Ruang bawah tanah markas musuh itu berbau lembap, bercampur dengan aroma minyak tanah yang hampir habis dan debu tebal yang mengendap puluhan tahun. Di atas meja kayu jati yang keropos, sebuah peti besi berkarat terbuka setengah. Di dalamnya, tersimpan tumpukan kertas kekuningan yang rapuh oleh zaman. Kamil berdiri mematung di bawah temaram cahaya pelita, sementara angin malam mendesau melalui celah dinding batu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
"Apa yang kau temukan, Kamil?" suara Ki Japa terdengar parau dari ambang pintu. Sesepuh perguruan itu melangkah masuk dengan napas sedikit tersengal, menopang tubuhnya pada sebatang tongkat kayu hitam.
Kamil tidak segera menjawab. Jemarinya yang bergetar dengan sangat hati-hati mengangkat sehelai lembaran perkamen usang yang diikat dengan benang sutra merah memudar. Di sudut lembaran itu, lambang bunga teratai hitam terukir jelas dengan tinta emas yang telah menggelap.
"Berkas-berkas ini..." bisik Kamil, suaranya hampir tak terdengar di atas desau angin. "Ini bukan sekadar catatan strategi atau daftar harta rampasan. Ini adalah catatan harian, surat-surat resmi, dan pengakuan tertulis dari masa lalu. Masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam."
Ki Japa mendekat, matanya yang tua menyipit tajam menatap tumpukan kertas tersebut. "Masa lalu apa yang kau maksud? Di tempat seperti ini, musuh tidak pernah meninggalkan apa pun kecuali jebakan atau kebohongan."
"Ini bukan kebohongan, Ki," ujar Kamil sambil menyerahkan selembar surat kepada orang tua itu. "Bacalah cap mohor di bawah tanda tangan itu. Itu adalah cap resmi dari perguruan besar aliran putih tiga puluh tahun yang lalu. Perguruan yang selama ini diagung-agungkan sebagai penjaga kebenaran."
Ki Japa menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Begitu matanya menangkap deretan aksara yang tertulis rapi namun penuh dengan tekanan emosi, wajahnya yang keriput mendadak pucat pasi. Tongkat di tangannya hampir lepas dari pegangan.
"Tuhan Maha Besar..." gumam Ki Japa terbata-bata. "Bagaimana mungkin dokumen ini bisa selamat? Bukankah seluruh catatan malam itu telah musnah dilahap api?"
"Api memang menghbiskannya di permukaan, Ki. Tapi sejarah yang ditulis dengan darah tidak akan pernah benar-benar lenyap," jawab Kamil tajam, sorot matanya menyiratkan kemarahan sekaligus kegetiran yang mendalam.
Ia kembali menatap lembaran-lembaran di hadapannya. Berkas-berkas itu mengungkap sebuah rahasia kelam yang melibatkan para tokoh silat terkemuka masa kini—orang-orang yang duduk di singgasana kehormatan, memegang tampuk kepemimpinan dunia persilatan, dan dihormati jutaan murid. Di balik jubah putih bersih dan gelar luhur mereka, tersimpan sejarah pembantaian yang keji.
Pemilik sah dari Pedang Teratai Hitam yang selama ini mereka buru sebagai penjahat keji, ternyata bukanlah sesosok iblis haus darah tanpa nurani. Berdasarkan dokumen-dokumen autentik tersebut, terungkap bahwa ia dan keluarganya adalah keturunan murni dari Partai Teratai Hitam—sebuah perguruan besar yang pada masa lalu menjunjung tinggi keseimbangan alam dan keadilan sosial, namun dihancurkan secara licik oleh persekongkolan busuk oknum-oknum yang mengaku sebagai golongan putih tiga puluh tahun silam.
"Jadi..." Ki Japa mendesis pelan, seolah menolak mempercayai kenyataan yang baru saja tersingkap. "Selama ini kita telah menjadi alat propaganda. Kita memburu keturunan korban fitnah, mengira diri kita sedang menegakkan keadilan, padahal kita sedang membersihkan jejak kejahatan para pendeta palsu itu."
"Benar, Ki," balas Kamil, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol. "Dan yang lebih mengerikan, orang yang memegang Pedang Teratai Hitam saat ini mengetahui semuanya. Dendam yang ia bawa bukanlah dendam sembarangan. Itu adalah ratapan dari ribuan jiwa yang mati tanpa dosa di malam jahanam tiga puluh tahun lalu."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang bawah tanah terasa semakin menyesakkan. Obor di dinding berderak pelan, memancarkan cahaya kekuningan yang menari-nari di atas dinding batu basah.
"Kita tidak boleh gegabah, Kamil," Ki Japa memperingatkan sambil meletakkan kembali lembaran perkamen itu ke atas meja dengan sangat hati-hati, seolah takut benda itu hancur menjadi debu. "Jika rahasia ini terbongkar begitu saja tanpa bukti yang tak terbantahkan, para petinggi golongan putih itu akan membalikkan keadaan. Mereka akan mencap kita sebagai pengkhianat yang bersekutu dengan iblis."
