Langit di atas pesisir Sunda Kelapa pagi itu membentang biru jernih, seolah mencuci bersih seluruh noda darah dan kelam yang sempat mencekam tanah Pasundan selama bermusim-musim. Debur ombak menghantam karang dermaga dengan irama yang menenangkan, menyapu sisa-sisa reruntuhan benteng kayu yang porak-poranda akibat pertempuran dahsyat melawan sekte sesat. Di bawah naungan pohon-pohon kelapa yang melambai ditiup angin laut, ketenangan yang telah lama hilang akhirnya kembali merajai rimba persilatan.
Hancurnya Pedang Teratai Hitam di tangan para pendekar pilihan bukan sekadar kemenangan fisik, melainkan titik balik bagi lenyapnya dendam kesumat yang berakar sejak puluhan tahun silam. Pecahnya bilah pusaka terkutuk itu menjadi abu seolah melepaskan kutukan gaib yang selama ini membelenggu jiwa para pengikutnya.
Di salah satu sudut halaman barak pengobatan darurat, seorang pemuda bertopeng besi hitam yang dulu menjadi momok menakutkan kini duduk bersila dengan kepala tertunduk. Topeng yang menutupi separuh wajahnya telah terlepas, memperlihatkan guratan penyesalan yang mendalam di wajah tirusnya. Ia tidak lagi menggenggam pedang haus darah. Sebagai gantinya, kedua tangannya yang kasar dengan telaten membalut luka para pendekar dan prajurit yang sempat menjadi korbannya.
"Minumlah air ini, Kiai," ucap pemuda itu lembut sambil menyodorkan mangkuk tanah liat kepada seorang sesepuh perguruan Sunda yang lengannya terluka sabetan senjata beracun.
Sesepuh itu menatap pemuda tersebut sejenak, lalu menerima mangkuk itu dengan senyuman tipis. "Terima kasih, anak muda. Pertobatan yang tulus jauh lebih bernilai daripada ribuan kali permohonan ampun di hadapan nisan."
Pemuda itu mengangguk pelan, air matanya menetes membasahi tanah berpasir. "Aku telah tersesat terlalu jauh dalam kebencian, Kiai. Kini, sisa hidupku hanya akan kuabdikan untuk merawat mereka yang pernah kulukai."
Beberapa langkah dari tempat mereka, Arka dan Tera berdiri berdampingan, mengawasi kedamaian yang perlahan merayap di pelabuhan tersebut. Angin pagi meniup jubah perjalanan mereka yang tampak kusam dan berdebu. Di belakang mereka, kedelapan sahabat setia—mulai dari para pendekar pedang hingga ahli pengobatan—berkumpul membawa ransel perbekalan. Perjalanan panjang melawan kezaliman akhirnya membuahkan hasil, dan rimba persilatan Sunda Kelapa kini bernapas dengan lega.
"Angin laut hari ini terasa sangat menyejukkan, Arka," bisik Tera sambil merapikan ikatan rambutnya yang tertiup angin. "Rasanya aneh menyadari bahwa pertempuran mengerikan itu kini benar-benar telah usai."
"Ketenangan ini adalah buah dari pengorbanan banyak orang, Tera," jawab Arka sambil menatap cakrawala timur. "Tapi perjalanan kita sebagai pengembara persilatan tidak pernah benar-benar berhenti di satu tempat saja."
❖ ❖ ❖
Suasana hangat di pelabuhan mendadak berubah ketika Arka teringat akan detik-detik terakhir sebelum pertempuran di gua bawah tanah berakhir beberapa waktu lalu. Ingatannya melayang pada sosok Tetua Braja—petinggi sekte musuh yang terkapar sekarat dengan napas tersengal-sengal di atas reruntuhan altar. Sebelum nyawanya melayang meninggalkan raga, tetua tua bungkuk itu sempat membisikkan sebuah rahasia besar yang membuat darah Arka berdesir hebat.
Arka mengalihkan pandangannya kepada Tera dan kedelapan sahabatnya yang kini mendekat. Wajah pemuda itu menyiratkan garis-garis kecemasan yang tertahan.
"Ada apa, Arka? Kenapa wajahmu tiba-tiba muram?" tanya Tera, menangkap perubahan raut muka sahabatnya dengan kepekaan yang tajam. "Bukankah semua urusan di Sunda Kelapa sudah beres? Kita seharusnya bisa beristirahat dengan tenang."
"Kita memang bisa bernapas lega di sini, Tera," ucap Arka pelan, namun suaranya terdengar tegas. "Tapi sebelum Tetua Braja mengembuskan napas terakhirnya di gua itu, ia meninggalkan sebuah pesan penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja."
"Pesan apa?" tanya salah seorang dari kedelapan sahabat mereka, seorang pendekar bertubuh tegap bernama Bayu yang memegang tongkat besi. "Apakah ada sisa-sisa anak buah sekte yang merencanakan pemberontakan baru di wilayah lain?"
"Bukan sekadar pemberontakan," jawab Arka serius. "Tetua Braja mengatakan bahwa puspa ajaib yang dikenal sebagai bunga penyembuh segala racun—pusaka legendaris yang mampu memulihkan jiwa dan raga yang telah tercemar ilmu hitam—kini tengah diperebutkan di dataran tinggi Jawa Timur. Tepatnya di Puncak Bromo."
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Kedelapan sahabat saling berpandangan dengan kening berkerut dalam. Nama Puncak Bromo bukanlah tempat sembarang. Pegunungan berapi yang diselimuti kabut abadi dan kawah aktif itu terkenal angker, dihuni oleh para pertapa sakti dan siluman penjaga alam yang jarang disentuh oleh manusia biasa.
"Puspa ajaib itu..." Tera tertegun, matanya membelalak kerdip. "Bukankah pusaka itu yang selama ini dicari oleh berbagai perguruan besar untuk menyembuhkan para pendekar yang kehilangan akal sehat akibat racun teratai hitam?"
"Benar," sahut Arka mengangguk. "Jika puspa itu jatuh ke tangan orang yang salah, sekte-sekte hitam baru akan bangkit kembali dengan kekuatan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi."
❖ ❖ ❖
Keputusan bulat telah diambil. Meskipun tubuh mereka masih letih akibat pertempuran panjang di Sunda Kelapa, Arka, Tera, dan kedelapan sahabatnya tidak memiliki pilihan selain segera berkemas menuju wilayah timur pulau Jawa. Perjalanan darat yang panjang, melintasi lembah, hutan belantara, dan sungai-sungai berarus deras, menanti di hadapan mereka.
Pagi menjelang siang, rombongan sepuluh pendekar itu meninggalkan gerbang pelabuhan Sunda Kelapa diiringi lambaian tangan dari para penduduk dan pemuda bertobat yang kini menjaga keamanan setempat. Langkah kaki mereka tegap, diiringi tekad baja untuk menegakkan keadilan di tanah Nusantara.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Rombongan Arka kini telah meninggalkan dataran rendah Pasundan dan mulai memasuki kawasan pegunungan Tengger di Jawa Timur. Udara tropis yang lembap perlahan-lahan berubah menjadi hawa dingin yang menusuk tulang. Pepohonan besar berdaun lebat berganti dengan hamparan padang rumput sabana kering dan kabut putih tebal yang turun menyelimuti jalan setapak berbatu vulkanik.