Angin malam yang berembus di Hutan Jati pinggiran kota membawa aroma getah kering dan tanah basah yang pekat. Di bawah naungan daun-daun jati yang lebar, sepuluh orang pendekar berjalan dalam formasi rapat. Langkah kaki mereka diredam oleh hamparan daun gugur yang tebal, menciptakan suasana sunyi yang mencekam.
Di antara kesepuluh pendekar tersebut, Arya menatap ke depan dengan alis bertaut. Jejak yang mereka ikuti sejak tiga hari lalu terhenti tepat di perbatasan hutan ini.
"Kita sudah masuk terlalu dalam," bisik Seno, pendekar berpedang ganda yang berada di sisi kiri Arya. Suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin malam. "Tempat ini terlalu sepi. Tidak ada burung malam, tidak ada suara serangga. Ini bukan pertanda baik."
Arya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkahnya. Matanya tajam menyapu kegelapan di antara batang-batang pohon jati yang menjulang tinggi bagai barisan raksasa bisu. Penyelidikan panjang yang melibatkan kelompok mereka bukan lagi sekadar mencari jejak pelarian kelompok pembunuh bayaran, melainkan sebuah pertarungan hidup dan mati untuk menghentikan ancaman yang lebih besar bagi kota di perbatasan.
"Ketua," panggil Retno, satu-satunya pendekar wanita dalam kelompok itu yang menguasai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Ia melangkah ringan mendekati Arya, wajahnya tampak tegang di balik bayang-bayang kain penutup kepala. "Aku mencium bau darah yang masih segar. Tidak jauh dari sini, di balik gugusan batu karang."
Tanpa aba-aba suara, kesepuluh pendekar itu segera merendahkan tubuh mereka. Mereka bergerak laksana bayangan malam, mendekati sumber bau yang disebutkan Retno. Sesampainya di balik gugusan batu besar, pemandangan mengerikan menyambut mata mereka. Tiga ekor serigala hutan tergeletak tak bernyawa dengan darah segar mengalir dari kedua telinga dan hidung mereka. Tidak ada luka sayatan atau tusukan di tubuh hewan-hewan malang itu.
"Pembuluh darah di kepala mereka pecah," ujar Ki Japa, tetua kelompok yang paling berpengalaman dalam mengenali berbagai jenis racun dan ilmu hitam. Ia berjongkok, memeriksa bangkai serigala tersebut dengan jemarinya yang keriput. "Ini bukan kerjaan senjata tajam, melainkan gelombang suara berenergi tinggi yang menghancurkan organ dalam dari dalam."
Seno mendengus geram, tangannya refleks mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. "Ilmu sesat macam apa lagi ini? Suara saja bisa membunuh?"
"Suling Maut Pemutus Jiwa," jawab Arya dingin. Suaranya bergetar tipis, menyiratkan bahwa ia sangat mengenal atau setidaknya pernah mendengar kengerian di balik nama ilmu tersebut. "Kita sedang berhadapan dengan salah satu tetua utama kelompok pembunuh bayaran itu. Dia sengaja menunggu kita di sini."
Suasana mendadak menjadi kian tegang. Sepuluh pendekar itu merapatkan barisan, siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Di tengah hutan yang gelap gulita ini, musuh tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang. Mereka tahu bahwa mangsa yang mereka nanti telah masuk ke dalam perangkap yang dipasang rapi.
❖ ❖ ❖
Belum sempat Arya memberikan instruksi lanjutan untuk menyebar dan mencari posisi bertahan, sebuah suara melengking tajam merobek kesunyian malam.
Fuiiiiiiiiit...!
Suara itu mirip tiupan suling bambu, namun nadanya melompat-lompat liar, tidak beraturan, dan mengandung getaran tenaga dalam yang sangat kuat. Begitu gelombang suara itu menyentuh pepohonan, daun-daun jati di sekitar mereka bergetar hebat seolah diterpa badai topan mini.
"Tutup telinga kalian!" seru Arya setengah berteriak sambil menyalurkan tenaga dalam ke kedua telapak tangannya untuk melindungi indra pendengarannya.
Namun, peringatan itu terlambat bagi sebagian pendekar. Dua orang pendekar muda di barisan belakang langsung menjatuhkan diri ke tanah sambil memegangi kepala mereka. Wajah mereka menyeringai kesakitan, sementara darah segar perlahan-lahan mulai menetes keluar dari lubang telinga mereka. Suara suling itu bekerja cepat, merusak keseimbangan batin dan merobek selaput gendang telinga hanya dalam hitungan detik.
"Tahan! Jangan biarkan kesadaran kalian lepas!" Ki Japa berseru keras, mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan gempuran gelombang suara yang kini terasa semakin memekakkan telinga.
Dari balik kegelapan malam, di atas cabang sebatang pohon jati yang besar, sesosok bayangan putih tampak berdiri tegak. Di bibirnya terselip sebuah suling bambu berwarna hitam pekat yang tampak berkilat aneh diterpa cahaya bulan. Sosok itu mengenakan jubah putih longgar yang berkibar-kibar ditiup angin malam, memberikan kesan angker bagai sesosok dewa maut yang turun dari langit.
"Kalian terlalu lancang menginjakkan kaki di tanah suci ini, para tikus kota," suara sosok ber-jubah putih itu menggema berat, seolah berlipat ganda dan datang dari segala penjuru arah. "Kalian pikir kelompok kami bisa diberangus begitu saja hanya dengan mengerahkan sepuluh orang pendekar bodoh?"
"Tunjukkan dirimu secara jantan, pengecut!" bentak Seno, wajahnya memerah menahan amarah sekaligus rasa pusing yang mulai menyerang akibat gema suara suling tersebut.
Sosok itu tertawa dingin. Tawa yang terdengar bagai gesekan logam berkarat, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Suling di bibirnya kembali ditiup. Kali ini, nada yang keluar jauh lebih cepat, bernada tinggi, dan menusuk langsung ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Gelombang kejut tak kasat mata meluncur deras menghantam barisan para pendekar.
"Argh!" Retno mengerang tertahan. Ia terdorong mundur tiga langkah ke belakang, tumitnya menancap kuat ke tanah untuk menghentikan laju mundurnya.