Malam di Lembah Pemisah Karang mendadak terasa begitu pekat, seolah menelan setiap jengkal cahaya bintang yang biasanya bertaburan di langit. Angin malam berhembus kencang membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang, membuat dedaunan di sekitar arena pertempuran berdesir gelisah. Di tengah pelataran batu hitam yang bersimbah darah, situasi telah berubah menjadi sangat genting. Tiga orang ahli strategi terkemuka dari kubu persekutuan kini terdesak ke sudut tebing, terjepit oleh gelombang serangan musuh yang datang silih berganti tanpa memberi ruang bagi mereka untuk bernapas barang sejenak.
Keringat dingin bercampur debu dan darah segar tampak membasahi pelipis para ahli strategi tersebut. Tongkat komando dan gulungan peta strategi yang biasa mereka gunakan untuk memenangkan peperangan kini tidak lagi berguna di tengah hujan pedang yang mematikan. Di hadapan mereka, seorang pendekar bayangan dari faksi musuh mengacungkan pusaka legendaris berjuluk Pedang Teratai Hitam. Pusaka itu memancarkan kilau keunguan yang mengerikan, menyebarkan gelombang energi beku yang mampu meremukkan tulang hanya dari terpaan angin serangannya saja.
"Pertahanan kalian sudah runtuh, para penasihat lemah! Tidak ada lagi tempat bagi kalian untuk bersembunyi di balik rencana-rencana licik itu!" seru pendekar bayangan tersebut dengan tawa dingin yang menggema di antara dinding-dinding batu karang.
Pedang Teratai Hitam diayunkan dengan kecepatan kilat, membelah udara malam dan menciptakan gelombang sabit energi beku yang meluncur tajam ke arah tiga ahli strategi yang sudah kehabisan tenaga. Ketiganya hanya bisa memejamkan mata, bersiap menyambut takdir pahit tatkala maut berada di ambang mata mereka. Namun, di saat-saat paling krusial ketika harapan tampak hampir pupus, dua sosok bayangan melesat bagai kilat dari barisan belakang, mengambil alih posisi terdepan untuk melindungi rekan-rekan mereka.
Fathan dan Galin mendarat dengan hentakan kuat di atas tanah berbatu, tepat di hadapan gelombang energi maut tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, Fathan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, sementara Galin mengambil kuda-kuda kokoh dengan membusungkan dadanya. Mereka berdua memasang badan sebagai perisai hidup, menolak untuk mundur selangkah pun demi menyelamatkan nyawa rekan-rekan seperjuangan yang kini tengah terluka parah di belakang punggung mereka.
"Jangan takut, tetaplah berada di belakang kami!" seru Fathan dengan suara tegas yang menggetarkan udara malam.
Galin mengatupkan rahangnya rapat-rapat, memusatkan seluruh pikiran dan jiwa raganya ke dalam aliran tenaga dalam murni yang mengalir deras di dalam meridian tubuhnya. "Selama kami berdua masih berdiri di sini, tidak ada satu pun bilah pedang musuh yang boleh menyentuh kawan-kawan kita!" ucap Galin penuh keyakinan, menatap tajam ke arah musuh yang bersiap melancarkan serangan susulan dengan senyum meremehkan di bibir mereka.
❖ ❖ ❖
Gelombang sabit energi beku dari Pedang Teratai Hitam meluncur dengan kecepatan luar biasa, menghantam langsung ke arah pertahanan yang baru saja dibangun oleh Fathan dan Galin. Benturan hebat seketika terjadi di antara mereka, menciptakan dentuman keras yang menggetarkan seluruh permukaan tanah di sekitar pelataran batu hitam. Hawa dingin yang mematikan langsung merasuk ke dalam pakaian, menghantam pori-pori dan membekukan aliran darah di sekitar kulit mereka, namun kedua pendekar itu tetap bergeming di tempatnya bagai karang di tengah terjangan ombak samudra.
Fathan mengerahkan seluruh tenaga dalam murninya untuk menciptakan perisai tak kasat mata di hadapan mereka, sementara Galin menopang punggung Fathan dengan menyalurkan sebagian tenaga dalamnya guna memperkuat daya tahan pertahanan gabungan tersebut. Suara gesekan energi yang memekakkan telinga terus berdengung di udara, memancarkan percikan api biru keunguan yang menyilaukan mata setiap orang yang menyaksikan pemandangan menegangkan itu dari kejauhan.
"Tahan, Galin! Jangan biarkan energi mereka menembus batas pertahanan kita!" teriak Fathan di tengah deru angin dingin yang berpusat di sekeliling mereka.
"Aku bertahan semampu ku, Fathan! Tenaga mereka jauh lebih besar dari perkiraan kita!" balas Galin dengan napas yang mulai tersengal-sengal, menahan beban tekanan energi beku yang seolah ingin meremukkan tulang belulang di dalam tubuhnya.
Tekanan yang luar biasa besar itu akhirnya membuahkan akibat yang mengerikan bagi tubuh fisik mereka. Perlahan namun pasti, beban tekanan tenaga dalam musuh yang begitu pekat mulai mengoyak pertahanan internal Fathan dan Galin. Sebuah batuk kecil disertai tetesan darah segar berwarna merah pekat mendadak lolos dari bibir Fathan, mengalir turun membasahi dagu dan kerah jubah perangnya yang koyak. Di sisi sebelah kanannya, Galin juga mengalami hal yang serupa; darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya, membentuk garis merah kontras di atas wajahnya yang pucat pasi akibat terkurasnya tenaga dalam secara drastis.
Meskipun rasa sakit yang luar biasa membakar sekujur dada mereka, dan organ-organ dalam terasa seolah diremas oleh tangan tak kasat mata, baik Fathan maupun Galin sedikit pun tidak mengendurkan kuda-kuda pertahanan mereka. Mereka tahu persis bahwa jika pertahanan itu runtuh bahkan untuk sepersekian detik saja, gelombang energi beku dari Pedang Teratai Hitam akan langsung menyapu bersih ketiga ahli strategi yang berlindung di belakang punggung mereka tanpa ampun.
"Lihatlah mereka! Dua ekor semut yang mencoba menahan badai dengan tubuh telanjang!" ejek pendekar bayangan musuh sambil terus mengalirkan tenaga hitam ke dalam pedangnya, menambah tekanan gelombang es hingga membuat tanah di bawah kaki Fathan dan Galin retak berpola jaring laba-laba yang dalam.
Tiga ahli strategi yang terluka di belakang hanya bisa menatap punggung kedua pelindung mereka dengan air mata kekaguman dan rasa bersalah yang teramat sangat. "Fathan... Galin... hentikan! Kalian akan mati jika terus menahan serangan itu sendiri!" seru salah seorang ahli strategi dengan suara bergetar penuh keputusasaan.
"Diam di tempat kalian dan simpan tenaga kalian!" bentak Galin setengah berteriak di tengah kesakitan yang menderanya. "Tugas kami adalah memastikan kalian selamat keluar dari tempat ini. Jangan sia-siakan pengorbanan ini dengan rasa putus asa!"
❖ ❖ ❖