Angin pegunungan berembus kencang, membawa aroma belerang yang pekat serta debu vulkanik yang menyesakkan dada. Di hadapan pasukan kecil yang dipimpin oleh Risha dan Azalia, terbentang sebuah pemandangan yang membuat siapa pun akan bergidik ngeri. Dinding tebing batu cadas berwarna kehitaman menjulang tinggi, membentuk celah alami yang menjadi satu-satunya jalur menuju bagian dalam markas rahasia musuh. Celah itu tertutup oleh kegelapan abadi, menyembunyikan ribuan bahaya mematikan yang siap merenggut nyawa siapa saja yang berani melangkah masuk tanpa perhitungan matang.
Pintu masuk gua dijaga ketat oleh ratusan jebakan panah rahasia dan parit berapi. Namun, keahlian Risha dan Azalia dalam melepaskan panah balasan berantai berhasil merusak tali pemicu jebakan musuh dari jarak aman sebelum pasukan bergerak masuk.
"Tahan langkah kalian!" seru Risha dengan suara lantang namun terjaga, mengangkat tangan kanannya memberi aba-aba kepada para prajurit di belakangnya. Matanya yang tajam meneliti setiap jengkal permukaan dinding gua yang tampak mencurigakan. Di balik lumut-lumut kering dan tonjolan batu, tersembunyi lubang-lubang kecil tempat ujung mata panah beracun mengintip dalam diam.
Azalia melangkah maju berdampingan dengan Risha. Ia mengeluarkan busur panjang berukir perak dari punggungnya, lalu mengambil tiga anak panah sekaligus dari dalam tabungnya. Napasnya teratur, menyatu dengan deru angin malam yang semakin menusuk tulang.
"Mereka memasang sistem pemicu mekanik ganda," bisik Azalia pelan, menunjuk ke arah jalinan tali tipis yang terbentang samar di atas permukaan tanah berbatu di depan parit. "Jika salah satu tali itu tersenggol oleh sepatu kita, ribuan anak panah beracun akan meluncur serempak dari dinding kiri dan kanan dalam hitungan detik."
"Dan di balik hujan panah itu, parit api siap membakar hangus siapa saja yang jatuh tersungkur," sahut Risha menambahkan, matanya menatap kobaran api menyala-nyala di dalam parit selebar tiga tombak yang melintang tepat di depan mulut gua. Minyak tanah berkualitas tinggi rupanya sengaja dialirkan ke dalam parit tersebut untuk menciptakan benteng pertahanan yang mustahil dilewati dengan cara biasa.
"Kita harus melumpuhkan pemicu itu terlebih dahulu dari jarak jauh," kata Azalia tegas. "Tidak ada ruang untuk kesalahan, Risha."
"Aku di sebelah kiri, kau di sebelah kanan," balas Risha mantap sambil menarik busur andalannya. "Mari kita tunjukkan pada para penjaga pengecut itu bagaimana cara memenangkan pertempuran tanpa harus mengorbankan satu pun prajurit."
Keduanya mengambil posisi kuda-kuda yang sempurna. Ketegangan menyelimuti barisan pasukan di belakang mereka; tidak ada yang berani bersuara, bahkan suara deru napas pun seolah diredam oleh rasa gentar menghadapi maut yang menganga di depan mata.
❖ ❖ ❖
Azalia memejamkan matanya sejenak, memusatkan seluruh konsentrasi dan tenaga dalamnya ke ujung jari yang mencengkeram bulu anak panah. Di dalam kegelapan remang-remang senja, telinganya mampu menangkap getaran halus dari mekanisme roda gigi yang tersembunyi di balik dinding gua. Sistem pertahanan musuh itu bekerja secara otomatis, menunggu mangsa mendekat untuk disergap.
"Bersiaplah..." bisik Azalia kepada dirinya sendiri.
Syuuuut!
Anak panah pertama melesat bagai kilat perak membelah udara dingin. Sasaran bukan dinding, melainkan sebuah simpul tali utama yang terikat di celah batu setinggi sepuluh meter di atas pintu gua.
Teng!
Anak panah itu menghantam sasaran dengan ketepatan yang luar biasa, memutus tali pemicu pertama seketika. Namun, sistem musuh langsung merespons. Suara berkeriut keras terdengar dari dalam dinding, disusul oleh desingan ratusan anak panah hitam yang meluncur deras keluar secara membabi buta ke arah area kosong di depan gua.
"Sekarang, Risha!" teriak Azalia.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Risha melepaskan rentetan panah balasan berantai. Tiga anak panah meluncur beriringan dalam satu garis lurus yang sama. Teknik panahan tingkat tinggi warisan marganya—Pukulan Badai Angin—membuat anak panah tersebut tidak hanya melaju cepat, tetapi juga membawa pusaran angin kecil yang mampu mengubah arah benda di sekitarnya.
Bum! Cling! Cling!
Panah-panah Risha menghantam tepat pada rangkaian tali pemicu sekunder yang menghubungkan dinding kiri dan kanan. Ledakan kecil akibat gesekan tenaga dalam menciptakan efek berantai yang memutus seluruh sambungan mekanisme jebakan panah tersebut dalam sekejap. Ratusan anak panah musuh yang tadinya siap meluncur kini mandek terkunci di dalam dinding karena tali penariknya telah hancur berkeping-keping.
"Kerja bagus!" puji Azalia, namun wajahnya tidak menunjukkan rasa lega sepenuhnya. "Jebakan panahnya sudah lumpuh, tapi kita masih harus menyeberangi parit berapi itu."
Kobaran api di dalam parit masih menyala dengan ganas, menjilat-jilat udara dan memancarkan panas yang membuat kulit terasa melepuh meski berdiri agak jauh darinya. Asap hitam mengepul tebal, menghalangi pandangan ke sisi seberang mulut gua tempat para penjaga musuh mulai panik melihat sistem pertahanan andalan mereka gagal total tanpa sempat memuntahkan satu korban pun.
"Mereka menyadari kita merusak mekanismenya," ujar Risha sambil memasang kembali anak panah baru ke busurnya. "Lihat ke atas sana!"
Dari balik kegelapan mulut gua, beberapa sosok bayangan berbaju merah muncul membawa obor besar dan pelontar api raksasa. Mereka bersiap menembakkan bola-bola api ke arah jembatan gantung kayu yang terlipat di atas parit.
❖ ❖ ❖
Suasana semakin memanas ketika para penjaga musuh di seberang parit menyadari kehadiran Risha dan Azalia. Teriakan amarah terdengar menggema dari dalam gua, disusul oleh suara mekanik berat yang mengindikasikan bahwa mereka sedang bersiap menurunkan jembatan besi untuk melancarkan serangan balasan langsung.
"Mereka mau membuka jembatan!" seru salah seorang prajurit di belakang Risha dengan nada cemas.