Udara di dalam Gua Tengkorak Biru terasa semakin membeku, mencengkeram tulang siapa saja yang berani menginjakkan kaki di dalamnya. Dinding batu kapur yang basah dilapisi oleh kristal-kristal es tipis yang memancarkan pendar kebiruan mengerikan. Di sudut ruangan batu yang luas itu, tiga orang sahabat Arka—Bima, Kirana, dan Dananjaya—terkulai lemas di atas lantai batu yang dingin. Bibir mereka membiru, dan napas yang keluar dari mulut mengepulkan uap putih tipis, menandakan bahwa suhu tubuh mereka telah turun jauh di bawah ambang batas kesadaran normal.
Arka berdiri di tengah ruangan, tatapannya menyapu kondisi rekan-rekannya dengan dada yang bergemuruh hebat oleh amarah bercampur duka. Di hadapan mereka, sesosok bayangan berjubah hitam legam berdiri dengan angkuh. Sosok itu adalah Ki Purbakala, pemimpin sekte sesat Tapak Es Abadi, yang kedua tangannya mengepulkan kabut putih pekat. Kabut beracun itulah yang perlahan-lahan merenggut kesawaan dan tenaga dalam tiga sahabat setianya.
"Arka... jangan... jangan mendekat..." bisik Bima dengan suara tertahan dan bergetar hebat. Tubuhnya gemetar hebat, meringkuk menahan rasa dingin yang luar biasa menusuk sumsum tulang belakangnya. "Hawa es... tempat ini... adalah perangkap..."
"Bertahanlah, Bima!" seru Arka, suaranya parau namun sarat akan tekad baja. Ia melangkah maju selangkah demi selangkah, meski setiap injakan kakinya di atas lantai gua terasa berat seolah dibebani ribuan kati es. "Aku tidak akan membiarkan iblis tua ini merenggut nyawa kalian di tempat terkutuk ini!"
Ki Purbakala tertawa kecil. Suaranya terdengar hampa, bergaung di setiap sudut gua yang sempit, menciptakan gema yang menusuk telinga. "Pendekar muda yang naif," ucap Ki Purbakala sinis, matanya yang tajam menatap remeh ke arah Arka dari balik tudung jubahnya. "Ilmu Tapak Es Abadi milikku telah meresap ke dalam aliran darah mereka. Sebentar lagi, seluruh pembuluh darah mereka akan membeku dan pecah menjadi serpihan es. Tidak ada seorang pun di dunia persilatan ini yang mampu menyelamatkan mereka, bahkan para dewa sekalipun."
"Kau salah besar, Ki Purbakala!" balas Arka tajam, giginya bergemeretak menahan gejolak amarah yang membakar dadanya.
"Oh? Kau pikir tekad kosongmu bisa mencairkan ilmu tingkat tinggi yang telah kupupuk selama puluhan tahun?" tantang Ki Purbakala sambil mengangkat tangan kanannya.
Seketika itu juga, hembusan angin es yang lebih dahsyat dari sebelumnya meluncur deras menghantam arah Arka. Suhu ruangan drop drastis dalam sekejap mata, membuat tetesan air dari langit-langit gua membeku di udara sebelum sempat menyentuh tanah. Arka tidak mundur selangkah pun. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menyatukan pikiran, raga, dan inti tenaga dalamnya ke dalam satu titik fokus yang sempurna.
❖ ❖ ❖
Melihat Arka bergeming di tempatnya, Ki Purbakala mengerutkan kening di balik bayangan tudungnya. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu hari ini. Biasanya, setiap lawan yang menghadapi hawa es miliknya akan langsung gemetar dan kehilangan kendali atas tenaga dalam mereka sendiri. Namun Arka berdiri tegak, bagaikan sebuah karang kokoh di tengah terjangan badai salju yang mematikan.
"Kau masih bisa bersikap tenang, anak muda?" geram Ki Purbakala. Ia mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat, dan seketika pusaran angin es berputar kencang mengelilingi tubuhnya, membentuk perisai badai salju mini yang berderak-derak mengerikan.
"Tenangku bukan berarti aku takut padamu," jawab Arka perlahan. Matanya membuka kembali, dan sorot matanya kini memancarkan binar keemasan yang sangat terang, seolah ada dua buah bara api yang menyala di dalam bola matanya. "Selama ini aku belajar mengendalikan amarah. Tapi hari ini, amarah itu akan kuubah menjadi cahaya untuk menghangatkan kembali sahabat-sahabatku yang kedinginan."
Tanpa menunggu aba-aba, Ki Purbakala melesat maju dengan kecepatan kilat. Tangannya teracung lurus ke depan, memancarkan cakar es tajam yang siap merobek dada Arka. Udara di jalur yang dilewatinya berderak retak, meninggalkan jejak embun beku yang berkilauan di bawah cahaya pendar gua.
"Rasakan kebekuan abadi!"teriak Ki Purbakala penuh keyakinan.
Arka tidak mencoba menghindari serangan frontal tersebut. Ia justru membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan energi panas dari jurus tertingginya mengalir deras dari pusar menuju dada dan menyebar ke seluruh jemarinya. Sesaat sebelum cakar es Ki Purbakala menyentuh dadanya, Arka berteriak nyaring melampiaskan seluruh tenaga dalamnya ke luar tubuh.
BARRRR!
Benturan tenaga dalam yang bertolak belakang—antara hawa es yang membekukan dan gelombang panas yang membara—menciptakan gelombang kejut dahsyat yang menyapu seluruh penjuru Gua Tengkorak Biru. Batu-batu kecil di dinding gua terpelanting hancur berkeping-keping, sementara Kirana dan Bima yang terbaring di sudut terdorong sedikit menjauh oleh hembusan angin ledakan tersebut.
Arka terdorong mundur tiga langkah ke belakang, jejak sepatunya meninggalkan bekas gosong bercampur uap air di lantai batu. Di sisi lain, Ki Purbakala terhuyung mundur sebanyak dua langkah, matanya membelalak lebar karena terkejut mendapati telapak tangannya terasa panas menyengat, seolah baru saja menyentuh bara api neraka.
"Ilmu apa itu?!" seru Ki Purbakala dengan nada tidak percaya. "Bagaimana mungkin tenaga dalammu mampu menepis Hawa Es Abadiku tanpa terluka parah?!"