Malam merayap perlahan di atas perkemahan militer Lembah Abadi, membawa serta angin dingin yang menusuk tulang. Di tengah ketegangan yang kian memuncak menjelang pertempuran besar keesokan harinya, ribuan prajurit memilih beristirahat dalam diam di dalam tenda masing-masing, merajut asa atau sekadar berdoa agar nyawa mereka selamat dari badai darah yang segera tiba. Namun, di sudut perkemahan yang agak tersembunyi dari keramaian, di bawah naungan bulan sabit yang memancarkan cahaya pucat keperakan, Arka dan Tera duduk berdampingan di atas sebuah batu besar yang menghadap langsung ke jurang ngarai yang dalam.
Suasana di antara mereka dipenuhi oleh keheningan yang sarat makna. Arka menatap langit malam yang kelam, sementara Tera tak mampu mengalihkan pandangannya dari bara api unggun kecil yang mulai meredup di dekat kaki mereka. Kegelisahan tampak jelas bergelung di dalam diri Tera; jemarinya terus-menerus meremas ujung jubah perangnya dengan buku-buku jari yang memutih. Bayang-bayang masa lalu, wajah-wajah rekan yang telah gugur, serta kebencian yang mendalam terhadap pasukan musuh bergemuruh di kepalanya, menciptakan badai emosi yang hampir meremukkan kewarasannya.
Arka menyadari gejolak batin yang tengah merajam sahabat sekaligus sekutunya itu. Dengan perlahan, ia menggeser posisinya, mendekatkan diri, lalu menoleh menatap wajah Tera yang diterpa temaram cahaya bulan. Arka menarik napas panjang, meresapi aroma pinus yang terbawa angin malam, sebelum akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan yang terasa begitu berat di antara mereka berdua.
"Kau memikirkan pertempuran esok hari, Tera?" tanya Arka dengan suara bariton yang tenang, nyaris seperti berbisik agar tidak memecah keheningan malam yang rapuh.
Tera menoleh sekilas, matanya menyiratkan kilau kepedihan yang mendalam sebelum kembali menatap tanah. "Bukan hanya pertempurannya, Arka. Aku memikirkan mereka yang telah merenggut segalanya dari kita. Bayangan desa kita yang terbakar, jeritan keluarga yang tak berdosa... semua itu terus berputar di kepalaku. Setiap kali aku memejamkan mata, aku bisa mendengar suara mereka menuntut pembalasan. Apakah salah jika aku ingin menghapus mereka dari muka bumi ini tanpa sisa?"
Arka mendengarkan setiap patah kata dengan saksama, tanpa memotong sedikit pun luapan emosi yang keluar dari bibir Tera. Ia tahu betul luka apa yang sedang ditanggung oleh perempuan di sampingnya itu. Dengan kelembutan tutur kata yang selalu berhasil meredam amarah siapa pun, Arka menatap lurus ke dalam manik mata Tera yang basah oleh air mata tertahan.
"Dendam hanya akan melahirkan iblis baru, Tera," ucap Arka lembut namun tegas. "Tugas kita adalah menyembuhkan luka, bukan melanggengkannya."
Tera menggelengkan kepala dengan cepat, napasnya mulai memburu. "Menyembuhkan? Bagaimana bisa kita berbicara tentang penyembuhan ketika darah mereka berlumuran di tangan kita dan tangan saudara-saudara kita? Keadilan hanya bisa ditegakkan dengan darah dibayar darah, Arka!"
"Darah tidak akan pernah membersihkan darah, Tera," balas Arka sabar, jemarinya terulur menyentuh punggung tangan Tera yang gemetar. "Jika kita membalas kebencian dengan kebencian yang sama, apa bedanya kita dengan para algojo yang menghancurkan rumah kita? Kita hanya meneruskan lingkaran setan yang tidak akan pernah ada ujungnya. Suatu saat nanti, generasi setelah kita akan melakukan hal yang sama kepada anak cucu kita, dan begitu seterusnya."
Tera terdiam, sentuhan tangan Arka memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam, namun pikirannya masih berdebat hebat dengan nuraninya sendiri. "Lalu, apa yang harus kita lakukan di medan perang besok? Hanya ada dua pilihan: membunuh atau dibunuh."
"Kita bertarung bukan karena kita membenci apa yang ada di hadapan kita, tetapi karena kita mencintai apa yang ada di belakang kita," jawab Arka penuh keyakinan. "Kita melindungi mereka yang rapuh, bukan menghabisi mereka yang keji dengan kebencian yang sama."
