Perjalanan panjang menempuh jalur darat menuju wilayah Jawa Timur bukanlah hal yang mudah. Di sepanjang perjalanan, Arka, Tera, dan delapan sahabatnya menyaksikan betapa riuhnya dunia persilatan oleh desas-desus munculnya Puspa Teratai Salju, sebuah bunga ajaib yang hanya mekar seratus tahun sekali di puncak Gunung Bromo.
Debu jalanan berterbangan dihempas angin kemarau yang kering. Roda pedati berderit pelan, mengiringi langkah kaki kesepuluh pendekar muda yang memilih berjalan kaki demi meresapi denyut kehidupan rakyat jelata. Arka melangkah di barisan depan, jubah abu-abunya berkibar diterpa angin lembap dari Laut Jawa yang mulai terasa di kejauhan. Wajahnya tampak tenang, namun tatapan matanya menyiratkan kewaspadaan tingkat tinggi. Di sampingnya, Tera berjalan dengan ringan, sesekali memainkan belati perak di jemarinya—sebuah kebiasaan yang ia lakukan saat pikirannya sedang kusut.
"Kita sudah memasuki perbatasan wilayah timur, Arka," suara Tera memecah keheningan pagi. Napasnya terembus membentuk uap tipis karena udara pagi yang masih menggigit kulit. "Dari keramaian kedai teh di kota kabupaten kemarin hingga ke desa-desa terpencil ini, semua orang hanya membicarakan satu hal: Puspa Teratai Salju. Apakah legenda itu benar-benar nyata?"
Arka menoleh sekilas, tersenyum tipis menanggapi keraguan sahabatnya. "Legenda tetaplah legenda, Tera, sampai ada orang yang membuktikan kepalsuannya atau kebenarannya dengan mata kepala sendiri. Namun, antusiasme dunia persilatan kali ini berbeda. Ini bukan sekadar memperebutkan pusaka biasa atau kitab silat tingkat tinggi. Ini tentang umur panjang, menyembuhkan luka batin yang membusuk, atau bahkan mendobrak batas tenaga dalam yang telah mandek selama puluhan tahun."
Di belakang mereka, delapan sahabat lainnya—Bima, Saras, Bayu, Kirana, Danu, Laras, Rian, dan Tika—berjalan dalam kelompok kecil sambil membawa barang bawaan masing-masing. Bima, pemuda berbadan tegap dengan pedang besar tersampir di punggungnya, mendengus keras.
"Biar saja para tokoh tua dan perguruan besar itu saling bunuh memperebutkannya," seru Bima dengan suara basnya yang menggelegar. "Kita ke sana bukan untuk mencicipi khasiat bunga sialan itu. Kita hanya ingin melihat apakah benar para pendekar dari aliran sesat dan golongan putih akan melupakan permusuhan abadi mereka demi setangkai bunga di kawah berapi."
Saras, yang berjalan di sebelah Bima, mencolek lengan pemuda itu dengan ujung kipas besinya. "Jangan terlalu meremehkan, Bima. Kau dengar sendiri cerita pedagang kain di alun-alun kemarin? Konon, penjaga Gunung Bromo adalah makhluk bayangan yang tidak bisa disentuh pedang biasa. Sekali salah langkah, tulang-tulang kita akan memutih di pasir berbisik."
"Ah, cerita pedagang pasar memang selalu dibesar-besarkan agar dagangan mereka laku!" timpal Rian tertawa renyah. "Mereka bilang makhluk itu setinggi pohon kelapa dan bernapas api. Padahal, paling-paling itu cuma kabut tebal yang menipu mata orang-orang penakut."
Meski mereka tertawa dan mencoba mencairkan ketegangan, tidak ada satupun dari kesepuluh sahabat itu yang menganggap remeh perjalanan ini. Dunia persilatan sedang berada di ambang badai besar. Sejak matahari terbit dari ufuk timur, rombongan mereka telah berpapasan dengan tidak kurang dari lima kelompok pendekar berlainan aliran. Ada yang mengenakan jubah hitam bersulam benang emas dari Perguruan Bayangan Hitam, ada pula pendeta-pendeta Buddha dari Kuil Besi yang berjalan tanpa suara dengan tasbih raksasa di pergelangan tangan.
Suasana semakin riuh ketika mereka tiba di sebuah persimpangan jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon-pohon jati tua. Di bawah rindangnya daun-daun yang mulai menguning, sebuah warung bambu sederhana tampak dipenuhi oleh para pelancong dan pendekar yang kehausan. Aroma air seduhan teh poci bercampur bau keringat dan debu jalanan menguar di udara.
