Udara di pelataran Candi Wirabhakti terasa membeku, seolah seluruh oksigen telah tersedot habis oleh aura kematian yang memancar dari tubuh Tetua Braja. Sesepuh sesat berjuluk Iblis Pedang itu berdiri tegak dengan jubah abu-abu yang berkibar liar diterpa angin malam. Sepasang matanya memerah menyala, menatap remeh ke arah tiga pemuda yang berdiri terengah-engah di hadapannya. Darah segar tampak mengalir perlahan dari sudut bibir ketiganya, menjadi saksi bisu betapa mengerikannya hantaman tenaga dalam yang baru saja mereka terima.
Kamil menggenggam erat hulu pedangnya, merasakan getaran hebat menjalar hingga ke pergelangan tangannya. Di sisi kiri dan kanannya, Rafar dan Yafid berdiri dengan kuda-kuda yang mulai goyah. Napas mereka memburu, berkejaran dengan detak jantung yang bergemuruh di dalam dada.
"Kalian bertiga benar-benar keras kepala," suara Tetua Braja menggelegar, dingin dan sarat akan ejekan. "Merangkaklah dan mohon ampun, maka aku akan memberikan kematian yang cepat tanpa rasa sakit. Melawan seorang master tingkat kesempurnaan seperti diriku hanya akan berujung pada kehancuran total tulang-belulang kalian."
"Jangan banyak bicara, Braja!" bentak Rafar dengan suara parau, meludah untuk membuang darah yang menggenang di rongga mulutnya. "Kami tahu siapa dirimu. Di balik gelar luhur yang kau junjung selama ini, kau tidak lebih dari seekor anjing kurap yang haus darah dan kekuasaan!"
Tetua Braja mendengus dingin. Tidak ada ekspresi amarah di wajahnya yang berkerut seribu, melainkan senyuman tipis yang mengerikan. "Mulut lancang anak muda tidak akan pernah bisa menyelamatkan nyawa kalian. Hari ini, kuburan kalian akan menjadi saksi betapa mahalnya harga ketidaktahuan."
Tanpa aba-aba, tubuh Tetua Braja melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakannya begitu cepat hingga menyerupai bayangan hitam yang membelah kegelapan malam. Angin tajam berhawa dingin menyertai setiap ayunan pedangnya, menciptakan desingan mengerikan yang memekakkan telinga.
"Formasi Tiga Penjuru, sekarang!" teriak Kamil penuh komando.
Merespons seruan itu, Kamil, Rafar, dan Yafid bergerak serentak dalam satu kesatuan yang telah mereka latih bersama. Mereka tidak memilih untuk menghindar, melainkan mengambil risiko besar dengan menyongsong badai serangan sang iblis pedang. Kamil memimpin di garis depan sebagai perisai utama, sementara Rafar dan Yafid bergerak melingkar di kedua sisi untuk mengapit pergerakan musuh.
Trang!
Benturan pertama terjadi begitu dahsyat hingga menciptakan percikan api pijar yang menerangi kegelapan malam. Kamil terdorong mundur tiga langkah ke belakang, menahan beban tenaga dalam lawan yang menghantam dadanya seperti palu raksasa. Sesak napas langsung merusak ritme pernafasannya, memaksa darah hangat kembali mendesak naik ke kerongkongannya.
"Tahan dia!" seru Yafid sambil melompat tinggi, mengayunkan tongkat kayunya dengan seluruh tenaga mengarah tepat ke bahu kanan Tetua Braja.
Tetua Braja mendengus remeh. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Kamil, ia memutar pergelangan tangannya, mengarahkan punggung pedangnya untuk menangkis hantaman tongkat Yafid.
Bum!
Getaran balik yang kuat membuat Yafid terpental jatuh ke tanah, berguling beberapa kali sebelum berhasil menancapkan senjatanya ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
❖ ❖ ❖
Pertempuran di pelataran candi semakin sengit. Tetua Braja benar-benar mengamuk seperti iblis yang terlepas dari kurungan neraka. Setiap tebasan pedangnya membawa gelombang energi destruktif yang mampu mencukur bebatuan candi menjadi serpihan debu halus.
"Jangan biarkan dia memecah formasi kita!" Yafid berteriak memperingatkan rekan-rekannya, menyeka keringat bercampur darah yang menutupi pelipisnya. "Kita harus terus bergerak secara bergantian. Jika kita bertahan diam di satu tempat, kita hanya menunggu waktu untuk mati dihancurkan."
"Aku tahu!" sahut Rafar cepat. Ia melangkah maju menggantikan posisi Kamil yang sedang mengatur ulang sirkulasi tenaga dalamnya. Rafar mengayunkan pedangnya dalam pola melingkar, menciptakan perisai bayangan baja untuk menahan gelombang tebasan susulan dari Tetua Braja.
Kamil memanfaatkan detik-detik berharga tersebut untuk memulihkan diri. Ia memejamkan mata sejenak, mengalirkan sisa tenaga dalam ke seluruh meridian tubuhnya untuk meredam rasa sakit yang menusuk di bagian dada. Luka dalam akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi mulai menggerogoti ketahanan fisik mereka, namun tekad di dalam hati ketiganya jauh lebih kuat daripada rasa sakit yang mendera.
"Kalian mengandalkan kerja sama kekanak-kanakan ini untuk mengalahkanku?" geram Tetua Braja, suaranya terdengar semakin beringas. Serangannya kini berubah menjadi badai tebasan bertubi-tubi yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Rafar, yang berada di garis pertahanan depan, mulai kewalahan. Setiap kali pedang mereka beradu, getaran hebat merambat hingga ke tulang belikatnya, membuat lengan kanannya terasa lumpuh dan kehilangan tenaga.
"Rafar, mundur!" seru Kamil yang kini telah kembali berdiri tegak dengan mata menyala tajam.
Dengan gerakan secepat kilat, Kamil melompat menyusup di antara sela-sela serangan lawan, mengayunkan pedangnya langsung mengarah ke titik buta Tetua Braja di bagian rusuk kiri. Yafid tidak tinggal diam; ia langsung menyusul dari arah bawah, menyapu kaki musuh dengan hantaman tongkat berkecepatan tinggi.
Tetua Braja terkejut melihat koordinasi serangan balik yang begitu cepat dari tiga pemuda yang seharusnya sudah kehabisan tenaga. Ia terpaksa menghentikan serangan utamanya dan menarik mundur tubuhnya untuk menghindari terjangan ganda tersebut.
Sreett!
Meskipun berhasil mengelak dari tusukan fatal Kamil, ujung tajam pedang pemuda itu tetap berhasil merobek jubah abu-abu Tetua Braja dan meninggalkan goresan tipis berdarah di kulit rusuknya.
Tetua Braja mendarat dengan agak terhuyung, lalu menunduk menatap noda darah di jubahnya. Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, sorot mata meremehkan di wajahnya berubah menjadi kilatan kemurkaan yang luar biasa.
"Kalian... berani melukai tubuhku?" suara Tetua Braja bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Kalian benar-benar mencari mati dengan cara yang paling menyakitkan!"
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar pelataran candi mendadak menjadi sangat sunyi, kecuali suara desau angin malam yang menderu kencang. Tetua Braja merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Aura hitam pekat mulai terpancar keluar dari pori-pori kulitnya, membungkus seluruh tubuhnya dalam selubung energi yang menyerupai kobaran api kegelapan.