Kata-kata itu meresap perlahan ke dalam jiwa Tera, meredakan sedikit demi sedikit bara amarah yang sejak tadi membakar dadanya. Di bawah naungan bulan kelam itu, untuk sesaat, beban berat di pundak Tera terasa sedikit lebih ringan berkat ketenangan yang dipancarkan oleh sosok Arka.
❖ ❖ ❖
Keheningan malam yang sempat meraja mendadak terusik oleh suara derap langkah berat dari kejauhan, memecah konsentrasi Arka dan Tera yang tengah hanyut dalam perbincangan filosofis mereka. Tak lama kemudian, sesosok bayangan prajurit pengintai berlari tergopoh-gopoh menuju arah mereka, napasnya memburu dan wajahnya pucat pasi diterpa cahaya bulan. Prajurit itu langsung menjatuhkan diri dengan lutut membentur tanah, memberi hormat dengan penuh kecemasan.
"Jenderal Arka! Panglima Tera!" seru prajurit itu dengan suara bergetar. "Pasukan musuh... mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan kita! Para pengintai melaporkan bahwa barisan depan mereka telah melewati celah pegunungan barat dan kini tengah merangsek maju menuju garis pertahanan pertama kita. Mereka memulai serangan lebih awal dari jadwal yang disepakati!"
Arka segera bangkit berdiri dari batu tempat duduknya, raut wajahnya yang tadinya tenang seketika berubah menjadi kaku dan siaga. Insting militernya langsung mengambil alih. "Berapa banyak jumlah mereka yang terlihat, dan apa komandan unit di sektor barat?"
"Perkiraan awal sekitar dua batalion, Jenderal. Dipimpin langsung oleh Jenderal Vane, anjing perang dari benteng hitam," jawab prajurit itu cepat.
Mendengar nama Jenderal Vane, otot-otot di tubuh Tera langsung tegang. Vane bukanlah prajurit sembarangan; ia dikenal sebagai sosok yang kejam, tak kenal belas kasihan, dan merupakan orang yang memimpin pembantaian di desa asal Tera beberapa tahun silam. Dendam kesumat yang baru saja sedikit diredam oleh kata-kata Arka seketika tersulut kembali, membakar ubun-ubun Tera dengan intensitas sepuluh kali lipat. Napas Tera memburu, tangannya secara otomatis mencengkeram gagang pedang panjang yang terselip di pinggangnya hingga buku-buku jarinya kembali memutih.
"Vane..." desis Tera pelan, suara itu keluar dari celah giginya dengan penuh kebencian yang mendalam. "Malam ini takdir mempertemukan kita kembali. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh kuabaikan."
Arka melangkah mendekati Tera, menyadari perubahan drastis pada aura sahabatnya itu. "Tera, kuasai dirimu. Jangan biarkan emosi menguasai pedangmu. Vane adalah musuh yang licik, ia sengaja memancing amarahmu."
"Kau dengar sendiri, Arka! Dia ada di sektor barat, tempat di mana pasukannya menghancurkan segalanya!" Tera menatap Arka dengan mata menyala-nyala. "Ini bukan lagi soal strategi atau pertahanan lembah. Ini adalah saatnya perhitungan akhir. Biarkan aku memimpin pasukan ke sektor barat sekarang juga!"
"Jika kau pergi dengan kemarahan sebesar itu, kau akan masuk ke dalam perangkapnya, Tera!" Arka meninggikan suaranya sedikit, mencoba menyadarkan Tera dari kebutaan dendam. "Vane menunggu kita bertindak gegabah. Pertempuran belum dimulai secara resmi di garis utama, dan jika kita memecah formasi sekarang, seluruh pertahanan Lembah Abadi akan runtuh sebelum matahari terbit!"
"Aku tidak peduli dengan pertahanan jika keparat itu ada di depan mataku!" bentak Tera, menepis pelan tangan Arka yang hendak memegang bahunya. "Kau bisa tetap di sini meraba-raba kebijaksanaan, Arka. Tapi aku tidak akan tinggal diam membiarkan pembunuh itu berkeliaran di tanah kita!"
Sebelum Arka sempat mencegah lebih jauh, Tera sudah berbalik badan dan melangkah cepat meninggalkan area tersebut menuju kandang kuda perang. Arka berdiri mematung di bawah bulan kelam, menyadari bahwa situasi kini berada di ambang jurang kehancuran. Ancaman musuh yang datang lebih cepat bukan sekadar ujian taktis, melainkan ujian terberat bagi ikatan di antara mereka berdua dan kewarasan Tera dalam menghadapi hantu masa lalunya.
❖ ❖ ❖