SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Benteng Tahan Pukul Fathan dan Galin

Malam itu, langit di atas Kota Angin seolah tertutup oleh selimut kelabu yang tebal. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan gelap, meninggalkan kegelapan pekat yang menyelimuti seluruh sudut jalanan sunyi. Di sebuah penginapan tua berlantai dua yang terletak di ujung barat kota, suasana tampak tenang pada awalnya. Lampu pelita minyak di beranda depan berkedip lemah, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di atas dinding kayu yang mulai melapuk.

Di dalam kamar utama di lantai dasar, Fathan sedang duduk bersila di atas tikar jerami. Napasnya teratur, memusatkan tenaga dalam ke jalur meridian di dadanya. Di sudut ruangan, Galin tengah mengasah bilah pedang pendeknya dengan batu asahan kecil. Suara gesekan logam yang berirama konstan menemani keheningan malam itu, menciptakan rasa aman palsu yang segera hancur berkeping-keping.

"Galin, simpan pedangmu. Ada yang tidak beres di luar," bisik Fathan tiba-tiba, matanya terbuka tajam, memancarkan cahaya keemasan tipis yang menandakan tingkat penguasaan tenaga dalam yang tinggi.

Galin menghentikan gerakannya. Ia menajamkan pendengaran, menangkap getaran halus dari tanah dan desiran angin yang membawa bau amis darah serta logam tajam. "Mereka datang lebih cepat dari perkiraan kita, Kak. Kelompok Serigala Hitam tidak pernah sabar."

Sebelum kalimat itu sepenuhnya lenyap di udara, suara hancur yang mengerikan meledak dari arah pintu depan. Kayu jati tua penginapan tersebut berkeping-keping dalam satu tendangan keras. Debu dan serpihan kayu berhamburan ke udara, bersamaan dengan bayangan-bayangan hitam yang melompat masuk bagaikan sekawanan binatang buas yang kelaparan.

Mereka adalah anggota inti Kelompok Serigala Hitam, sindikat pembunuh bayaran yang paling ditakuti di wilayah barat. Mengenakan jubah hitam dengan lambang serigala bermata merah di dada, mereka membawa senjata-senjata mematikan: golok panjang berkarat, tombak bermata ganda, dan rantai berduri yang berderincing mengerikan dalam gelap.

"Fathan! Galin! Serahkan kepala kalian dan rahasia kitab pusaka itu, maka kami akan memberi kalian kematian yang cepat!" bentak pemimpin penyergapan, seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka melintang di wajahnya yang mengerikan, yang dikenal dengan julukan Si Tangan Besi.

Tanpa gentar sedikit pun, Fathan bangkit berdiri. Gerakannya begitu tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan jubah putihnya berkibar pelan tertiup angin malam yang menerobos masuk dari pintu yang hancur. Galin berdiri tepat di samping kanannya, menegakkan tubuhnya dengan kuda-kuda yang kokoh.

"Kalian salah alamat jika mengira kami bisa ditundukkan dengan gertakan murahan seperti itu," jawab Fathan dengan suara berat yang menggema di dalam ruangan kecil tersebut.

"Banyak bicara! Habisi mereka!" teriak Si Tangan Besi sambil melambaikan tangannya ke depan.

❖ ❖ ❖

Puluhan anggota Serigala Hitam langsung menyerbu masuk secara bersamaan, memenuhi ruangan sempit penginapan dengan gelombang kemarahan yang mematikan. Sinar pelita yang remang-remang memantul di atas permukaan bilah-bilah golok yang teracung tajam, menciptakan kilatan cahaya dingin yang menyayat mata. Suara sepatu bot yang menghantam lantai kayu berderak keras, menciptakan ritme kehancuran yang semakin mendekat.

Fathan dan Galin tidak mundur bahkan sedetik pun. Ketika gelombang pertama penyerang menerjang dengan tebasan golok yang mengarah langsung ke leher mereka, kedua bersaudara itu bergerak serempak.

"Dinding Karang Teratai!" seru Fathan dan Galin berbarengan.

Seketika itu juga, aura tebal berwarna keperakan memancar dari tubuh mereka, menyatu membentuk perisai transparan yang menyerupai kelopak teratai raksasa. Perisai itu berputar pelan namun memiliki kekuatan pertahanan yang luar biasa padat.

Brak! Clang! Dumm!

Suara benturan logam yang keras bergemuruh memenuhi ruangan. Puluhan golok dan tombak yang menghujam perisai tersebut terpental seketika, memercikan bunga api yang terang di tengah kegelapan. Para penyerang terdorong mundur oleh gelombang kejut tenaga dalam yang memantul balik dari pertahanan Fathan dan Galin. Beberapa anggota Serigala Hitam bahkan menjerit kesakitan saat tangan mereka mati rasa akibat benturan keras dengan perisai karang teratai tersebut.

"Sial! Pertahanan macam apa ini?!" umpat salah seorang penyerang bertubuh kurus sambil mengibaskan tangannya yang bergetar hebat.

"Jangan biarkan mereka bernapas! Terus serang dari segala sisi!" perintah pemimpin mereka dengan nada geram, wajahnya memerah karena marah melihat serangan awal mereka mentah begitu saja.

Gelombang kedua datang lebih cepat dan lebih beringas. Kali ini, para pengeroyok menggunakan taktik mengepung. Empat orang melompat dari balok kayu di langit-langit, mengarahkan tombak ke arah kepala Fathan, sementara enam orang lainnya di bawah menebaskan rantai berduri untuk mengunci kaki Galin agar tidak bisa bergerak leluasa.

"Kak, di atas!" seru Galin memperingatkan tanpa mengubah posisinya.

"Aku melihatnya," balas Fathan dengan tenang.

Fathan memutar kedua lengannya dalam lingkaran besar, mengalirkan tenaga dalam ke telapak tangannya. Dengan satu dorongan kuat ke atas, ia memancarkan gelombang tekanan angin yang menghantam keempat penyerang di udara secara telak. Mereka terpental ke belakang dan menghantam dinding kayu hingga runtuh, jatuh tak sadarkan diri dengan mulut berdarah.

Di bawah, rantai berduri yang dilemparkan musuh berhasil melilit pergelangan kaki Galin. Para penyerang menariknya dengan sekuat tenaga, berusaha menjatuhkan pemuda itu ke lantai. Namun, Galin hanya tersenyum tipis. Ia mengeraskan otot-otot di kakinya, memadatkan tenaga dalam pada jurus Dinding Karang Teratai di bagian bawah tubuhnya.

Lihat selengkapnya