SERI 2 - PEDANG TERATAI HITAM

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Hasutan Pedang Setan

Angin malam berembus kencang, membawa aroma belerang dan darah segar yang pekat dari lembah kematian. Di bawah temaram cahaya bulan purnama yang bersemu merah darah, suasana di pelataran kuil kuno terasa begitu mencekam. Bebatuan di sekitar pelataran tampak retak-retak, menampakkan sisa-sisa pertempuran dahsyat yang baru saja terjadi antara para pendekar aliran persilatan.

Di tengah pelataran yang sunyi itu, Tetua Braja berdiri dengan napas terengah-engah. Jubah kebesarannya robek di bagian lengan, memperlihatkan otot-otot lengannya yang dipenuhi urat menonjol akibat pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tertuju pada sosok seorang pemuda bertopeng perak yang terkapar lemah bersimbah darah di atas tanah berbatu. Di tangan pemuda bertopeng itu, sebuah pusaka legendaris bersemayam: Pedang Teratai Hitam. Bilah pedang tersebut memancarkan pendar cahaya kehitaman yang berdenyut-denyut pelan, seolah memiliki detak jantungnya sendiri.

"Berikan pedang itu kepadanya, anak muda! Kau tidak memiliki kapasitas untuk menanggung beban dari pusaka terkutuk tersebut!" teriak salah seorang pendekar dari kejauhan, mencoba memperingatkan.

Tetua Braja mengabaikan teriakan itu. Ambisinya yang telah lama terpendam untuk menguasai dunia persilatan kini tersulut kembali oleh kilau menggoda dari sang pedang iblis. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang maju sebelum pemuda bertopeng itu sempat mengangkat tangannya untuk melawan. Tangan keriput namun bertenaga itu mencengkeram gagang Pedang Teratai Hitam dengan kuat, lalu merenggutnya secara paksa dari genggaman sang pemuda.

"Kepunyaan siapa pun pedang ini di masa lalu, malam ini ia tunduk di bawah kekuasaanku!" geram Tetua Braja dengan suara lantang yang menggema di seluruh lembah.

Syuuung!

Seketika pedang itu berpindah tangan, sebuah gelombang kejut hitam melesat dahsyat dari bilahnya. Udara di sekitar Tetua Braja mendadak membeku, dipenuhi oleh dengungan suara ratapan ribuan jiwa yang meremang bulu roma. Hawa iblis yang terkurung selama ratusan tahun di dalam pusaka tersebut mendadak mendobrak keluar, mengalir lewat pori-pori tangan sang tetua.

"Tetua Braja! Jangan sentuh gagang itu dengan tangan kosong! Kau bisa kehilangan kendali!" seru seorang murid senior dari perguruan angin timur dengan wajah pucat pasi.

Tetua Braja tertawa terbahak-bahak, meremehkan peringatan tersebut. "Kalian semua hanya pengecut yang takut pada kekuatan besar! Lihatlah bagaimana pedang ini akan memilih tuannya yang sejati!"

Namun, tawa kemenangan itu tidak berlangsung lama. Dalam hitungan detik, perubahan drastis mulai terjadi pada fisik Tetua Braja. Urat-urat di sekujur leher dan wajahnya membengkak berwarna kehitaman, merayap naik hingga ke kelopak matanya yang mulai bergetar hebat.

❖ ❖ ❖

Perubahan itu terjadi dengan sangat mengerikan dan di luar nalar manusia biasa. Bola mata Tetua Braja yang tadinya jernih kini perlahan-lahan berubah warna menjadi merah menyala, memancarkan pijaran cahaya iblis yang sangat menakutkan di dalam kegelapan malam. Napasnya yang tadinya teratur kini berubah menjadi mendengus berat, mirip seperti suara binatang buas yang kelaparan akan mangsa.

"Argh... Ukh...!" Tetua Braja mengerang tertahan, menjatuhkan tubuhnya dengan satu lutut menghantam tanah batu.

Hawa iblis dari Pedang Teratai Hitam merasuki aliran darahnya dengan kecepatan kilat, membakar jalur meridian di sekujur tubuhnya tanpa ampun. Suara bisikan-bisikan gaib yang dipenuhi kebencian dan kutukan berdengung keras di dalam kepalanya, mendesaknya untuk membunuh siapa saja yang bernapas di hadapannya.

"Tetua! Apa yang terjadi padanya?!" bisik para pendekar yang menyaksikan peristiwa itu dari jarak sepuluh tombak, mundur perlahan karena ketakutan yang teramat sangat.

"Hati-halian! Hawa keberadaannya telah berubah sepenuhnya. Dia bukan lagi Tetua Braja yang kita kenal!" jawab seorang pendekar tua berjanggut putih, memegang erat gagang pedangnya dengan tangan yang bergetar hebat.

Di tengah rasa sakit yang luar biasa membakar sekujur tubuhnya, sudut bibir Tetua Braja justru tertarik membentuk sebuah senyuman lebar yang mengerikan. Alih-alih meredup, kekuatan tenaga dalamnya justru meledak keluar berkali-kali lipat dari batas maksimal seorang manusia. Gelombang tekanan energi merah kehitaman berputar di sekeliling tubuhnya, menciptakan badai kecil yang menerbangkan debu dan bebatuan di sekitarnya.

"Kekuatan... Ini adalah kekuatan absolut yang sesungguhnya!" suara Tetua Braja berubah menjadi serak, bergema berat seolah berasal dari dasar bumi yang paling dalam.

Pemuda bertopeng perak yang terduduk lemas di tanah hanya bisa menatap ngeri ke arah sang tetua. Ia tahu betul kutukan apa yang terkandung di dalam pedang tersebut, namun keserakahan telah membutakan akal sehat Tetua Braja untuk menerimanya secara sukarela.

"Kau... kau telah memilih jalan kehancuranmu sendiri, orang tua bodoh," desis pemuda bertopeng itu dengan suara lemah, batuk darah segar dari balik topengnya.

Lihat selengkapnya