Cahaya matahari pagi yang hangat dan menerobos celah-celah dedaunan pinus di lereng Gunung Lawu mendadak terasa hampa dan menusuk tulang. Angin yang berhembus lembut membawa aroma getah pinus, namun ketenangan alam itu langsung terkoyak oleh suara derap kuku kuda yang berlari tanpa henti, memecah kesunyian jalan setapak batu yang basah oleh embun.
Di sebuah balai peristirahatan sederhana, Arya dan beberapa saudara seperguruan dari Perguruan Bayu Senja sedang menikmati secangkir teh hangat. Mereka baru saja menyelesaikan latihan pernapasan pagi ketika suara gaduh itu terdengar semakin mendekat, disusul oleh suara ringkasan kuda yang kesakitan sebelum akhirnya terdengar bunyi debuman tubuh terjatuh di halaman depan.
"Ada yang datang dalam keadaan darurat!" seru Karta, salah satu murid senior, sambil segera melompat bangkit dan menghunus pedang di pinggangnya.
Arya mengikutinya dengan langkah cepat. Begitu mereka tiba di ambang pintu gerbang utama, pemandangan yang menyambut membuat darah mereka mendadak berdesir hebat. Seorang pemuda berpakaian seragam putih-biru khas murid utama Perguruan Teratai Agung terkapar di atas tanah berdebu. Pakaian kebesarannya robek di berbagai tempat, bernoda darah merah pekat yang telah menghitam di beberapa bagian luka menganga. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal dalam ritme yang terputus-putus, menandakan bahwa sisa-sisa tenaga dalamnya hampir habis sepenuhnya.
"Tolong... selamatkan... Perguruan..." gerak bibir pemuda itu nyaris tak terdengar, tenggelam oleh desau angin gunung.
Arya bergerak sigap. Tanpa membuang waktu, ia berlutut di samping pemuda itu, menyalurkan sedikit tenaga dalam melalui telapak tangannya ke punggung sang utusan untuk meredam rasa sakit dan menstabilkan aliran darahnya yang kacau.
"Tenanglah, kawan. Kau aman di sini. Minumlah ini lebih dulu," ucap Arya dengan suara yang tenang namun tegas, menyerahkan sebuah kendi kecil berisi air penyegar herbal kepada Karta agar bisa diberikan kepada korban.
Setelah meneguk sedikit air dengan susah payah, pemuda itu membuka matanya sedikit lebih lebar. Ada kilat kepedihan dan ketakutan yang mendalam di balik manik matanya yang sayu. Ia mencengkeram erat lengan baju Arya, seolah takut bahwa malaikat maut akan segera merenggut sisa usianya sebelum ia sempat menunaikan amanat terakhirnya.
"Aku... aku utusan dari Perguruan Teratai Agung..." bisik pemuda itu terbata-bata, batuk kecil mengeluarkan sedikit darah segar. "Guru Besar kami... Sang Guru Agung... kini tengah sekarat. Racun jahat telah merasuk ke dalam aliran darahnya."
Kabar itu menyebar bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi semua orang yang berdiri di halaman. Perguruan Teratai Agung dikenal sebagai salah satu pilar utama dunia persilatan Nusantara yang menjunjung tinggi kedamaian dan keadilan. Keberadaan Sang Guru Agung adalah benteng moral sekaligus penjaga keseimbangan tenaga dalam di tanah Jawa. Jika beliau jatuh, dunia persilatan dipastikan akan terjerumus ke dalam kekacauan besar.
"Racun apa yang telah merobohkan beliau? Bukankah tenaga dalam Sang Guru Agung sudah mencapai tingkat kesempurnaan?" tanya Karta dengan nada tidak percaya, keningnya berkerut dalam.
"Kaum hitam... Aliansi Bayangan Hitam dari pesisir selatan bergerak secara licik," jawab utusan itu dengan suara gemetar menahan sakit. "Mereka tidak bertarung secara terbuka. Mereka menyusup pada malam bulan purnama dan menggunakan Racun Seribu Jarum Hitam ciptaan Pendeta Tanpa Wajah. Racun itu merusak organ dalam secara perlahan, kebal terhadap penawar biasa."
Arya terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu betul reputasi Aliansi Bayangan Hitam. Mereka adalah sekumpulan pendekar sesat yang menghalalkan segala cara demi menguasai seluruh perguruan di Nusantara. Namun, serangan langsung hingga mampu melumpuhkan Sang Guru Agung membuktikan bahwa kekuatan kaum hitam telah berkembang pesat dan jauh lebih berbahaya dari perkiraan sebelumnya.
"Apakah tidak ada cara untuk menghentikan racun itu?" tanya Arya mendesak.
"Ada..." jawab sang utusan dengan sisa-sisa tenaga yang hampir padam. "Satu-satunya penawar di dunia ini yang sanggup melunturkan Racun Seribu Jarum Hitam adalah inti sari dari Bunga Teratai Salju. Bunga itu hanya tumbuh di kawah tertinggi Gunung Bromo, dijaga oleh alam yang ganas dan para penjaga gaib yang mematikan."
