Angin malam di puncak Gunung Salak berhembus kencang membawa hawa dingin yang menusuk tulang, berpadu dengan aroma belerang yang menyesakkan dada. Di tengah tanah lapang yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu purba, pertempuran puncak antara kelompok Arka melawan Tetua Braja mencapai babak paling menentukan. Langit di atas mereka tampak kelam, tertutup awan hitam pekat yang berputar-putar membentuk pusaran raksasa, memantulkan cahaya merah darah dari celah-celahnya.
Tetua Braja berdiri dengan angkuh di tengah arena, jubah hitamnya berkibar hebat diterpa angin badai gaib. Di tangan kanannya, Pedang Teratai Hitam memancarkan cahaya kebiruan yang menyilaukan dan mematikan, menyebarkan gelombang hawa dingin pembunuh yang membekukan rerumputan di sekitarnya. Mantan guru besar yang telah tersesat ke jalan kegelapan itu tertawa parau, menatap rendah ke arah Arka dan Tera yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kalian pikir bisa menghentikanku di sini, anak-anak bodoh?" suara Tetua Braja menggelegar, mengguncang dinding-dinding batu di sekeliling lembah. "Pusaka ini telah menyatu dengan jiwa dan ragaku! Kekuatannya tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh ilmu murahan dari Perguruan Teratai!"
Arka tidak menjawab. Napasnya memburu, namun tatapan matanya menyiratkan tekad yang membaja. Jubah abu-abunya robek di beberapa bagian akibat sisa-sisa pertarungan sebelumnya, dan tetesan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Di sampingnya, Tera berdiri dengan anggun, memegang sehelai selendang putih yang kini memantulkan pendar cahaya keemasan. Meskipun tubuh mereka sama-sama sudah sangat lelah, semangat untuk menumpas kejahatan tidak sedikit pun surut dari diri keduanya.
"Jangan banyak bicara, Braja!" seru Arka dengan suara tajam, mencengkeram hulu pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Pengkhianatanmu harus dibayar lunas malam ini juga. Pusaka terkutuk itu tidak layak berada di tangan seorang pembunuh sepertimu."
Tetua Braja mendengus dingin, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah kalian sanggup bertahan dari tebasan maut yang akan meratakan tempat ini menjadi abu!"
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Tetua Braja mengibaskan Pedang Teratai Hitamnya ke depan. Semburan gelombang es hitam raksasa melesat cepat bagaikan naga murka, membelah tanah dan langsung mengarah kepada Arka dan Tera dengan kecepatan kilat. Suhu udara di sekitar mereka anjlok drastis dalam hitungan detik, mengubah tetesan embun di udara menjadi serpihan es tajam yang siap merobek kulit.
"Sekarang, Tera!" teriak Arka memberi aba-aba.
Tera melompat ringan ke udara, gerakannya begitu luwes dan anggun bagaikan seekor burung merpati putih yang terbang menembus badai salju. Selendang putih di tangannya berkibar lebar, memancarkan cahaya terang benderang yang langsung menerangi kegelapan malam di puncak gunung tersebut.
❖ ❖ ❖
"Terima ini, Braja! Rasakan kekuatan Jala Teratai Suci!" seru Tera dengan suara penuh penekanan.
Ia mengibaskan selendangnya ke arah sekeliling Tetua Braja. Ratusan benang tenaga dalam berwarna putih keemasan meluncur deras dari ujung selendang, merambat cepat di atas permukaan tanah, lalu melingkar membentuk sebuah sangkar energi raksasa yang transparan namun sangat kokoh. Jala suci itu langsung mengurung ruang gerak Tetua Braja, mengikat erat kaki dan tangan lelaki tua tersebut agar tidak bisa melompat atau menghindar.
Tetua Braja terkejut saat merasakan aliran tenaga dalamnya mendadak terhalang oleh jaring gaib tersebut. "Argh... apa-apaan trik murahan ini?!" geram Tetua Braja, mencoba mengayunkan pedangnya untuk memotong benang-benang cahaya yang melilit tubuhnya.
Namun, setiap kali bilah Pedang Teratai Hitam menyentuh jaring putih itu, muncul percikan api gaib yang membakar balik energi hitam sang tetua, membuatnya meringis kesakitan. Jala Teratai Suci bekerja dengan menyerap dan mengunci getaran negatif, membuat ruang gerak Tetua Braja menyempit drastis dalam hitungan detik.
"Jangan harap kau bisa keluar dari lingkaran itu, Braja!" sahut Tera dari udara, wajahnya tampak pucat karena harus mengerahkan sebagian besar sisa tenaga dalamnya untuk mempertahankan jaring gaib tersebut agar tidak runtuh diterjang amukan sang musuh.
Arka, yang melihat celah emas di tengah kekangan musuh, tidak menyia-nyiakan kesempatan sepersekian detik itu. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh sisa tenaga di meridian tubuhnya ke dalam telapak tangan kanannya. Cahaya keemasan yang sangat terang mulai memancar keluar dari kulitnya, menyerupai pendar panas matahari pagi yang membakar kabut tebal.
"Ini akhir dari segalanya, Braja!" teriak Arka dengan suara menggelegar yang memecah keheningan malam.