SERI 3: TERATAI MEKAR DI PUNCAK BROMO

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Teratai Salju Bromo yang Langka

Angin malam di lereng Gunung Bromo menderu bagai lolongan ribuan serigala kelaparan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di tengah pekatnya kegelapan yang hanya diterangi temaram cahaya rembulan sabit, puluhan obor menyala terang di tanah lapang dekat kaldera. Bayangan manusia bergerak liar di dinding-dinding tebing batu, menciptakan suasana tegang yang mencekam.

Bara api unggun yang mulai meredup di tengah perkemahan mendadak berderak keras ketika sesosok bayangan melesat ringan tanpa suara, mendarat di atas batu besar. Orang itu mengenakan jubah putih bersih yang berkibar megah diterpa angin gunung. Rambutnya yang telah memutih di bagian pelipis dibiarkan tergerai bebas, menambah wibawa wajahnya yang keras namun tenang.

"Kalian semua tidak perlu membuang nyawa percuma di tempat ini," suara Ki Ageng Suro Menggala menggelegar, membelah keheningan malam dan menggetarkan dada setiap pendekar yang mendengarnya.

Suasana perkemahan yang tadinya riuh oleh perdebatan sengit mendadak sunyi seketika. Puluhan pasang mata dari berbagai penjuru aliran persilatan, baik golongan putih maupun hitam, menengadah serentak. Mereka mengenali suara itu—suara seorang tokoh sepuh dari Perguruan Tapak Angin yang disegani sekaligus ditakuti di tanah Jawa.

Ki Senopati dari Perguruan Naga Hitam melangkah maju dari barisan kelompok aliran hitam. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang terlihat mengerikan di bawah cahaya obor. Matanya memancarkan nafsu membunuh yang sulit disembunyikan.

"Wah, wah, wah... Lihat siapa yang datang," ejek Ki Senopati dengan suara serak berat. "Tua-tua keladi, bukannya menikmati masa tua di pedepokan, Ki Ageng malah ikut-ikutan turun gunung untuk mencari mati di kawah Bromo."

Ki Ageng Suro Menggala sama sekali tidak terusik oleh provokasi tersebut. Wajahnya tetap dingin bagai es batu di puncak gunung. Matanya tajam menyapu satu per satu wajah para pendekar yang hadir.

"Aku datang bukan untuk mencari mati, Ki Senopati," jawab Ki Ageng tenang namun penuh penekanan. "Tetapi justru untuk memperingatkan kalian semua. Teratai Salju Bromo bukanlah bunga biasa yang bisa diperebutkan dengan pertumpahan darah begitu saja. Puspa sakral itu dijaga oleh kekuatan alam yang tidak main-main."

Dari barisan aliran putih, seorang wanita paruh baya berbusana serba ungu melangkah keluar. Dewi Ratih, pemimpin Perguruan Kembang Melati, menatap Ki Ageng dengan pandangan menyelidik.

"Peringatan yang mulia, Ki Ageng," ujar Dewi Ratih dengan nada menyindir. "Namun, semua orang di sini tahu rahasia besar tentang Teratai Salju Bromo. Bunga itu tidak hanya menjadi obat pemungkas segala racun mematikan di dunia, tetapi juga diyakini mampu meningkatkan tenaga dalam seseorang hingga dua kali lipat dalam semalam."

Dewi Ratih berhenti sejenak, membiarkan angin malam membawa kata-katanya agar terdengar jelas oleh seluruh pendekar yang berkumpul.

"Bagi kami yang telah puluhan tahun terjebak di tingkat tenaga dalam yang sama, puspa sakral itu adalah satu-satunya jalan untuk mencapai puncak kesempurnaan ilmu silat. Apakah Ki Ageng, yang ilmunya sudah tinggi, tega merampas impian kami?"

"Impian?" Ki Ageng mendengus pelan, sebuah senyum tipis yang penuh kepahitan tersungging di bibirnya. "Yang kalian sebut impian itu sebenarnya adalah gerbang neraka. Teratai Salju hanya mekar sekali setiap satu windu, tepat di bibir kawah aktif yang memuntahkan gas beracun. Belum lagi makhluk penjaga gaib yang menunggu di sana. Puluhan partai persilatan yang berbondong-bondong datang ke sini hanya sedang menggiring diri mereka sendiri ke dalam lubang kubur."

