Hutan Jati purba di pedalaman tanah Jawa menyimpan sunyi yang mematikan. Pepohonan besar berbatang kokoh dan berlumut tebal menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari sore hingga menyisakan temaram ungu yang pekat di atas tanah berdaun kering. Di tempat inilah, jauh dari keramaian desa dan jalur perdagangan pesisir, rahasia paling kelam dari sekte sesat terkubur. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma belerang dan darah busuk, pertanda bahwa mereka telah mendekati jantung kekuasaan musuh.
Yafid menghentikan langkahnya di balik semak belukar yang lebat, mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bagi rombongan di belakang untuk berhenti seketika. Di sampingnya, Rafar berdiri tegak dengan mata menyipit tajam, memperhatikan barisan tebing batu cadas yang menjulang curam di hadapan mereka. Di dasar tebing itu, tersembunyi sebuah celah gua alami yang tertutup oleh jalinan akar gantung dan semak berduri.
"Kita sudah tiba," bisik Yafid pelan, suaranya nyaris tak bergeming dari desau angin hutan. "Tempat ini memiliki aura yang jauh lebih pekat daripada gua peniup suling tempo hari. Hati-hati, Rafar. Pertahanan mereka pasti jauh lebih ketat."
"Aku bisa merasakan getaran energi iblis itu dari sini," jawab Rafar sambil meraba hulu pedang pusakanya yang terselip di pinggang. "Pedang Teratai Hitam tidak hanya disembunyikan di dalam sana, melainkan sedang diberi makan oleh jiwa-jiwa manusia yang mereka kurbankan setiap malam purnama."
Setelah kematian sang peniup suling yang menggemparkan wilayah perbukitan, Yafid dan Rafar tidak membuang waktu. Berbekal petunjuk dari gulungan naskah kuno yang berhasil mereka amankan, keduanya memimpin sisa pasukan pendekar pilihan untuk merangsek masuk ke sarang utama Sekte Serigala Hitam. Sarang ini dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir, tempat di mana para petinggi sekte berkumpul untuk melakukan ritual penyempurnaan senjata pusaka terkutuk tersebut.
"Bagaimana rencana kita, Yafid?" tanya Rafar sambil menoleh ke arah sahabatnya. "Apakah kita langsung menerobos masuk melalui pintu utama, atau mencari jalur rahasia di atas tebing?"
"Pintu utama dijaga oleh dua lapis petarung bayaran dan jebakan racun mematikan," terang Yafid sambil menunjuk ke arah celah gua yang tampak sunyi namun penuh kewaspadaan. "Kita tidak boleh gegabah. Kita bagi tugas. Aku akan memimpin kelompok depan untuk melumpuhkan para penjaga gerbang, sementara kau dan pasukan inti menyusup melalui celah rongga udara di sisi barat tebing."
Rafar mengangguk mantap. "Baiklah. Jangan biarkan satupun dari mereka membunyikan lonceng tanda bahaya. Jika ritual itu selesai sebelum kita menghancurkan altar utama, Pedang Teratai Hitam akan mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi, dan seluruh tanah Jawa akan jatuh dalam cengkeraman kegelapan abadi."
Tanpa suara, kedua pendekar itu membagi pasukan mereka ke dalam dua kelompok kecil. Yafid melangkah maju dengan kuda-kuda kokoh, memegang sebilah pedang pendek di tangan kirinya, sementara telapak tangan kanannya memancarkan pendar tenaga dalam berwarna kebiruan yang siap dilepaskan kapan saja.
❖ ❖ ❖
Suasana di depan mulut gua mendadak menegang ketika Yafid dan tiga orang pendekar pengikutnya keluar dari balik rimbunnya pohon jati. Di depan celah gua, empat orang penjaga berbadan kekar dengan tato serigala melingkar di leher mereka berdiri siaga. Masing-masing memegang tombak bermata ganda yang berkilau di bawah temaram cahaya obor dinding.
"Siapa kalian?!" bentak salah seorang penjaga berbadan paling besar dengan suara menggelegar, matanya menatap tajam ke arah Yafid yang berjalan tanpa gentar. "Tempat ini adalah wilayah terlarang Sekte Serigala Hitam! Mundur atau kepala kalian akan menjadi hiasan di dinding gua!"
Yafid berhenti sepuluh langkah dari mereka. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan ketenangan yang luar biasa di tengah situasi yang berbahaya. "Kami datang bukan untuk bertamu, melainkan untuk mengakhiri kekejian yang telah kalian lakukan di tanah ini. Serahkan Pedang Teratai Hitam dan menyerahlah, maka nyawa kalian akan diampuni."
Penjaga besar itu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding batu gua dan menciptakan gema yang menakutkan. "Anak muda sombong! Kau pikir kau siapa berani mengatur syarat di sarang kami?" Tanpa aba-aba, ia mengayunkan tombaknya ke depan dan memberi isyarat kepada rekan-rekannya. "Habisi mereka!"
Keempat penjaga itu langsung melompat serentak, menyerang dengan gerakan yang terlatih dan mematikan. Tombak-tombak mereka melesat cepat bagaikan kilat, mengincar titik-titik vital di tubuh Yafid dan pasukannya.
Trang! Clang!
Yafid tidak panik. Ia bergeser ke samping dengan kecepatan kilat, menghindari tusukan tombak pertama, lalu menangkis serangan kedua dengan bilah pedang pendeknya. Percikan api meledak di udara akibat benturan logam yang keras. Dalam satu gerakan putaran tubuh yang anggun, Yafid menghantamkan telapak tangannya yang dialiri tenaga dalam ke dada penjaga pertama.
Bum!
Penjaga berbadan besar itu terpental sejauh lima tombak, menabrak dinding batu cadas hingga muntah darah segar sebelum akhirnya terkulai lemas tak bernyawa. Tiga penjaga lainnya terkejut melihat rekan mereka tumbang semudah itu. Semangat bertarung mereka mendadak goyah, namun kesetiaan kepada sekte membuat mereka kembali menerjang dengan beringas.
"Jangan beri mereka kesempatan bernapas!" seru salah seorang penjaga dengan suara serak.
Yafid bertarung menghadapi dua orang sekaligus, sementara para pendekar pengikutnya berhasil melumpuhkan penjaga keempat dengan cepat. Pertarungan singkat namun sengit itu berakhir dalam hitungan detik. Keempat penjaga gerbang kini tergeletak tak bernyawa di atas tanah berbatu, meninggalkan jejak darah segar yang mengalir ke dalam celah gua.
"Bagus, Yafid," puji salah seorang pengikut yang berdiri di belakangnya sambil menyarungkan pedang. "Tapi penjaga di dalam pasti sudah mendengar keributan ini."
"Memang itu yang kita inginkan," jawab Yafid sambil menyeka keringat di dahinya. "Agar perhatian mereka terpusat ke depan, sementara Rafar menyusup dari jalur belakang."
Tanpa membuang waktu lagi, Yafid memimpin rombongannya melangkah masuk melewati mulut gua yang gelap, menuruni lorong batu sempit yang dipenuhi oleh bau amis darah dan dupa beracun.
❖ ❖ ❖