"Tapi bukti ada di tangan kita, Ki!" sergah Kamil, nada suaranya meninggi, mencerminkan gejolak jiwa muda yang tak sabar melihat ketidakadilan berlanjut. "Apakah kita harus berdiam diri sementara orang-orang tak bersalah terus diburu dan dibantai atas nama kebenaran palsu?"
"Kebenaran tidak akan pernah menang jika mereka yang memegang kekuasaan mampu menulis ulang sejarah," Ki Japa menatap tajam mata murid mudanya. "Dengarkan aku. Tiga puluh tahun lalu, aku adalah saksi mata pemula. Aku melihat bagaimana Partai Teratai Hitam dikepung dari segala penjuru. Malam itu langit berwarna merah oleh kobaran api, dan jeritan manusia terdengar lebih mengerikan daripada lolongan serigala kelaparan."
Kamil tertegun. Ia belum pernah mendengar Ki Japa berbicara mengenai malam itu dengan begitu terbuka. "Kau berada di sana, Ki?"
"Ya," jawab Ki Japa lirih, pandangannya menerawang jauh menembus dinding batu, seolah kembali ke masa lalu yang kelam. "Aku melihat ketua perguruan mereka saat itu, seorang pendekar bijaksana bernama Mahesa Suria, berlutut bukan karena takut mati, tetapi karena ia dikhianati oleh sahabat karibnya sendiri—tokoh yang kini memimpin Aliansi Persilatan Agung, Pendekar Sura Sena."
Nama itu meluncur bagaikan tetesan racun yang mematikan di dalam ruangan yang sunyi. Kamil menahan napasnya. Sura Sena adalah tokoh paling dihormati di negeri ini. Ia dikenal sebagai sosok dermawan, adil, dan pelindung kaum lemah.
"Sura Sena?" ulang Kamil dengan suara tercekat. "Tokoh suci itu... dia yang memimpin pengkhianatan?"
"Dia otak di balik semuanya," sahut Ki Japa pahit. "Partai Teratai Hitam memiliki sebuah pusaka dan kitab rahasia yang mampu menyibak rahasia kekuatan tertinggi di dunia persilatan. Sura Sena menginginkan kekuasaan itu untuk dirinya sendiri dan golongannya. Dengan memutarbalikkan fakta, ia menuduh Partai Teratai Hitam menyembah aliran hitam dan berencana menggulingkan kekuasaan sah. Aliansi dibentuk, pengepungan dilakukan, dan pembantaian massal terjadi tanpa ampun."
Kamil mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dan anak kecil dari ketua itu... apakah ia berhasil selamat?"
"Konon, bayi dari Mahesa Suria berhasil diselamatkan oleh seorang pengawal setianya yang melompat ke jurang maut di tengah kekacauan malam itu," terang Ki Japa. "Selama puluhan tahun, kita mengira anak itu telah tewas bersama keluarganya. Namun, melihat berkas-berkas ini, keturunan itu tidak hanya hidup, ia telah kembali untuk menagih hutang darah."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki berat terdengar dari lorong atas. Suara itu bergemuruh, diikuti oleh suara benturan logam dan teriakan tertahan yang menandakan ada pertempuran sedang terjadi di luar markas.
"Kamil! Kita terkepung!" seru Ki Japa sambil menghunus pedangnya.
❖ ❖ ❖
Pintu kayu ruang bawah tanah didobrak dari luar dengan sekali tendangan keras. Debu berhamburan memenuhi udara ketika tiga orang bertopeng hitam melompat masuk ke dalam ruangan, masing-masing memegang pedang bermata dua yang memantulkan kilau dingin.
"Serahkan dokumen itu, atau nyawa kalian melayang di sini!" bentak salah seorang penyerang dengan suara disengaja agar terdengar serak.
Kamil tidak membuang waktu. Dalam satu gerakan lincah, ia mencabut pedangnya dari sarung, membiarkan bilah baja itu berdengung nyaring menyambut tantangan. "Kalian bukan prajurit biasa. Kalian adalah bayaran dari para petinggi yang takut masa lalunya terbongkar!"
Pertempuran tak terhindarkan pecah di ruang yang sempit itu. Penyerang pertama melompat maju, mengayunkan pedangnya secara horizontal mengarah ke leher Kamil. Kamil menunduk rendah, membiarkan angin pedang mendesing di atas kepalanya, lalu membalas dengan tusukan kilat ke arah lambung musuh. Lawan tersebut melangkah mundur untuk menghindari tusukan, namun gerakannya langsung disambut oleh sabetan tongkat Ki Japa yang menghantam telak bahu kanannya.
K Biological... suara tulang berderak terdengar samar di antara dentingan logam yang saling beradu.
"Jangan biarkan mereka merusak berkas-berkas itu!" seru Ki Japa sambil terus mendesak lawan di hadapannya dengan jurus tongkat angin puyuh yang mematikan.
Kamil bertarung dengan penuh konsentrasi. Di satu sisi, ia harus melumpuhkan lawan-lawannya, sementara di sisi lain, pikirannya terus melayang pada berkas-berkas di atas meja kayu di belakangnya. Jika dokumen-dokumen itu terbakar atau hancur dalam kekacauan ini, maka kebenaran akan kembali terkubur untuk selamanya, dan jutaan orang akan terus hidup dalam kebohongan besar.