Pertempuran sengit meletus di dalam aula gua. Fathan dan Galin menerjang barisan pengawal, sementara Zahra dan Chafia menaburkan bubuk pelumpuh saraf untuk menundukkan puluhan anak buah musuh tanpa perlu mencabut nyawa mereka. Suara benturan senjata tajam beradu dengan teriakan kesakitan menggema di dinding-dinding batu kapur yang lembap, menciptakan suasana mencekam yang mempertaruhkan nyawa setiap detik.
"Jangan biarkan ada yang lolos ke pintu belakang!" seru Fathan lantang di tengah riuh rendah pertempuran. Pedang bermata dua di tangan kanannya berkelebat cepat, menangkis tebasan tombak dari seorang pengawal berbadan kekar yang mengenakan jubah hitam bersimbol ular melingkar.
Dengan gerakan kaki yang kokoh berlandaskan jurus Bayu Sakti, Fathan memutar tubuhnya, menghantamkan siku kirinya tepat ke dada sang pengawal hingga pria berbadan besar itu terpental jauh dan menabrak tumpukan kendi keramik hingga pecah berkeping-keping.
Di sisi sebelah kiri aula, Galin bergerak lincah bagai bayangan angin. Pedang pendeknya bergesekan mengeluarkan percikan api ketika beradu dengan golok-golok musuh. Pernapasannya teratur, memancarkan tenaga dalam tingkat tinggi yang membuat setiap ayunan tangannya memiliki kekuatan kejut luar biasa.
"Fathan, tekanan dari arah lorong samping semakin bertambah banyak!" teriak Galin sambil melompat mundur untuk menghindari tebasan maut yang hampir merobek bahu kanannya.
Sementara itu, di barisan belakang, Zahra dan Chafia bekerja sama dengan ketenangan yang mengagumkan di tengah kekacauan medan tempur. Zahra membuka kantong kain kecil berisi bubuk pelumpuh saraf berwarna kebiruan, lalu melemparkannya ke udara dengan kibasan tangan yang lembut. Angin buatan dari tenaga dalamnya meniup serbuk tersebut tepat ke arah kerumunan penyerang yang baru saja keluar dari balik terowongan gelap.
"Tahan napas kalian!" bisik Chafia memperingatkan, meski ia sendiri telah mengenakan kain penutup hidung berwarna putih bersih.
Dalam hitungan detik, belasan anak buah musuh yang menghirup serbuk itu langsung terhuyung-huyung. Mata mereka terbelalak kacamata, kaki mereka terasa lemas seketika, dan satu per satu tubuh mereka ambruk menghantam lantai batu gua yang keras tanpa kesadaran. Tidak ada pertumpahan darah yang sia-sia di tangan kedua gadis itu, karena prinsip mereka adalah melumpuhkan, bukan membantai.
Namun, di ujung aula yang remang-remang, sesosok figur misterius berdiri mengamati kekalahan anak buahnya dengan senyum dingin tersungging di bibir tipisnya. Pria paruh baya itu mengenakan jubah beludru merah tua dengan sulaman benang emas bergambar singa bermata satu.
"Hebat... luar biasa kemampuan para pendekar muda dari perguruan lembah selatan ini," ucap pria itu dengan suara parau yang mendominasi seluruh ruangan, membuat pertempuran mendadak terhenti sesaat.
Fathan menyeka keringat di dahinya, matanya menatap tajam ke arah sosok yang baru saja berbicara. "Keluar kau, Ki Sanjaya! Sembunyi di balik punggung anak buahmu tidak akan menyelamatkan nyawamu malam ini!"
Ki Sanjaya tertawa hambar. Suaranya memantul di sudut-sudut gua, menebar teror psikologis yang merayap ke dalam hati setiap orang yang mendengarnya.
❖ ❖ ❖
Tawa Ki Sanjaya berhenti mendadak, digantikan oleh tatapan mata yang menyalang tajam penuh amarah. Pria paruh baya itu melangkah maju dari balik pilar batu besar, menampakkan postur tubuhnya yang tinggi tegap meskipun usianya tidak lagi muda. Di tangan kanannya tergenggam sebilah tongkat bermata pisau sabit yang memancarkan kilau kebiruan, menandakan senjata tersebut telah dilumuri racun tingkat tinggi yang mematikan.