Tera menghentikan langkahnya. Tenggorokannya terasa kering seperti ampas tebu. "Arka, bagaimana kalau kita berhenti sejenak di warung itu? Mengisi kendi air dan mendengar angin apa yang sedang berhembus di kalangan para petualang."
Arka mengangguk memberi persetujuan. "Baiklah. Tapi ingat, jaga ucapan dan sikap kita. Jangan menarik perhatian yang tidak perlu. Kita adalah musafir biasa."
❖ ❖ ❖
Warung bambu itu mendadak menjadi sunyi senyap begitu kesepuluh anak muda tersebut melangkah masuk. Suara dentingan mangkuk keramik dan gelak tawa seketika terhenti. Puluhan pasang mata dari berbagai penjuru ruangan mengawasi gerak-gerik mereka dengan tatapan menyelidik, penuh curiga, bercampur rasa ingin tahu.
Di sudut ruangan, seorang lelaki paruh baya bertopi bambu lebar dengan bekas luka sayatan melintang di pipi kirinya meletakkan cangkir tehnya secara perlahan. Matanya menatap tajam ke arah pedang yang tergantung di pinggang Arka—sebuah pedang berbalut sarung kulit kusam tanpa hiasan mewah, namun memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
"Anak muda," suara lelaki berbekal luka itu serak bagaikan gesekan batu asahan. "Kalian berpakaian seperti musafir dari tanah barat, tetapi cara berjalan kalian tidak meninggalkan jejak di tanah berpasir ini. Kalian bukan orang sembarangan. Dari perguruan mana kalian berasal?"
Suasana warung semakin mencekam. Pemilik warung, seorang wanita tua bungkuk, segera menyembunyikan diri di balik tirai dapur, ketakutan melihat atmosfer yang tiba-tiba berubah mematikan.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menarik bangku kayu yang agak reot, lalu duduk dengan tenang sambil menuangkan air teh hangat ke dalam cangkir kecil. Gerakannya begitu halus tanpa suara, menunjukkan tingkat penguasaan ilmu ringan tubuh yang luar biasa tinggi.
"Paman keliru," jawab Arka dengan nada ramah namun tegas. "Kami hanyalah anak-anak muda desa yang ingin merantau melihat luasnya dunia, mencari pengalaman sebelum hari tua menjelang. Perguruan kami hanyalah padang rumput dan hutan belantara."
Lelaki berbekal luka itu mendengus dingin. Ia berdiri perlahan, postur tubuhnya tinggi besar dan kekar. Tangannya secara refleks memegang gagang golok besar yang melintang di punggungnya. "Anak muda zaman sekarang pandai merangkai kata untuk menyembunyikan identitas. Tapi kalian tidak bisa menyembunyikan bau darah dan latihan tenaga dalam yang pekat dari penciuman Sekutu Golongan Darah Hitam!"
Begitu nama golongan tersebut disebut, beberapa pendekar lain di warung itu langsung bergeser mundur, menjauh dari meja Arka seolah meja itu adalah sarang ular berbisa. Golongan Darah Hitam terkenal kejam, tidak kenal belas kasihan, dan gemar merampas harta serta ilmu silat orang lain di sepanjang jalur pendakian Gunung Bromo.
"Golongan Darah Hitam?" Tera mendesis pelan, tangannya bergerak mendekati belati perak di pinggangnya. Matanya menyipit tajam menatap lelaki berbekal luka itu. "Jika kalian mencari masalah, salah alamat sudah kalian datangi."
"Tahan, Tera," Arka menahan lengan sahabatnya dengan lembut namun bertenaga, membuat Tera tidak bisa mencabut senjatanya. Arka kembali menatap lelaki paruh baya di hadapannya dengan senyuman tipis. "Paman, kami sedang tidak ingin mencari musuh. Tujuan kami sama dengan kalian: melihat keindahan alam Gunung Bromo. Alangkah baiknya jika kita menikmati teh ini dalam kedamaian, bukan dalam genangan darah."
"Keparat sombong!" bentak lelaki itu geram karena merasa diremehkan. Golok besarnya terhunus dengan kilatan cahaya menyilaukan, menebas langsung ke arah meja tempat Arka duduk tanpa peringatan lebih lanjut.
Angin tajam hasil dari tebasan itu membelah udara, menerbangkan cangkir-cangkir teh dan memecahkan meja bambu berkeping-keping. Para pengunjung warung berteriak histeris, berlarian keluar menyelamatkan diri dari amukan pendekar aliran sesat tersebut.
Namun, di tengah kekacauan itu, Arka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Dengan satu sentakan jari telunjuk tangan kanannya, ia menyentil pinggiran cangkir teh yang sedang melayang di udara. Cangkir kecil itu melesat seperti meteor kecil, menghantam tepat di pergelangan tangan lelaki berbekal luka.
Plak!