Udara dingin malam berhembus kencang melintasi reruntuhan kuil tua di pinggiran jurang. Suara desau angin terdengar seperti ratapan pilu yang bersahutan dengan gemerisik dedaunan kering di sekitar halaman candi yang terbengkalai. Di tengah keheningan yang mencekam itu, dua bayangan manusia berdiri saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
Arka dan Tera mengatur napas mereka yang memburu. Peluh dingin bercampur debu jalanan melekat di pelipis keduanya. Di hadapan mereka, berdiri sang pendekar bertopeng—sosok misterius yang selama beberapa pekan terakhir telah menebarkan teror dan mengacaukan konstelasi kekuatan di dunia persilatan.
"Perjalanan kalian berakhir di sini, Arka. Tera," suara sang pendekar terdengar serak, teredam di balik topeng besi berukir pola angin puyuh yang menutupi separuh wajahnya. Tangannya yang mengenakan sarung tangan baja mengepal erat, memegang sebilah pedang pendek berhawa dingin.
Tera melangkah maju setengah langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Arka. Matanya menatap tajam ke arah sosok bertopeng tersebut, mencoba membaca setiap gerak-gerik kecil yang bisa menjadi celah pertahanan.
"Kau tidak perlu bersembunyi di balik topeng besi itu lagi," seru Tera, suaranya lantang memecah kesunyian malam. "Semua jejak, pola serangan, dan informasi yang kami kumpulkan dari kedai hingga lembah sunyi ini menunjukkan satu hal: kau bukan bagian dari kelompok Serigala Hitam yang sebenarnya. Kau hanya pion yang sengaja dikorbankan."
Pendekar bertopeng itu terdiam sejenak. Bahunya sedikit menegang, namun ia tidak langsung memberikan bantahan. "Pion atau bukan, darah kalian berdua tetap dibutuhkan untuk membuka kebenaran yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh para penguasa rimba persilatan."
"Kebenaran macam apa yang kau maksud dengan cara menebar teror dan merenggut nyawa orang-orang tak berdosa?!" bentak Arka, emosinya mulai tersulut. Ia mengangkat pedang pusakanya, mengalirkan tenaga dalam hingga bilah besi itu memancarkan pendar cahaya keperakan di bawah temaram sinar bulan. "Jika kau punya dendam, selesaikan dengan jantan tanpa harus melibatkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa!"
"Kalian tidak tahu apa-apa tentang rasa sakit!" teriak sang pendekar dengan nada tinggi yang penuh emosi tertahan. "Kalian tumbuh dengan nama baik perguruan besar dan pujian dari para petinggi golongan putih! Kalian tidak pernah tahu bagaimana rasanya dibuang, dikhianati, dan dibiarkan mati kelaparan di atas tanah kelahiran sendiri!"
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, sang pendekar melompat ke depan dengan kecepatan kilat. Pedang pendeknya mengayun membelah udara, menciptakan desingan angin tajam yang mengarah langsung ke leher Arka.
Clang!
Benturan keras tak terhindarkan saat Arka dengan sigap menangkis serangan mendadak itu menggunakan pedangnya. Percikan api berpijar terang di kegelapan malam, menyinari wajah mereka yang berjarak hanya beberapa senti saja. Pertarungan sengit yang menentukan nasib kebenaran pun resmi dimulai.
❖ ❖ ❖
Pertarungan di halaman kuil tua itu berlangsung dalam tempo tinggi. Gerakan sang pendekar bertopeng begitu lincah, memadukan teknik pedang cepat dengan jurus bayangan angin yang membuat Arka dan Tera harus mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka.
Tera bergerak cepat ke sisi kanan, mengayunkan selendang sutra berbobot besi di ujungnya untuk melilit kaki sang pendekar. Namun, sosok bertopeng itu dengan mudah melompat ke udara, berputar bagai baling-baling, lalu menghujamkan sikutnya ke arah tanah tempat Tera berdiri.
Bum!
Tanah berbatu di halaman kuil retak seketika akibat hantaman tenaga dalam yang luar biasa besar. Tera terdorong mundur beberapa langkah, napasnya tersengal-sengal menahan getaran kejut yang merambat melalui telapak kakinya.
"Arka, pertahanannya terlalu rapat! Kita harus memecah konsentrasinya!" seru Tera di sela-sela dentingan senjata yang terus bersahutan.
Arka mengangguk cepat. Ia memahami bahwa menghadapi pendekar ini dengan kekuatan fisik murni tidak akan membuahkan hasil. Pria bertopeng itu memiliki teknik pernapasan tingkat tinggi yang membuat staminanya seolah tidak ada habisnya.
"Fokus pada pola gerakannya, Tera! Perhatikan setiap kali dia melangkah ke sisi kiri. Ada kelemahan pada tumpuan lututnya!" sahut Arka sambil memutar pedangnya, menciptakan lingkaran cahaya pelindung untuk menangkis tusukan beruntun dari sang pendekar.
Mendengar instruksi itu, Tera mengubah strategi. Alih-alih menyerang secara membabi buta, ia mulai membaca ritme langkah kaki lawan. Setiap kali sang pendekar mendarat dari loncatan, Tera dengan sengaja melemparkan jarum-jarum angin tipis ke arah titik buta di sisi kiri tubuhnya.
Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Sang pendekar bertopeng terlihat beberapa kali harus mengubah arah ayunan pedangnya secara mendadak demi menghindari lemparan jarum Tera, membuat gerakannya kehilangan kehalusan aslinya.
"Kalian pikir bisa menjatuhkanku hanya dengan trik murahan seperti itu?!" suara sang pendekar terdengar semakin parau, diiringi napas yang mulai memburu. Tenaga dalamnya mulai tidak stabil, menunjukkan bahwa ia sudah mengerahkan terlalu banyak energi dalam waktu singkat.
"Kami tidak ingin menjatuhkanmu, kami ingin menghentikanmu!" seru Arka lantang, menangkis sabetan terakhir dengan kuat hingga tubuh sang pendekar terdorong mundur beberapa meter ke dekat pilar utama kuil yang runtuh.
Arka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang maju, mengarahkan ujung pedangnya bukan untuk melukai, melainkan untuk menyasar tali pengikat topeng besi di wajah lawannya.
Sret!
Bilah pedang Arka berhasil mengait tali pengikat di sisi kiri topeng. Dengan sekali sentakan kuat, topeng besi berukir angin puyuh itu terlepas dari wajah sang pendekar, melayang di udara sebelum akhirnya membentur tanah berbatu dengan suara nyaring.
❖ ❖ ❖
Suasana di halaman kuil seketika mendadak hening. Dentingan senjata terhenti. Arka dan Tera mematung di tempat mereka berdiri, menatap lekat-lekat sosok yang selama ini menjadi misteri terbesar di dunia persilatan.
Di balik topeng besi yang kini tergeletak di tanah, tidak tampak sosok sesepuh aliran hitam yang kejam ataupun penjahat berdarah dingin. Yang ada di hadapan mereka hanyalah seorang pemuda berusia belasan tahun dengan wajah pucat pasi, luka parah di sudut bibirnya, dan mata sembab yang menyuarakan kepedihan mendalam. Rambutnya yang acak-acakan basah oleh keringat, dan tubuhnya bergetar hebat bukan karena takut, melainkan karena rahasia terbesarnya telah telanjang di hadapan musuhnya.