-lahan mulai memudar. Kulit yang tadinya sedingin es kini berangsur-angsur hangat, dan yang paling penting, aliran darah di sekitar luka kembali mengalir normal, ditandai dengan keluarnya darah segar berwarna merah cerah menggantikan gumpalan darah beku.

"Luar biasa," puji Zahra dengan nada kagum. "Ramuanmu benar-benar bekerja dengan sempurna, Chafia."

"Jangan senang dulu, Zahra," ucap Chafia dengan wajah yang tidak menunjukkan tanda-tanda lega. Ia menunjuk ke arah deretan prajurit lain yang masih menunggu giliran. "Kita baru menyelamatkan satu orang. Masih ada lima prajurit lagi dengan kondisi yang sama parahnya. Dan persediaan ginseng api purba kita di kantong obat tinggal separuh lagi."

Zahra tertegun mendengar kenyataan pahit itu. Ia tahu persediaan bahan obat adalah nyawa kedua mereka di tempat terpencil ini. "Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu semenit pun. Lanjutkan pada korban berikutnya. Aku akan membantumu menyiapkan ramuan yang sama dengan takaran yang lebih efisien."

Lihat selengkapnya