❖ ❖ ❖
Berita itu menyebar ke seluruh penjuru paviliun Perguruan Bayu Senja dalam hitungan menit. Para tetua segera mengadakan rapat darurat di ruang utama yang diterangi oleh temaram lampu minyak. Suasana terasa begitu pekat oleh kecemasan. Di satu sisi, menolak membantu Perguruan Teratai Agung berarti membiarkan dunia persilatan jatuh ke tangan kejahatan. Di sisi lain, perjalanan menuju kawah Gunung Bromo bukanlah tugas yang bisa dianggap remeh. Waktu yang dimiliki Sang Guru Agung sangat terbatas, sementara rintangan di hadapan mereka dipenuhi oleh maut.
"Kita tidak boleh tinggal diam," ujar Ki Demang, sesepuh tertua di Perguruan Bayu Senja, sambil mengelus janggut putihnya dengan tangan yang sedikit bergetar. "Namun, kita juga harus realistis. Perjalanan ke Bromo memakan waktu berhari-hari melalui jalur darat yang kini telah disusupi oleh mata-mata kaum hitam."
Arya berdiri di sudut ruangan, kedua tangannya bersidekap di dada. Pikirannya melayang pada kenangan masa lalu saat ia berguru langsung di bawah bimbingan Sang Guru Agung dalam sebuah forum persilatan antar perguruan beberapa tahun silam. Budi baik dan kebijaksanaan Sang Guru Agung terukir jelas di hatinya.
"Saya akan pergi," ucap Arya tegas, memecah perdebatan para tetua. Suaranya tidak terlalu tinggi, namun memiliki gaung ketulusan yang membuat seluruh isi ruangan langsung terdiam.
Ki Demang menatap Arya dengan pandangan menilai. "Arya, kau adalah murid paling berbakat di perguruan kita saat ini, tetapi tugas ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah misi bunuh diri. Aliansi Bayangan Hitam pasti telah menutup semua jalur utama menuju Bromo."
"Justru karena jalur utama berbahaya, kita membutuhkan seseorang yang mampu bergerak cepat dan membaca situasi secara cermat, Guru," balas Arya melangkah maju menundukkan kepala dengan hormat. "Jika kita membiarkan waktu berlalu begitu saja, racun itu akan mencapai jantung Sang Guru Agung, dan saat itu tidak ada lagi jalan kembali."
Karta, yang berdiri di samping Arya, segera mengangkat tangan. "Jika Arya pergi, aku ikut mendampinginya. Tidak mungkin aku membiarkan saudaraku berjalan sendirian menghadapi ribuan pendekar sesat di luar sana."
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dan alot, para tetua akhirnya memberikan restu. Namun, mereka memberikan satu syarat mutlak: perjalanan harus dilakukan secara rahasia, menghindari kota-kota besar, dan memanfaatkan jalur-jalur tikus di pegunungan timur.
Malam harinya, di bawah naungan langit tanpa bintang, Arya dan Karta bersiap di gerbang belakang perguruan. Mereka mengenakan pakaian penyamaran serba gelap, membawa bekal secukupnya, serta pedang pusaka yang terbungkus rapat kain tebal untuk menghindari pantulan cahaya bulan.
"Ingat, pesan terakhir utusan tadi," bisik Karta saat mereka mulai melangkah meninggalkan halaman perguruan. "Waktu kita tidak banyak. Sang Guru Agung hanya mampu bertahan paling lama sepuluh hari."
"Aku tahu," jawab Arya singkat, matanya menatap tajam ke arah timur, di mana siluet barisan pegunungan vulkanik membentang luas dalam kegelapan malam. "Kita harus bergerak tanpa henti."
Perjalanan dimulai dengan kecepatan tinggi. Keduanya mengerahkan ilmu meringankan tubuh, melompati dahan-dahan pohon dan meluncur di atas rerumputan basah bagaikan bayangan angin. Namun, belum genap separuh hari perjalanan, tanda-tanda kehadiran musuh mulai terlihat. Di sebuah persimpangan jalan setapak dekat Desa Wonosari, mereka menemukan beberapa bangkai burung merpati pos milik Perguruan Teratai Agung yang mati dengan panah beracun tertancap di tubuh kecilnya.
"Mereka sudah menguasai jalur ini," gumam Karta sambil berjongkok, memeriksa salah satu bangkai burung tersebut. "Artinya, jaringan informasi kaum hitam bekerja jauh lebih cepat dari perkiraan kita."
"Jangan sentuh terlalu lama, panah itu dilapisi racun pelumpuh," ujar Arya memperingatkan sambil menarik tangan Karta menjauh. "Kita harus keluar dari jalur utama sekarang juga. Masuk ke dalam Hutan Larangan."
❖ ❖ ❖