"Kau terlalu percaya diri, anak muda," geram Ki Sanjaya, suaranya bergetar menahan nafsu membunuh yang menggebu-gebu. "Kau pikir kemenangan kecil atas para pengawal rendahan ini berarti kau telah merobohkan benteng pertahananku?"
Fathan tidak gentar. Ia melangkah maju dua langkah, merapatkan kuda-kudanya dan mengalirkan tenaga dalam ke seluruh meridian tubuhnya hingga jubah putihnya berkibar pelan tanpa angin.
"Bentengmu sudah runtuh sejak malam pembantaian di padepokan tua, Ki Sanjaya," balas Fathan dingin. "Hari ini, pertumpahan darah di rumah tua ini harus diakhiri dengan keadilan yang sepadan."
Di belakang Fathan, Galin bersiaga penuh dengan pedang pendeknya yang siap melesat. Sementara Zahra dan Chafia mengawasi bagian sisi kanan dan kiri gua untuk mengantisipasi kemungkinan adanya serangan kejutan dari sisa-sisa pasukan musuh yang masih bersembunyi di dalam kegelapan terowongan.
"Keadilan?" Ki Sanjaya mendengus sinis. "Di dunia persilatan yang kejam ini, yang kuat adalah hukum, dan yang lemah adalah mangsa! Pengorbanan padepokan kalian sepuluh tahun lalu hanyalah batu loncatan kecil untuk mencapai kekuasaan mutlak di negeri ini!"
Mendengar pengakuan terbuka itu, amarah di dada Fathan membuncah bagai lahar panas yang mendidih. Kilatan amarah terpancar jelas dari kedua bola matanya. Sepuluh tahun lamanya ia hidup dalam bayang-bayang kehilangan guru dan saudara seperguruannya, dan hari ini orang yang paling bertanggung jawab berdiri tepat di hadapannya tanpa rasa penyesalan sedikit pun.
"Keparat kau!" bentak Fathan.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Fathan melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Ilmu meringankan tubuh tingkat tertingginya membuat gerakannya nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang. Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di hadapan Ki Sanjaya, menghantamkan pedangnya dalam tebasan diagonal yang sangat kuat.
Trang!
Benturan keras antara pedang Fathan dan tongkat sabit Ki Sanjaya menciptakan gelombang kejut angin yang memadamkan beberapa obor di dinding gua, membuat suasana menjadi semakin remang-remang dan dramatis.
"Serang bersama!" teriak Galin, memberikan aba-aba kepada rekan-rekannya untuk segera merangsek maju membantu Fathan memecah konsentrasi musuh utama mereka.
❖ ❖ ❖
Pertempuran sengit antara Fathan dan Ki Sanjaya berubah menjadi pertarungan tenaga dalam yang luar biasa hebat. Setiap kali senjata mereka beradu, percikan api menyala terang di dalam gua yang gelap, menerangi wajah kedua petarung yang sama-sama berlumuran keringat.
Galin yang ikut menerjang dari sisi kanan mencoba mencari celah pertahanan Ki Sanjaya. Ia mengayunkan pedang pendeknya dengan gerakan melingkar, menciptakan pola serangan menyerupai bilah angin puyuh yang menyasar bagian rusuk sang pengkhianat.
Namun, Ki Sanjaya memiliki pengalaman bertarung puluhan tahun. Dengan gerakan licik, ia memutar tongkat sabitnya ke belakang, menangkis tebasan Galin dengan mudah, lalu melepaskan tendangan kilat menggunakan tenaga dalam murni ke arah dada Galin.
Bugh!
"Ugh!" Galin terpekik tertahan, tubuhnya terpental mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan diri dengan menancapkan ujung pedangnya ke lantai batu gua. Darah segar mengalir perlahan dari sudut bibirnya.
"Galin! Kau tidak apa-apa?" seru Zahra cemas dari jarak beberapa meter sambil meraba kantong obat di pinggangnya.