SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Tari Selendang Anggun Tera

Angin malam di lembah Gunung Salak berhembus membawa aroma belerang dan daun basah yang pekat. Suasana di sekitar perkemahan darurat kelompok Arka mendadak berubah mencekam ketika suara alunan suling misterius mulai menggema dari balik pepohonan gelap. Nada-nada yang ditiupkan bukan sekadar melodi biasa; setiap getarannya membawa gelombang tenaga hitam yang langsung menghantam saraf kesadaran siapa pun yang mendengarnya.

Bayu, yang baru saja siuman dari luka racun es sebelumnya, langsung memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan. Darah segar kembali menetes dari sudut bibirnya. Di sampingnya, Kirana dan Sura terjatuh berlutut, berusaha menutupi kedua telinga mereka dengan tangan gemetar. Alunan suling itu bagaikan ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk gendang telinga, menguras tenaga dalam, dan mengaburkan pandangan mata mereka.

"Sial... suara ini..." geram Wira dengan gigi bergemeretak, mencoba berdiri namun lututnya terlampau lemas untuk menopang tubuhnya sendiri. Pedang di tangannya terlepas dan menghantam tanah berbatu.

Arka, yang berdiri paling depan sebagai perisai kelompok, merasai tekanan luar biasa menghantam dadanya. Aliran tenaga dalam di meridian tubuhnya mendadak bergejolak tidak beraturan, terpancing oleh ritme suling maut tersebut. Ia tahu, jika dibiarkan lebih lama lagi, seluruh sahabatnya akan mengalami kerusakan permanen pada organ vital mereka akibat benturan energi gaib ini.

"Bertahanlah! Jangan biarkan pikiran kalian dikuasai!" seru Arka dengan suara parau, mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk membentuk perisai pelindung tipis di sekeliling teman-temannya. Namun, tekanan dari alunan suling itu semakin menjadi-jadi, membuat perisai emas buatannya mulai retak perlahan.

Di tengah situasi yang kian mendesak dan nyaris merenggut kesadaran seluruh anggota kelompok, Tera melangkah maju dengan tenang. Matanya menatap tajam ke arah sumber suara di kegelapan hutan sebelah barat. Tidak ada kepanikan di wajahnya, melainkan ketenangan yang mendalam, bagaikan permukaan telaga yang tidak bergeming dihembus badai.

"Arka, biarkan aku yang menghadapi peniup suling itu," ucap Tera lembut namun tegas, suaranya menembus deru angin malam dan mengimbangi alunan nada maut yang terus meneror.

"Hati-hati, Tera! Ilmu suling ini berbasis gelombang suara batin tingkat tinggi. Sekali kau salah melangkah, jiwamu bisa tercabut dari raga," balas Arka memperingatkan, napasnya memburu hebat.

Tera mengangguk perlahan. Ia melepaskan jubah luar perangnya, menyisakan pakaian bela diri berwarna putih bersih yang kontras dengan pekatnya malam. Di kedua tangannya, tersampai sehelai selendang sutra putih tipis yang memantulkan pendar cahaya rembulan.

❖ ❖ ❖

Tera mulai melangkah maju meninggalkan lingkaran perlindungan. Begitu ia mengambil langkah pertama, alunan suling maut dari kegelapan tiba-tiba berubah nada, menjadi jauh lebih tajam dan memekakkan telinga. Gelombang suara berfrekuensi tinggi meluncur deras seperti ribuan bilah pisau angin, langsung menyasar leher dan dada Tera.

"Hati-hati!" teriak Dian dari kejauhan, memejamkan mata karena tidak sanggup melihat serangan mematikan itu.

Namun, Tera sama sekali tidak menghindar. Dengan gerakan yang sangat anggun dan mempesona, ia mulai mengibaskan selendang putihnya. Gerakannya menyerupai kelopak bunga teratai yang mekar perlahan di atas permukaan telaga yang tenang, memadukan keindahan seni tari tradisional dengan kedalaman ilmu bela diri tingkat tinggi dari Perguruan Teratai.

Syuuuutt... desing!

Kibasan selendang putih itu tidak menghasilkan suara benturan yang keras, melainkan menciptakan gelombang tenaga dalam yang lembut namun sangat dahsyat. Gelombang tersebut berputar melingkar, membungkus bilah-bilah pisau angin yang dikirimkan oleh sang peniup suling, lalu memantulkannya kembali ke segala arah hingga menghancurkan dahan-dahan pohon di sekitar mereka.

"Ilmu Selendang Teratai Putih..." bisik Arka takjub, melihat bagaimana Tera mampu menetralkan tekanan gelombang suara yang sebelumnya membuat mereka hampir pingsan.

Dari balik kegelapan hutan, alunan suling itu mendadak terhenti seketika. Sebuah dengus kaget terdengar jelas dari arah semak-semak yang rapat. Peniup suling misterius itu tampaknya tidak menyangka bahwa jurus andalannya bisa dipatahkan dengan begitu mudah oleh seorang wanita muda.

"Bagus juga kemampuan gadis itu," sebuah suara serak dan dingin menyahut dari balik bayangan pohon besar. "Tapi, apakah kau bisa menahan tarian mautku yang kedua, pendekar wanita?"

Lihat selengkapnya