"Cukup omong kosongmu, Ki Ageng!" bentak seorang pendekar muda berbadan tegap dari Perguruan Macan Putih, tak sabar. "Kau hanya ingin memonopoli puspa sakral itu untuk perguruanmu sendiri!"

❖ ❖ ❖

Udara di sekitar perkemahan mendadak terasa semakin menipis seiring meningkatnya ketegangan. Tuduhan pendekar muda tadi bagaikan sepercik api yang jatuh ke atas tumpukan jerami kering. Bisik-bisik kemarahan mulai terdengar dari berbagai sudut kelompok persilatan.

Ki Ageng Suro Menggala menghela napas panjang. Tatapannya menerawang ke arah puncak gunung yang tertutup kabut tebal. "Jika kalian tidak percaya pada kata-kataku, silakan melangkah maju ke jalur pendakian sekarang juga. Tetapi ingat, matahari esok pagi tidak akan pernah terbit untuk kalian."

"Tantangan yang menarik!" geram Ki Senopati. Tanpa aba-aba, ia menghentakkan kakinya ke tanah, memicu ledakan kecil debu vulkanik di bawahnya. Tubuhnya melesat cepat ke udara, membelah kegelapan menuju jalur setapak yang mengarah langsung ke kawah Bromo.

Melihat ketua aliran hitam bergerak, puluhan pendekar dari berbagai kubu tidak mau ketinggalan. Mereka berteriak serempak, melepaskan tenaga dalam masing-masing untuk mempercepat langkah. Suasana berubah menjadi perlombaan maut yang penuh dengan persaingan kejam. Suara hantaman telapak tangan yang beradu dengan batu karang dan desingan angin akibat jurus-jurus tingkat tinggi mulai memecah kesunyian malam.

Ki Ageng Suro Menggala hanya bisa menggelengkan kepala melihat kebodohan massal tersebut. Ia menoleh ke arah dua orang murid mudanya yang berdiri setia di belakangnya.

"Gilang, Sekar," panggil Ki Ageng dengan suara rendah. "Bersiaplah. Kita harus menyusul mereka sebelum semuanya terlambat."

Gilang, pemuda berusia sembilan belas tahun dengan tatapan mata setajam elang, menganggukkan kepalanya mantap. Tangannya menggenggam erat hulu pedang pusaka warisan perguruan yang terselip di pinggangnya.

"Baik, Guru. Hati nurani saya merasa tidak tenang melihat begitu banyak pendekar yang berjalan menuju kematian mereka sendiri," jawab Gilang dengan nada prihatin.

Di sampingnya, Sekar—gadis berambut panjang yang terikat rapi dengan ketangkasan tangan yang luar biasa dalam memainkan jarum racun—merapatkan jubahnya. "Aliran hitam pasti akan menghalalkan segala cara di atas sana, Guru. Kita harus bergerak cepat."

Ketiganya segera bergerak, melompat dari satu tebing batu ke tebing batu lainnya dengan gerakan yang begitu ringan bagai kapas diterpa angin. Ilmu meringankan tubuh mereka sudah mencapai tingkat yang sulit ditandingi oleh kebanyakan pendekar biasa.

Sementara itu, di jalur pendakian yang curam dan berpasir, rombongan pertama telah mencapai batas vegetasi. Di tempat itu, bau belerang mulai tercium sangat menyengat, membuat pernapasan terasa sesak.

"Berhenti!" seru Ki Senopati, mengangkat tangan kanannya untuk memberi aba-aba kepada anak buahnya.

Di hadapan mereka, jalan setapak terputus oleh sebuah jurang terjal yang tertutup kabut putih pekat. Di seberang jurang, tampak sebuah dinding tebing curam tempat Teratai Salju Bromo seharusnya tumbuh berpendar memancarkan cahaya keperakan yang indah.

Namun, keindahan cahaya bunga itu langsung tertutup oleh pemandangan mengerikan yang ada di sekitar tempat tersebut. Puluhan kerangka manusia berserakan di atas bebatuan, sebagian besar masih mengenakan pakaian kebesaran berbagai perguruan silat dari masa lalu.

"Itu... itu kerangka para pendekar yang datang pada windu sebelumnya," bisik seorang anggota Perguruan Naga Hitam dengan suara bergetar ketakutan.

Lihat selengkapnya